Indonesia Mustahil Unggul Bersaing dalam MEA - DEFSIT PERDAGANGAN NON MIGAS TEMBUS US$10,5 JUTA

NERACA

Jakarta – Kalangan praktisi menyebut, Indonesia mustahil mampu bersaing dengan negara tetangga dalam ajang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang bakal berlangsung pada 2015 mendatang. Hal itu diungkapkan Direktur Eksekutif Indonesia for Global justice (IGJ), Riza Damanik, ketika mengomentari rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan defisit perdagangan non migas Indonesia terhadap negara-negara ASEAN pada Oktober 2013 menembus US$10,5 juta.

Laporan BPS tersebut, kata Riza, sekaligus memperlihatkan bahwa pemerintah telah gagal dalam mengelola perdagangan non migas. “Melihat kondisi perekonomian Indonesia yang sudah dilaporkan ini, maka mustahil bagi Indonesia untuk bersaing dengan negara ASEAN lainnya,” ujarnya kepada Neraca, Senin (2/12).

Menurut dia, data defisit perdagangan tersebut memperlihatkan Indonesia akan kalah bersaing dengan negara-negara ASEAN. Riza pun menjelaskan seharusnya Indonesia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi persaingan dalam MEA sehingga dapat menjadi kekuatan yang diperhitungkan oleh negara ASEAN lainnya.

Indonesia janganlah hanya menjadi suatu market atau pasar saja bagi negara-negara ASEAN lainnya, namun harus menjadi suatu kekuatan ekonomi di kawasan ASEAN. “Indonesia merupakan salah satu penggagas berdirinya Asean, oleh karenanya, Indonesia harus menjadi kekuatan ekonomi yang besar di kawasan ASEAN, ” tutur dia.

Kemudian dia menambahkan Indonesia harus memperbaiki defisit neraca perdagangan sehingga pertumbuhan ekonomi akan bisa menopang dalam bersaing di MEA. Indonesia mempunyai potensi pasar ekonomi sehingga harus diperkuat sektor neraca perdagangannya. “Pemerintah Indonesia harus mempunyai kebijakan yang tepat dalam mengatasi defisit neraca perdagangan dan juga mengatasi perlambatan perekonomian sehingga menjadi benteng dalam persaingan di MEA,” tambah Riza.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Indef Prof Dr Ahmad Erani Yustika mengungkapkan kalau Indonesia ini memang tidak siap menghadapi menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 nanti. "Dari data yang dilansir BPS, kalau saat ini kita mengalami defisit neraca perdagangan terhadap negara ASEAN sudah sangat jelas kalau pemerintah tidak bekerja dan melakukan pembohongan publik terhadap masyarakat, kalau mengatakan Indonesia siap menghadapi MEA nanti," tegas Erani.

Lebih lanjut Erani mengatakan Indonesia hanya akan dijadikan sebagai pasar produk impor dari negara-negara tetangga. Karena itu, sebaiknya pemerintah mengurungkan niatnya gabung ke MEA. Dia meyakini, MEA hanya akan menguntungkan Singapura karena memiliki struktur industri dan perdagangan yang baik.

Seperti diketahui, BPS melaporkan perdagangan non migas Indonesia terhadap negara-negara ASEAN pada Oktober 2013 ini mengalami defisit senilai US$10,5 juta. “Perubahan Oktober 2013 terhadap September 2013 Indonesia mengalami penurunan ekspor senilai US$10,5 juta terhadap negara-negara ASEAN. Begitu juga jika melihat perbandingan Januari hingga Oktober 2013 yang baru mencapai US$25,157 juta sedangkan pada periode yang sama 2012 sudah mencapai US$25,773 juta. Artinya ada penurunan sebanyak US$616 ribu secara year on year,” kata Ketua BPS Suryamin di kantornya, Senin.

Secara rinci perdagangan Indonesia terhadap Singapura pada periode Oktober 2013 mengalami penurunan sebanyak US$77,5 juta. Pasalnya pada Oktober ini Indonesia baru mampu menjual komoditas dalam negeri kepada Singapura senilai US$756 juta. Padahal pada September 2013 mampu mencapai US$833,5 juta.

“Tapi kalau melihat periode Januari hingga Oktober 2013, Indonesia mampu mendapat devisa ekspor hingga US$8.673 juta terhadap Singapura. Padahal pada periode yang sama di tahun 2012 baru mencapai US$8.486,1 juta,” tutur Suryamin.

Kemudian tak jauh beda dengan neraca perdangan ekspor terhadap Malaysia. Jika dilihat perbandingan antara Oktober 2013 dengan September 2013, nilai ekspor dalam negeri mengalami surplus sebanyak US$23,6 juta. Pasalnya pada Oktober 2013 nilai ekspor ke Malaysia mampu menembus US$600,2 juta. Sedangkan pada September 2013 baru mencapai US$576,6 juta.

“Namun jika melihat perbandingan antara Januari hingga Oktober 2013 terhadap periode yang sama di tahun 2012, perdagangan ekspor dengan Malaysia mengalami penurunan. Pada periode tersebut di tahun 2012 ekspor mampu mencapai US$7.147,3. Sedangkan di tahun 2013 baru mencapai US$6.108 juta. Artinya ada selisih penurunan sebanyak US$1.039,3 juta,” terang Suryamin.

Begitu juga dengan Thailand, ekspor non migas pada Oktober 2013 mengalami penurunan menjadi US$429,2 juta. Padahal pada September 2013 sudah mencapai US$439 juta. Artinya ada selisih penurunan sebanyak US$9,8 juta.

“Bila melihat periode Januari hingga Oktober 2013, perdangan ekspor dalam negeri terhadap Thailand baru mencapai US$4.418,8 juta. Sedangkan pada periode yang sama di tahun 2012 sudah mencapai US$4.575 juta. Artinya secara year on year ada selisih penurunan sebanyak US$156,2 juta,” tutur Suryamin.

Related posts