Inflasi November Sebesar 0,12% - Didominasi Harga Kebutuhan Perumahan

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi November 2013 mencapai 0,12%. Angka ini menunjukan peningkatan sebanyak 4,80% di banding inflasi periode yang sama pada tahun 2012. Inflasi kali ini paling dominan disumbang oleh meningkatnya harga-harga kebutuhan perumahan.

Dia menjelaskan, inflasi November terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan pada beberapa indeks kelompok pengeluaran. Kelompok perumahan, listrik, air, gas dan bahan bakar menyumbang paling tinggi sebesar 0,68%. Disusul kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik sebesar 0,27%. Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,11%. Kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan naik sebesar 0,02%.

“Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada November 2013 diantaranya, tarif listrik, bawang merah, jeruk, tarif sewa rumah, beras, mie kering instan, bayam, apel, minyak goreng, nasi dengan lauk, rokok kretek, rokok kretek filter, tarif kontrak rumah, upah tukang bukan mandor, dan bahan bakar rumah tangga. Pada subkelompok bahan makanan yang terkena inflasi paling tinggi diantaranya, lemak dan minyak sebesar 1,17%,” terang Kepala BPS Suryamin di Jakarta, Senin (2/12).

Dia mengatakan, dari 66 kota yang diamati BPS, 38 kota di antaranya mengalami inflasi. Inflasi paling tinggi terjadi di Maumuere sebanyak 1,54%. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Sibolga dan Mataram, masing-masing meningkat sebanyak 0,04%. Dengan kenaikan IHK antara 164,61 hingga 153,66.

“Perkembangan harga berbagai komoditas bulan November 2013 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pantauan BPS di 66 kota bulan November 2013 terjadi inflasi sebanyak 0,12% atau terjadi kenaikan IHK (Indeks Harga Konsumen) dari 145,87 bulan Oktober 2013 menjadi 146,04 di bulan November 2013,” katanya.

Kemudian Suryamin menerangkan, tingkat inflasi tahun kalender Januari-November 2013 menjadi 7,79%. Lalu jika dibandingkan inflasi November 2013 dengan November 2012 (year on year/yoy) inflasi kali ini menunjukan peningkatan sebanyak 8,37%. “Namun jika dibandingkan dengan Oktober 2013, inflasi November 2013 mengalami inflasi sebanyak 0,20%,” tambahnya.

Meski begitu ada kejadian deflasi di pada 22 kota tersebut. Deflasi paling tinggi terjadi di Sorong sebesar 1,29% dengan IHK 163,95. Sedangkankan deflasi terendah terjadi di Bengkulu sebesar 0,02% dengan IHK 155,96.

“Komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi antara lain daging ayam ras 0,10%, cabai rawit 0,05%, telur ayam ras 0,03%, cabai merah 0,02%, ikan segar, kentang, ketimun, cabai hijau, yomat sayur, dan bawang putih masing-masing 0,01%. Juga perlu diketahui deflasi paling tinggi terjadi pada subkelompok daging sebanyak 3,11%. Sedangkan deflasi terendah terjadi pada subkelompok ikan diawetkan sebanyak 0,02%,” kata Suryamin. [lulus]

Related posts