Kendati Bebas Penyakit EMS, Petambak Dihimbau Tetap Waspada - Udang Indonesia Jadi Primadona Pasar Dunia

NERACA

Serang – Penyakit Early Mortality Syndrome (EMS) pada udang yang sudah menjalar di negara Asean, menjadi keuntungan tersendiri bagi perikanan jenis udang nasional. Pasalnya udang nasional diklaim terbebas dari penyakit EMS. Itu sebabnya permintaan udang dunia tertuju pada Indonesia, sehingga berkah tersendiri bagi petambak nasional karena harga udang melonjak tajam. Namun demikian, petambak nasional diminta tak larut dalam kegembiraan. Sebaliknya, mereka harus terus waspada dan inovatif dalam mengembangkan teknologi agar produktivitas udang bisa lebih baik dan terus meningkat.

“Saat ini perikanan nasional khusunya udang Indonesia sudah diakui oleh dunia terbebas dari penyakit EMS, oleh karenanya ini menjadi berkah bagi petambak nasional. Tapi demikian, tentu saja petambak udang nasional harus tetap waspada dan terus inovatif dalam mengembangkan tekhnologi pada budidaya udang,” pesan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sharif Cicip Sutardjo, saat menghadiri Panen Udang Tambak Inovasi Pendidikan dan Temu Wicara Dengan Pelaku Utama Kelautan dan Perikanan Dampingan Penyuluhan Perikanan, di Kampus Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Serang, Banten, Minggu (1/12).

Untuk itu, lanjut Sharif, Indonesia harus tetap kerja keras dalam meningkatkan produktifitas perikanan nasional khususnya udang, tentu saja dengan selalu meng-upgrade tekhnologi. Karena jika tidak suatu saat kita akan disalip oleh negara lain. “Inovasi dan pengembangan tekhnologi harus terus dijaga dari tahun ke tahun maka dari itu kita harus kreatif dengan menemukan inovasi baru agar negara lain tidak akan mengkecoh begitu saja. Karena jika negara lain sudah mulai stabil, dan kita masih menggunakan tekhnologi lama, maka justru perikanan nasional kita yang akan tertinggal,” sambungnya.

Sampai dengan saat ini, ekspor udang masih yang paling besar dibanding produk perikanan jenis lainnya. Sementara target ekspor udang nasional tahun 2013 ini sudah US$ 4 miilliar, meski belum bisa mengekspor sebesar Vietnam US$ 6 milliar, Thailand US$ 8 milliar sebelum terjangkit penyakit EMS.

Sektor perikanan, kata dia, saat ini sebagai salah satu penopang kebutuhan pangan nasional. Hal ini terlihat dari konsumsi ikan pada tahun 2013 sebanyak 35 kilogram/kapita/tahun dan target tahun 2014 38 kilogram/kapita/tahun. “Artinya sektor perikanan merupakan penopang ketahanan pangan nasional. Maka dari itu kita mendahulukan untuk kepentingan dalam negeri baru sisianya diekspor,” ujarnya.

Oleh karenanya, kedepan Sharif berharap perikanan nasional untuk ekspor masuk pada ranah industrialisasi tentu saja dengan mengembangkan azas ekonomi biru sehingga hasilnya yang didapat lebih maksimal dan revenue yang jauh lebih tinggi dan juga dengan industrialisasi tentu saja akan memberikan manfaat membuka lapangan pekerjaan lebih banyak lagi. “Itulah pentingnya kita menggunakan tekhnologi baru, inovasi baru, dengan begitu produksinya bisa meningkat,” katanya.

Menurut Sharif, perikanan nasional harus berkaca pada negara maju, yaitu negera yang punya kreatif dan inovasi tinggi. “Pencapaian kita yang sekarang tidak boleh terlalu bangga, tapi harus bisa berpikir maju bebrapa langkah depan. Makanya kita harus terus melakukan inovasi dari waktu ke waktu, sehingga mendapatkan tempat yang teratas di dunia. Makanya untuk sektor perikanan tidak heran, negara lain belajar dengan kita untuk budidaya perikanan,” tukas Menteri.

Sharing Knowledge

Di tempat yang sama, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDMKP) Suseno Sukoyono menjelaskan, atas pencapaian keberhasilan budidaya udang nasional, maka banyak negara lain yang meniru dan berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk belajar budidaya udang. Salah satu keberhasilan yang dilakukan saat ini adalah budidaya udang skala mini empang plastik (Busmetik). Atas keberhasilan inilah, Korea maupun Jepang datang ke Indonesia untuk belajar. “Memang Korea dan Japan datang kesini untuk mengembangkan metodeloginya, kedatangan mereka kesini bisa diartikan sebagai sharing knowledge,” katanya.

Karena memang, lanjut Suseno, mereka datang untuk belajar bagaimana budidaya di Indonesia, tapi pihaknya juga banyak belajar terkait dengan teknologi dan bagaimana penerapan teknologi yang nantinya bisa dikembangan dan bisa diterapkan pada para petambak maupun anak didik di sekolah perikanan. “Jadi ini memang kerjasama yang saling menguntungkan,” imbuhnya.

Suseno menilai, Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) tidaklah sekedar pembelajaran teori saja. Oleh karenanya dia sudah menyelenggarakan program vokasi dengan pendekatan teaching factory dimana pendidikan ini lebihbanyak mengedepankan praktik dibandingkan teori dengan komposisi 60% praktek, baru teori 40%, yang sudah diimplementasikan pada sekolah Akademi Perikanan Sidoarjo, Akademi Perikanan Bitung, Akademi Perikanan Bitung, dan 9 Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM). “Metode pembelajaran inilah yang dirasa mampu untuk memenuhi tuntutan dunia usaha dan industri sekarang,” ujarnya.

Dia melihat bahwa kebanyakan para alumni maupun mahasiswa yang tidak mampu dalam menghadapi dunia kerja. Itulah yang menjadi inspirasi kami untuk dapat memberikan pelatihan kepada para anak didik agar mampu membuka lapangan kerja buat dirinya, maupun orang lain. “Selain itu juga kami ingin membentuk wirausaha-wirausaha muda baru kedepan,” terangnya.

Disingung mengenai hasil dari perikanan yang dilakukan pada sekolah-sekolah seperti yang ada di STP Serang ini yang sudah menerapkan budidaya udang Busmetik, menurutnya, memang permodalan awalnya dari pemerintah, yang kemudian hasilnya dibuat untuk mengembangkan lahan-lahan maupun tekhnologi yang digunakan. “Alokasi dana khusus memang tidak ada, hanya saja dikalkulasikan perpetaknya 600 M persegi menelan modal sekitar Rp 300 juta. Dan hasilnya pun dari sekolah yang mengelola,” tutupnya.

Related posts