DKI Jakarta Terkena Inflasi 0,14% - Kenaikan Harga Kelompok Perumahan

NERACA

Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat bahwa wilayahnya mengalami inflasi sebesar 0,14% pada November 2013 sehingga laju inflasi akumulatif Januari-November 2013 sebesar 7,16% dan inflasi tahun ke tahun 7,76%.

Berdasarkan keterangan BPS DKI Jakarta melalui laman resminya di Jakarta, Selasa (3/12), menyebutkan inflasi yang terjadi pada November 2013 disebabkan naiknya harga pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar. Enam kelompok mengalami kenaikan indeks yaitu kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,64%; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,26%; kelompok sandang 0,17%; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,09%.

Selain itu kelompok kesehatan 0,06%; dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,01%. Sedangkan satu kelompok mengalami penurunan indeks yaitu kelompok bahan makanan 0,51%. Sebelumnya pada Oktober 2013, DKI Jakarta mengalami deflasi sebesar 0,21% sehingga laju inflasi Januari-Oktober 2013 sebesar 7,01% dan inflasi tahun ke tahun 7,76%.

Deflasi yang terjadi pada Oktober disebabkan turunnya harga-harga pada kelompok sandang dan bahan makanan. Dua kelompok mengalami penurunan indeks yaitu kelompok sandang 0,77%; dan kelompok bahan makanan 0,64%. Empat kelompok mengalami kenaikan indeks yaitu kelompok kesehatan 0,48%; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,29%; kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,21%; dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,19%.

Sedangkan satu kelompok lainnya tidak mengalami perubahan indeks yaitu kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga. BPS Provinsi DKI Jakarta juga melaporkan hasil Sensus Pertanian 2013 di mana jumlah rumah tangga usaha pertanian tahun 2013 sebanyak 12.287 rumah tangga. Jumlah itu terdiri atas subsektor tanaman pangan 1.301 rumah tangga, hortikultura 5.018 rumah tangga, perkebunan 95 rumah tangga, peternakan 3.637 rumah tangga, perikanan 4.456 rumah tangga, dan kehutanan 98 rumah tangga.

Sementara itu jumlah rumah tangga pertanian pengguna lahan 9.515 rumah tangga atau 77,44% dari total rumah tangga usaha pertanian di DKI Jakarta. Sedangkan jumlah rumah tangga petani gurem (lahan garapan kurang dari 0,5 hektar)tahun 2013 sebanyak 8.611 rumah tangga atau sebesar 90,50% dari rumah tangga pertanian pengguna lahan. Jumlah tersebut mengalami penurunan sebanyak 36.817 rumah tangga atau turun 81,04% dibandingkan hasil Sensus Pertanian Tahun 2003 sebanyak 45.428 rumah tangga. [ardi]

BERITA TERKAIT

Urban Jakarta Bidik Penjualan Rp 240 Miliar - Harga IPO Rp 1000-1250 Per Saham

NERACA Jakarta – Tren pengembangan proyek properti berbasis transit oriented development (TOD) cukup menjanjikan kedepannya, apalagi pembangunan LRT yang digarap…

Tol Trans Jawa, Jakarta-Surabaya Ditempuh 10 Jam

    NERACA   Surabaya - Waktu tempuh antara Jakarta ke Surabaya yang berjarak 760 kilometer dapat ditempuh paling lama…

Pasokan Pangan jadi Kunci Keberhasilan Jaga Inflasi

    NERACA   Jakarta - Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus melakukan upaya-upaya menjaga angka inflasi agar sesuai target.…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Jakarta Dinilai Butuh Kota Penyangga Seperti Meikarta - Kurangi Beban Perkotaan

    NERACA   Jakarta - DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi Indonesia dinilai sangat membutuhkan daerah-daerah penyangga…

SDM Jadi Perhatian Pemerintah - Alokasi Anggaran untuk Pendidikan dan Kesehatan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah akan memperhatikan secara serius kualitas sumber…

Advance Relax & Go Hadir Di Bandara Soekarno Hatta

    NERACA   Jakarta - Setelah sukses mengejutkan penumpang kereta api dengan kemunculan fasilitas kursi pijat elektroniknya di stasiun…