Penguatan IHSG Hanya Jangka Pendek

Pasca mengalami kenaikan setelah merespon data-data makro ekonomi Indonesia, tampaknya laju IHSG kurang bergairah yang terlihat sejak awal sesi terus menunjukkan pelemahannya.Menurut Kepala riset Trust Securities Reza Priyambada menyebutkan sentimen dari makro ekonomi terlihat hanya sesaat dan pelaku pasar kembali pada realita dimana kembali wait and see terhadap rilis RDG BI dan FOMC. Padahal pelemahan IHSG terjadi saat laju Rupiah sedang bergerak menguat. Di sisi lain, laju bursa saham Asia yang memerah terimbas pelemahan bursa saham AS sebelumnya membuat IHSG terperangkap dalam aura negatif sehingga terpaksa berbalik melemah.

Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4320,06 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4269,35 (level terendahnya) jelang akhir sesi 1 dan berakhir di level 4288,76. Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan penurunan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.

Sementara itu, laju Rupiah berhasil bertahan menguat karena masih ada respon pelaku pasar terhadap rilis data-data makro ekonomi yang dikeluarkan BPS sehari sebelumnya. Akan tetapi, penguatan yang terjadi mulai terbatas dengan kembalinya sentimen tappering off yang membuat laju dolar AS kembali meningkat.

Dia menyebutkan mulai adanya spekulasi akan meningkatnya kebutuhan US$ jelang akhir tahun. Laju Rupiah dapat bertahan di atas target support Rp11978. Rp11910-11810 (kurs tengah BI). Sementara, kembalinya sentimen tappering off yang kemungkinan mulai diberlakukan pada bulan ini telah membuat laju bursa saham Asia masih mendekam di zona merahnya.

Apalagi dengan dirilisnya markit manufacturing PMI AS yang naik sebesar 54,7T vs 51,8 dan kenaikan ISM manufacturing index senilai 57,3 vs 56,4 membuat spekulasi akan terjadinya tappering off kian besar. Rendahnya rilis retail sales Australia dan nonmanufacturing PMI China yang dibarengi dengan semakin defisitnya current accountnya Australia turut memberikan sentimen negatif.

Pada bursa saham Eropa kurang lebih hampir sama seperti pekan sebelumnya yang masih dalam tren pelemahannya. Adanya rilis penurunan markit manufacturing Spanyol dan Perancis turut menopang pelemahan yang terjadi. Sebaliknya, rilis markit manufacturing zona Euro, Inggris, dan Jerman yang naik belum dapat mengimbangi aksi jual yang terjadi karena dibarengi dengan downgrade dari beberapa emiten.

Sementara pada bursa saham AS kembali dilanda aksi profit taking melanjutkan pergerakan di akhir pekan sebelumnya setelah libur Thanksgiving. Tetapi, rilis penilaian belanja konsumen saat libur Thanksgiving yang masih di bawah ekspektasi membuat saham-saham ritel dilanda aksi jual namun, tidak terjadi pada ritel electronik.

Pada perdagangan Rabu (4/12) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4250-4275 dan resistance 4295-4325. Laju IHSG sempat berada dalam kisaran target support (4250-4285) seiring kembalinya aksi jual yang terjadi. Meski berharap akan terjadinya rebound namun, belum tertutupinya gap 4256-4265 dimungkinkan membuat laju IHSG kembali melemah terbatas.

Pertimbangan saham-saham AISA Spt1400-1450 Rst1500-1510|Hanging man. RSI upreversal|Trd buy selama up1460, SMCB Spt2300-2350 Rst2450-2475|Inverted hammer di bawah MBB|Trd buy selama up2350, UNVR Spt25850-2600 Rst27000-27250|Separating line di area oversold|BoW if below25950, LPCK Spt4925-5050 Rst5250-5350|Hammer di atas MBB|Trd buy selama up5100.

Saham-saham lainnyaMYRX 480-550|Trd buy selama up510, AKRA 4725-4900|Trd buy selama up4800, MAPI 5200-5550|Trd sell jika 5350 gagal bertahan, SUGI 440-485|Trd buys selama up455, TOTL 580-660|Trd buy selama up610. (nurul)

Related posts