Obligasi Kalah Bersaing Dengan Deposito - Dampak Pelemahan Rupiah

NERACA

Jakarta – Tren kembali melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memberikan dampak bagi emiten yang memiliki utang dalam bentuk dolar serta sentimen negatif terhadap pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia. Selain itu, pelemahan rupiah juga memberikan dampak perebutan dana masyarakat antara instrument obligasi dan deposito.

Direktur Evergreen Cpital Rudy Utomo mengatakan, obligasi sangat terpengaruh oleh depresiasi rupiah. Sehingga dengan kondisi saat ini, membuat obligasi kalah bersaing dengan bunga deposito yang lebih tinggi, “Depresiasi rupiah sangat mempengaruhi obligasi saat ini. Tetapi untuk penawaran saham perdana tidak terlalu, karena tergantung pada minat investor”, katanya di Jakarta, Senin (2/11).

Menurutnya, ditengah terkoreksinya nilai tukar rupiah membuat penerbitan obligasi akan sulit dilaksanakan. Pasalnya, kupon obligasi akan kalah bersaing dengan penawaran bunga deposito yang lebih tinggi.

Dirinya mengakui, dengan kondisi rupiah yang memprihatinkan ini menjadi pertimbangan bagi para investor untuk membeli saham baru seperti IPO. Namun, investor asing justru akan lebih untung jika membeli saham IPO karena jika dikonversi dari dolar ke rupiah, tentu harga saham jadi lebih murah, “Asing pasti mempertimbangkan untuk membeli saham IPO karena lebih murah bagi mereka. Namun, memang akan banyak pelaku pasar yang menimbang-nimbang untuk berinvestasi ke deposito”, katanya.

Sementara, untuk emiten yang menerbitkan obligasi dalam dolar, akan cukup berat membayar bunga kupon obligasinya. Apalagi jika pemasukannya berupa rupiah, sementara belanja dan pengeluarannya dalam dolar. Dengan kondisi ini, emiten disarankan harus pintar berhemat dan mengembangkan usahanya.“Obligasi seperti utang dan harus dibayarkan bunganya. Jika dalam dolar dan pemasukannya rupiah, tentu akan memberatkan”, ujarnya.

Sementara itu, mengenai pasar IPO itu sendiri ditengah pelemahan rupiah ini, dia menyebutkan kondisi pasar cukup membingungkan. Sehingga penyerapan IPO memang belum bisa diperkirakan seperti rencana IPO Bank Panin Syariah. Dengan adanya pembeli siaga (stand by buyer) dan penjamin emisi dapt meredakan kekhawatiran.

Sebelumnya, pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila Agus Irfani pernah bilang, pelemahan rupiah masih akan terus berlanjut hingga akhir tahun. IHSG juga masih akan berada ditengah-tengah, dimana tidak turun sekali ataupun naik yang cukup signifikan,”Pelemahan rupiah akan berlanjut dan tekan IHSG, karena pelemahan rupiah menjadi indikator pelemahan ekonomi. Sehingga, dengan indikator ini membuat investor ragu untuk menginvestasikan uangnya di jasa keuangan Indonesia”, jelasnya.

Pelemahan nilai tukar rupiah hingga tembus level Rp 12.000 per dolar AS, dinilai Agus Irfani sebagai sesuatu yang mendadak. Dia menyimpulkan ada dua penyebab dibalik kondisi pelemahan rupiah ini, yaitu adanya spekulan yang bermain di pasar uang. Kedua, adanya kondisi fundamental yang semakin parah seperti defisit neraca perdagangan yang semakin parah karena tingginya impor. (nurul)

Related posts