BI Rate Harus Turun di 2014

NERACA

Jakarta - Ekonom Economic Think Tank (EC-Think), Aviliani menilai, tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) seharusnya bisa turun pada 2014 apabila inflasi sudah kembali normal. "Tahun depan semestinya turun. Karena kalau kita lihat inflasi tahun depan dan volatilitas (tingkat perubahan variabel) itu kembali kepada normalnya," kata Aviliani di Jakarta, Senin (2/12).

Dia menjelaskan, Pemerintah sendiri menargetkan inflasi pada 2014 sebesar 3,5%-5,5%. Namun sekali pun dalam kondisi pesimistis, Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) ini memperkirakan inflasi berada di level 6%-6,5%. "Inflasi bisa 6%-6,5%, kalau kita justru khawatir. BI Rate harusnya ke arah 6,5%-7%," imbuh dia.

Lebih lanjut dia menuturkan, kebijakan menurunkan BI Rate membutuhkan keberanian Bank Indonesia yang seenaknya menaikkan bunga acuan hingga 175 basis poin (bps) dalam enam bulan terakhir. BI, imbuh Aviliani, juga harus mempertimbangkan bahwa bank juga memiliki batas dalam merespon kebijakan BI Rate.

"Jangan sampai sisi permintaan yang tadinya sudah bagus, perbankan tidak bermasalah, justru gara-gara BI Rate naik imbasnya ke semua sektor," tegasnya. Aviliani menuturkan, pada November lalu seharusnya BI tidak perlu menaikkan kembali BI Rate. Karena pengaruh terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai tidak besar.

Pada April 2014, BI seharusnya bisa melakukan penurunan BI Rate, dengan pertimbangan pada Maret 2014 sudah ada kepastian penghentian stimulus moneter (tapering off) oleh Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed.

"Menurut saya setelah Maret itu harusnya sudah turun. Karena Maret sudah ada kepastian dari eksternal. April harusnya sudah turun," tambah dia. Kemudian, dalam masa empat bulan ke depan Pemerintah seharusnya dapat memanfaatkannya untuk menyelesaikan permasalahan fundamental, yakni mengurangi defisit neraca transaksi berjalan hingga ke level di bawah tiga persen.

"Jadi sekarang aspek fundamental struktural itu dibereskan terlebih dahulu. Jadinya BI bisa lebih cepat untuk menurun BI Rate," tambahnya. Aviliani juga menuturkan dengan naiknya BI Rate, maka secara tidak langsung akan berdampak pada industri perbankan nasional. Keputusan BI ini akan menyulitkan industri perbankan khususnya pada sektor kredit.

Dia pun meminta agar para pelaku ekonomi dan instansi terkait harus bisa memperhatikan lebih jauh lagi akan dampak atas naiknya suku bunga acuan yang sejak Juni 2013 lalu sampai saat ini naik terus hingga 175 basis poin (bps) menjadi 1,75%. “Kalau suku bunga naik terus bisa berdampak pada sektor-sektor lainnya seperti sektor riil. Dan ini harus ada jalan yang tepat agar BI Rate tidak naik terus,” tandas Aviliani.

Ke depan, dirinya meminta agar pernyataan BI yang mengklaim tidak intervensi pelemahan rupiah, agar menjadi perhatian. Karenanya, menurut Aviliani, BI justru harus bisa menyusun strategi agar pelemahan rupiah yang terjadi tidak berujung pada krisis perekonomian. [mohar]

Related posts