Ekonomi Indonesia 2014, Akankah Membaik?

Oleh: Muhammad Habibilah

Peneliti Indef

Rekam jejak ekonomi Indonesia selama 2013 mencatat bahwa instabilitas di sektor moneter merupakan isu yang paling populer. Bersumber dari tekanan inflasi hingga menyentuh angka 8,37% (yoy) per Oktober serta terjadinya gejolak nilai tukar akibat defisit transaksi berjalan. Penyebab utama gejolak harga dan pelemahan Rupiah berakar dari sektor riil.

Rupiah yang sempat tembus angka Rp12.000 meski pada awal pekan ini bangkit mencapai angka Rp11.770/USD, hanya menguat 195 poin dibanding pada penutupan akhir pekan lalu di level Rp11.965/USD. Sedangkan defisit neraca perdagangan mengalami penurunan kinerja yang menjalar pada defisit transaksi berjalan dan neraca pembayaran. Terlihat dari ekspor bahan primer yang sangat bergantung pada harga komoditas internasional, impor minyak yang tidak dapat berkurang karena konsumsi BBM terus meningkat dan penyediaan energi alternatif yang berjalan sangat lamban.

Memang, pemerintah memiliki amunisi dalam menghadapi serangan ekonomi dari sisi internal maupun eksternal, salah satunya dengan mengeluarkan paket kebijakan ekonomi empat jilid. Sebagai evaluasi, berkaca dari paket kebijakan pertama yang telah diluncurkan dengan fokus pada pengetaan fiskal sekaligus moneter, terlihat terlihat tidak efektif. Poin-poin yang diutamakan dalam paket kebijakan pertama masih kurang strategis.

Hal ini tercermin dari defisit transaksi berjalan dan defisit anggaran yang masih berlanjut akibat BBM bersubsidi. Di sisi lain, tren pertumbuhan ekonomi Indonesia juga mengalami penurunan. Jika pada tiga bulan pertama pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 6,03%, maka pada triwulan dua dan tiga pertumbuhan ekonomi harus terkoreksi masing–masing sebesar 5,81% dan 5,62%, jauh dari target pemerintah pada APBN-P 2013 sebesar 6,3%.

Meski masih ada paket kebijakan ekonomi jilid II dengan tujuan untuk mengurangi current account defisit/defisit transaksi berjalan dan menumbuhkan iklim investasi di Indonesia, hal ini juga tidak akan efektif jika kondisi fiskal yang saat ini masih rapuh tidak mendapat suplemen yang cukup dalam menghadapi serangan gejolak perekonomian.

Diperlukan adanya strategi khusus dalam menopang guncangan ekonomi yang mulai menggerogoti fundamental perekonomian Indonesia. Diantaranya dengan menerapkan kebijakan yang bertujuan untuk memperkuat sektor domestik dan daya saing barang manufaktur serta fokus untuk mendorong ekspor. Apalagi ditahun depan, kondisi ketidakpastian global masih menjadi tantangan yang harus dihadapi Indonesia.

Melihat kondisi yang terjadi selama tahun 2013 dengan berbagai permasalahan yang akan berlanjut di tahun depan, rasanya akan sulit bagi pemerintah untuk menatap 2014 yang lebih baik jika tidak ada upaya konkret untuk mengatasi masalah fundamental yang menimpa perekonomian Indonesia.

BERITA TERKAIT

Presiden Serahkan SK Perhutanan Sosial di Jabar - Menteri LHK: Perhutanan Sosial untuk Pemerataan Ekonomi dan Mengurangi Angka Kemiskinan

Presiden Serahkan SK Perhutanan Sosial di Jabar Menteri LHK: Perhutanan Sosial untuk Pemerataan Ekonomi dan Mengurangi Angka Kemiskinan NERACA Jakarta…

Menko PMK - Bansos Harus Mampu Ciptakan Kemandirian Ekonomi

Puan Maharani Menko PMK Bansos Harus Mampu Ciptakan Kemandirian Ekonomi Jakarta - Menko PMK Puan Maharani menegaskan bahwa bantuan sosial…

Pemerintah Terus Pacu Industri Nasional Berdaya Saing Global - 4 Pilar Utama Bikin Indonesia Hebat

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan ada empat pilar utama yang akan membawa Indonesia mengalami lompatan jauh dengan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Politik dan Ekonomi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Drama politik ekonomi semakin dipertontonkan para elite politik…

Hijrah Fest 2018, Buka Wawasan Umat

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah  Mungkin sudah berkali-kali event pameran atau expo yang diselenggarakan oleh organisasi  Islam selalu…

Impor Jagung dan Klaim Surplusnya

  Oleh:  Nailul Huda Peneliti INDEF  Masalah pangan sepertinya tidak pernah habis permasalahannya. Begitu kasus impor beras yang tidak ada…