Belum Bergairah, IHSG Rawan Terkoreksi

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Selasa sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 33,213 poin (0,77%) ke level 4.288,764. Sementara Indeks LQ45 berkurang 5,665 poin (0,79%) ke level 714,084. Aksi ambil untung menjadi pemicu melemahnya indeks BEI lantaran posisi IHSG Senin awal pekan kemarin naik cukup tinggi.

Kata analis PT Anugerah Sekurindo Indah, Bertoni Rio, faktor teknikal membawa indeks BEI ditutup melemah, “Pelemahan indeks BEI pada Selasa merupakan koreksi yang "sehat" setelah mengalami lonjakan kenaikan cukup signifikan pada perdagangan kemarin,”ujarnya di Jakarta, Selasa (3/12).

Dia menambahkan, potensi indeks BEI untuk kembali menguat masih terbuka meski dibayangi pergerakan nilai tukar rupiah yang cenderung kembali terdepresiasi. Dia menuturkan, rupiah bisa tertekan dipicu dari isu pengurangan stimulus (tappering oof) the Fed yang kembali mencuat.

Lanjutnya, tekanan yang terjadi di bursa Eropa dan mayoritas bursa Asia juga dapat mendorong pelaku pasar saham di dalam negeri mengambil langkah antisipatif dengan melepas portofolio sahamnya. Karena itu, dirinya memproyeksikan bahwa indeks BEI Rabu (4/12) akan bergerak di kisaran 4.260-4.320 poin.

Sementara itu, analis HD Capital Yuganur Wijanarko mengatakan bahwa pelaku pasar disarankan untuk mengamati secara detail pergerakan bursa Dow Jones dan nilai tukar rupiah, hal itu akan menjadi faktor penentu arah IHSG pada pekan ini, “Bila koreksi bursa Dow Jones dan pelemahan rupiah berlanjut maka IHSG akan sulit melanjutkan penguatan,”tandasnya.

Perdagangan kemarin, aksi jual banyak dilakukan investor domestik, tapi asing juga tak mau ketinggalan. Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 54,49 miliar di pasar reguler dan negosiasi. Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi hanya sebanyak 117.705 kali pada volume 4,204 miliar lembar saham senilai Rp 3,768 triliun. Sebanyak 84 saham naik, sisanya 157 saham turun, dan 94 saham stagnan.

Rata-rata bursa regional menutup perdagangan di zona hijau. Rentang pergerakannya masih sempit karena tidak ada katalis yang bisa jadi penggerak bursa Asia. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Merck (MERK) naik Rp 4.000 ke Rp 182.000, Taisho (SQBI) naik Rp 1.000 ke Rp 304.000, Multi Prima (LPIN) naik Rp 775 ke Rp 4.875, dan Gudang Garam (GGRM) naik Rp 550 ke Rp 39.350.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Unilever (UNVR) turun Rp 800 ke Rp 26.250, Duta Pertiwi (DUTI) turun Rp 575 ke Rp 3.925, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 300 ke Rp 11.700, dan Ultrajaya (ULTJ) turun Rp 175 ke Rp 4.275.

Perdagangan sesi I, indeks BEI juga ditutup melemah 32,165 poin (0,74%) ke level 4.289,812. Sementara Indeks LQ45 terpangkas 6,369 poin (0,88%) ke level 713,380. Tak ada lagi indeks sektoral yang masih mampu bertahan positif. Aksi jual menghajar cukup keras, membuat seluruh indeks sektoral kena koreksi. Saham-saham konsumer memimpin pelemahan.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi hanya sebanyak 67.801 kali pada volume 2,107 miliar lembar saham senilai Rp 2,043 triliun. Sebanyak 67 saham naik, sisanya 150 saham turun, dan 85 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia masih bergerak variatif hingga sesi pertama. Pelaku pasar regional masih menanti adanya katalis positif yang bisa jadi penggerak pasar.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Mayora (MYOR) naik Rp 650 ke Rp 28.650, Astra Agro (AALI) naik Rp 200 ke Rp 22.650, J Resources (PSAB) naik Rp 175 ke Rp 2.600, dan Golden Eagle (SMMT) naik Rp 150 ke Rp 5.850. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Unilever (UNVR) turun Rp 600 ke Rp 26.450, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 250 ke Rp 11.750, Indocement (INTP) turun Rp 200 ke Rp 19.000, dan Tempo Scan (TCPS) turun Rp 175 ke Rp 3.200.

Koreksi indeks BEI juga terjadi diawal perdagangan. Dimana indeks BEI dibuka turun 3,63 poin atau 0,08% menjadi 4.318,34. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,93 poin (0,13%) ke level 718,82. Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, indeks BEI kembali bergerak melemah setelah penguatan cukup signifikan pada perdagangan saham kemarin,”Data inflasi dan neraca perdagangan dirilis kemarin cukup positif sehingga mendorong indeks BEI meningkat cukup kuat, namun setelah penguatan itu dapat dijadikan alasan oleh investor untuk melakukan ambil untung sehingga membuat indeks BEI melemah," kata Reza.

Dia menambahkan, posisi bursa Asia yang bervariasi dengan kecenderungan melemah menambah sentimen negatif bagi indeks BEI. Terpantau, Bursa Asia diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 172,87 poin (0,72%) ke level 23.865,68, indeks Nikkei-225 naik 64,63 poin (0,41%) ke level 15.721,65, dan Straits Times melemah 1,98 poin (0,04%) ke posisi 3.187,64.

Reza mengharapkan bahwa nilai tukar domestik yang cenderung sudah mulai stabil dapat menahan tekanan bagi indeks BEI sehingga dapat melanjutkan penguatan kembali."Diharapkan sentimen dari data ekonomi Indonesia serta rupiah yang stabil dapat terjaga," kata dia. (bani)

Related posts