Jumlah Petani Gurem Turun 25,07% - Periode 2003-2013

NERACA

Jakarta - Jumlah rumah tangga petani gurem (lahan tak lebih dari 0,5 hektar) tahun 2013 turun sebanyak 25,07% sejak 2003, atau rentang 10 tahun. Pasalnya, banyak dari petani gurem beralih menjual atau menyewakan tanahnya bahkan beralih profesi. Sehingga keberadaan petani gurem di Indonesia tinggal 14,25 juta.

“Jumlah RT (rumah tangga) petani gurem tahun 2013 tinggal 14,25 juta. Angka ini menunjukan penurunan sebanyak 4,77 juta rumah tangga atau sebantaj 25,07% jika dibandingkan keberadaannya di tahun 2013. Waktu itu jumlahnya masih mencapai sekitar 19,02 juta,” kata Ketua Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin dalam konfrensi pers di Jakarta, Senin (2/12).

Dia menjelaskan, keberadaan petani gurem saat ini tinggal sebesar 55,33% dari total keberadaan rumah tangga pertanian pengguna lahan. “Selain petani gurem masih ada petani yang punya lahan lebih dari satu hektar. Jumlahnya sekarang sebanyak 26,14 juta rumah tangga atau sebesar 44,67%,” tambahnya.

Lebih lanjut Suryamin mengungkapkan, komposisi keberadaan petani gurem saat ini masih didominasi Pulau Jawa dengan jumlah menacapi 10,18 juta rumah tangga. Kemudian disusul Pulau Sumatera sebanyak 1,81 juta rumah tangga. Serta Pulau Bali dan Nusa Tenggara masing-masing sebanyak 0,9 juta rumah tangga.

“Sementara provinsi dengan jumlah petani gurem terbesar pada tahun 2013 ada di Provinsi Jawa Timur sebanyak 3,76 juta rumah tangga. Namun komposisi rumah tangga petani gurem terkecil ada di Pulau Kalimantan sebanyak 0,26 juta rumah tangga. Bahkan di Provinsi Kalimantan Utara jumlah petani gurem hanya mencapai 6,34 ribu rumah tangga,” tutur Suryamin.

Mengenai penurunan, Suryamin menerangkan pada 2003 jumlah rumah tangga petani gurem di Indonesia masih mencapai 19,02 juta rumah tangga sedangkan sekarang tinggal 14,25 juta rumah tangga. Penurunan paling besar absolute terjadi di Provinsi Jawa Tengah yang mencapai 1,32 juta rumah tangga. Namun jika ditinjau secara porsentase penurunan jumlah rumah tangga petani gurem terbesar di DKI Jakarta sebanyak 81,04%.

“Banyak dari rumah tangga petani gurem yang meninggalkan pertaniannya karena pada akhirnya lahan milik mereka dijual atau disewakan. Namun ada juga yang mengaku alih profesi jadi pekerja di perkotaan,” ungkap Suryamin.

Meski begitu Suryamin mengakui ada peningkatan jumlah petani gurem di beberapa provinsi di Indonesia bagian timur. Katanya di Maluku tumbuh sebanyak 13,39% atau sebanyak 9,23 juta rumah tangga dan Maluku Utara tumbuh sebanyak 11,07% atau2,18 juta rumah tangga. “Tapi paling tinggi terjadi pertumbuhan di Provinsi Papua. Di sana mencapai 79,87% atau sebanyak 135,61 juta rumah tangga tani,” jelasnya

Suryamin kemudian menunjukkan bila seluruh petani yang ada di Indonesia berjumlah 31,70 juta orang. Secara persentase, jumlahnya masih didominasi petani laki-laki sebanyak 76,84% atau 24,36 juta orang. Sementara jumlah petani perempuan hanya sebanyak 23,61% atau 7,34 juta orang.

"Persentase jumlah petani laki-laki tersebar di subsektor perikanan kegiatan penangkapan ikan yang mencapai 93,72%. Sementara porsentase laki-laki paling sedikit di subsektor peternakan yang mencapai 75.18%. Mungkin perempuan lebih mapan untuk beternak dibandingkan laki-laki,” tukasnya. [lulus]

Related posts