Busmetik Janjikan Untung Hingga 58% - Inovasi Teknologi Budidaya Udang

NERACA

Serang- Teknologi Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (Busmetik) yang dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dinilai terbukti mampu menghasilkan udang lebih maksimal. Teknologi ini mampu menghasilkan panen udang 3 kali dalam setahun dengan keuntungan hingga 58% pertahun.

“Saya mengapresiasi upaya inovasi penyelenggaraan unit pembelajaran tambak dengan sistem Busmetik di Sekolah Tinggi Perikanan (STP) ini. Hal ini perlu diperluas pengembangannya, tidak hanya di sekolah kelautan perikanan lingkup KKP lainnya, namun juga ke masyarakat lainnya, dengan tentu saja pelaksanaannya harus bersinergi dengan unit kerja teknis". Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo, saat panen udang teknologi Busmetik, di STP Serang, Banten, Minggu (1/12).

Sharif menjelaskan, Busmetik merupakan inovasi teknologi budidaya udang melalui kajian ilmiah yang terukur. Teknologi ini merupakan cara budidaya baru yang ramah lingkungan dengan biaya lebih murah. Busmetik menggunakan lahan lebih kecil sekitar 1 petak 600 m2, masa panen lebih singkat yakni 3 siklus per tahun dengan hasil lebih banyak dan berkualitas.

Untuk itu tambak sistem Busmetik perlu diperluas pengembangannya, tidak hanya di sekolah lingkup KKP, namun juga ke masyarakat lainnya dan pelaksanaan bersinergi dengan unit kerja teknis. “Teknologi Busmetik juga telah diterapkan di daerah lain, seperti di Pacitan yang ditinjau langsung oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, pada kunjungan kerja 16 Oktober lalu,” katanya.

Sebagaimana diketahui, salah satu konsekuensi dari diberlakukannya komunitas ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2015 adalah akan terjadinya pasar bebas di bidang tenaga kerja. Hal ini menjadi peluang bagi putra-putri kita untuk dapat berkarya di negara-negara ASEAN, dan sebaliknya putra-putri kita pun harus memiliki kompetensi yang cukup sehingga mampu menjadi tuan rumah di negaranya sendiri. Kunci untuk mencapai hal tersebut adalah dengan menanamkan jiwa entrepreneurship kepada putra-putri kita dan mendorong mereka untuk menggabungkannya dengan kemampuan penguasaan teknis di sektor kelautan dan perikanan yang telah didapatkan selama mengikuti pendidikan di bangku kuliah.

Penggabungan dengan kemampuan teknis tersebut oleh para pakar disebut sebagai technopreneurship, yang akan menghasilkan inovasi-inovasi dalam kegiatan ekonomi kelautan dan perikanan. Kemampuan technopreneurship ini tentu saja harus dipupuk sejak awal mengikuti pendidikan. Hal ini ia harapkan dapat dilaksanakan dengan konsisten oleh seluruh satuan pendidikan lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang akan menjadi keunggulan bagi para lulusannya.

KKP melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (BPSDMKP) tetap berkomitmen mengembangkan SDM KKP dengan sistem pembelajaran yang mendukung lahirnya technopreneurship handal. KKPsaat ini mempunyai Sekolah Tinggi Perikanan, Akademi Perikanan Sidoarjo, Akademi Perikanan Bitung, Akademi Perikanan Sorong, dan 9 Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM). Pendidikan yang diselenggarakan adalah program vokasi dengan pendekatan teaching factory. Pendidikan vokasi dicirikan dengan porsi praktek sebanyak 60% dan teori 40%. “Adapun pendekatan teaching factory, adalah penyelenggaraan pembelajaran sesuai dengan proses produksi yang sebenarnya dan sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan dunia industri,” jelasnya.

Penyuluh Perikanan

Untuk perluasan pengetahuan teknologi seperti Busmetik sangat diperlukan peran penyuluh perikanan. Penyuluh perikanan memiliki amanah dan peran yang penting. Salah satu tolok ukur keberhasilan penyuluhan tersebut adalah bila penyuluh perikanan dapat menempatkan dirinya sebagai agen perubahan (Agent of Change). Terutama peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap para pelaku utama kelautan dan perikanan. Untuk itu, penyuluh perikanan harus meningkatkan kompetensi yang dimiliki dengan mengasah kemampuan melalui pelatihan dan mengakses informasi teknologi kelautan dan perikanan.

Menurut data Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan, terdapat 11.542 orang penyuluh perikanan se-Indonesia. Sebanyak 181 penyuluh perikanan (1,57% dari total jumlah se-Indonesia) terdapat di Provinsi Banten, yang terdiri dari 31 PNS, 36 Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (PPTK), dan 114 penyuluh swadaya. Jumlah tersebut tersebar sebanyak 7 orang di Provinsi Banten, 56 orang di Kab. Pandeglang, 35 orang di Kab. Lebak, 43 orang di Kab. Tangerang, 29 orang di Kab. Serang, 2 orang di Kab. Cilegon, 6 orang di Kota Serang, dan 3 orang di Kab. Tangerang Selatan.

“Saya ingin mengingatkan kembali bahwa penyuluh perikanan jangan pernah berhenti untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki. Saudara-saudara perlu untuk mengasah kemampuan melalui pelatihan dan mengakses informasi teknologi kelautan dan perikanan, khususnya dengan para jejaring kerja. Hal ini juga akan memperluas networking para penyuluh. Tak kalah pentingnya, penyuluh Perikanan harus meng-up date pengetahuan tentang regulasi dan peraturan perundang-undangan di sektor kelautan dan perikanan. Ke depannya penyuluh perikanan harus bisa menjadi agent of advocation,” tutupnya.

BERITA TERKAIT

Program B20 Hemat Impor Solar Hingga US$937,84 juta

      NERACA   Jakarta - Kebijakan pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) berupa biodiesel sebesar 20 persen (B20) ke…

Modal dan Teknologi Digital Jadi "Booster" UMKM

Oleh: Bayu Prasetyo Hujan deras mengguyur Jakarta pada Rabu (9/1) pagi sebelum Presiden Joko Widodo blusukan ke beberapa daerah di…

Tingkatkan Kesejahteraan Pemuda Greol - Allianz Bantu Program Budidaya Lele Organik

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), Allianz Indonesia, melalui Yayasan Allianz Peduli, dan EDU Foundation…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Pendidikan Vokasi Industri Wilayah Sulawesi Diluncurkan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan…

Pemerintah Akselerasi Pengembangan Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pemerintah segera menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur dalam upaya mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Untuk…

Kebutuhan Gula Seiring Kinerja Positif Industri Pengguna

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi…