Pengusaha Jangan Selalu Bergantung Modal

NERACA

Jakarta - Ketua Kompartemen Perhotelan dan Restoran BPD Hipmi Jaya, Rishi Wahab mengingatkan, pengusaha kecil dan menengah (UKM) di Jakarta jangan hanya fokus bergantung di permodalan, tetapi ada hal lain yang bisa dilakukan meskipun modal pas-pasan agar usahanya efektif dan efisien. Artinya, lanjut Rishi, dengan modal yang ada sebenarnya pengusaha tetap bisa menjalan dan membangun usahanya.

“Apapun bisa dilakukan. Contoh, membuat website itu murah hanya Rp150 ribu. Kita ingin mengubah pola pikir pengusaha ini supaya berkreasi dan berinovatif. Jangan hanya tertuju modal saja. Dengan begitu, mereka (para pengusaha) bisa membangun usahanya menjadi besar. Jadi, jangan sampai berhenti atau beralih usaha karena modal cekak,” jelas Rishi kepada Neraca, Senin (2/12).

Lebih jauh dia mengungkapkan, pengusaha yang memiliki omzet Rp10 juta per bulan pasti ingin omzetnya bertambah di bulan berikutnya, enam bulan bahkan mungkin setahun. Oleh karena itu, mereka harus di-upgrade, dan ini menjadi tugas Hipmi Jaya.

Dia juga mengingatkan kalau ketepatan waktu, kepercayaan dan jaringan yang baik adalah kunci utama dalam berbisnis yang harus dikembangkan. Dengan begitu, pengusaha sejatinya tidak perlu khawatir kekurangan modal usaha.

“Kalau perusahan kita jalan dan pelayanan kepada customer baik, artinya order banyak dong. Modal pasti menambah kok. Kita tidak usah takut kekurangan modal. Kita bagus customer banyak, kita tidak bagus, ya, ditinggal (customer),” tegasnya.

Menurut Rishi, percuma saja bila pelaku usaha mendapatkan modal berapa pun besarannya namun tidak bisa memanfaatkannya. Di sinilah inti dari sosialisasi, edukasi dan bimbingan yang harus terus-menerus dijalankan agar modal yang ada dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Kebutuhan modal

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Umum Hipmi Jaya, Eman A Setiawan menjelaskan, realisasi pembiayaan dan asuransi kredit yang dikucurkan PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) atau Askrindo kepada Hipmi Jaya sebesar Rp1,5 triliun melalui PT Bank DKI, direncanakan cair pada tahun ini.

“Anggota kami sudah banyak yang mengajukan sampai Rp50 miliar, dan sudah 70% disetujui akan cair tahun ini yang akan digunakan untuk ekspansi bisnis pada tahun 2014. Dari angka itu, bermacam-macam kebutuhannya. Ada yang (membutuhkan) Rp10 miliar, Rp5 miliar dan Rp700 juta,” papar Eman.

Dia mengatakan bahwa komitmen ini harus berjalan meskipun ada pergantian pimpinan Hipmi Jaya. Karena, pembiayaan seperti ini sangat membantu para pengusaha muda, baik UKM maupun besar yang tergabung dalam Hipmi Jaya, untuk kemudahan akses perbankan dan solusi jaminan kredit.

Seperti diketahui, Direktur Utama Askrindo, Antonius Chandra S Napitupulu pernah bilang, jika Hipmi Jaya memiliki potensi pangsa pasar yang besar. Dengan 3.000 anggota, kebutuhan modal kerja per orangnya diasumsikan mencapai Rp2,5 miliar hingga Rp3 miliar. "Jadi potensi pasarnya bisa mencapai Rp 7,5 triliun. Dari situ kami mengharapkan bisa menyerap 20% atau setara Rp 1,5 triliun,” katanya, pertengahan tahun ini. [ardi]

BERITA TERKAIT

Hensel Davest Serap Belanja Modal 10%

NERACA Jakarta – Mengawali perdagangan saham perdana di pasar modal, saham PT Hensel Davest Indonesia Tbk (HDIT) dibuka melejit 49,52%…

UU Pertanahan Jangan Jadi Penghambat Iklim Usaha dan Investasi - Ketua Umum KADIN

UU Pertanahan Jangan Jadi Penghambat Iklim Usaha dan Investasi Ketua Umum KADIN NERACA Jakarta - Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Pertanahan…

Debut Perdana di Pasar Modal - HDIT Catatkan Oversubscribed 39,57 Kali

NERACA Jakarta – Perusahaan yang bergerak di bisnis financial teknologi (fintech), PT Hensel Davest Indonesia Tbk (HDIT) secara resmi mencatatkan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

LIPI : UU Sisnas Iptek Lompatan Besar Dunia Iptek

    NERACA   Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia optimistis keberadaan Undang-undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU…

Sky Energy Luncurkan Produk Teringan di Dunia - Pembangkit Tenaga Surya

      NERACA   Jakarta - Kebutuhan akan listrik semakin meningkat seiring berkembangnya teknologi. Pada 2019, kebutuhan listrik dunia…

Dua Tantangan Perpajakan Di Era Ekonomi Digital

    NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan mengungkapkan terdapat dua tantangan utama yang harus dihadapi Direktorat…