Masih Ada Ruang IHSG Melanjutkan Penguatan

NERACA

Jakarta –Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 65,541 poin (1,54%) ke level 4.321,977. Sementara Indeks LQ45 ditutup melompat 14,864 poin (2,11%) ke level 719,749. Penguatan indeks BEI dipicu sentimen positif data inflasi November yang dirilis Badan Pusat Statistik terkendali dan surplusnya neraca perdagangan. Kondisi ini membuat investor berani berburu saham.

Selain itu, menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di posisi Rp 11.745 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu di Rp 11.970 per dolar AS juga menjadi sentimen positif terhadap indeks BEI.

Analis Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, pelaku pasar melanjutkan aksi beli setelah data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia dinilai positif oleh pelaku pasar saham, “Pada akhir pekan lalu investor cenderung 'wait and see' mananti data ekonomi Indonesia, setelah dipublikasikan datanya cukup positif, kondisi itu mendorong pelaku pasar kembali melanjutkan aksi beli saham," kata dia di Jakarta, Senin (2/12).

Dia menambahkan, pelaku pasar asing yang kembali masuk ke pasar juga menjadi salah satu indikator indeks BEI menguat. Tercatat, pelaku pasar asing membukukan beli bersih sebesar Rp85,771 miliar. Data BPS mencatat terjadi inflasi sebesar 0,12% pada November 2013. Tingkat inflasi periode Januari-November 2013 sebesar 7,79% dan tingkat inflasi November 2013 terhadap November 2012 sebesar 8,37%.

Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia Oktober 2013 mengalami surplus sebesar US$ 50 juta. Kendati demikian, Reza memperkirakan bahwa sentimen positif itu cenderung jangka pendek mengingat pelaku pasar juga menanti Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dan pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) the Fed pada pekan depan.

Sementara itu, analis HD Capital Yuganur Wijanarko mengatakan, penguatan IHSG masih rentan terkoreksi karena secara keseluruhan sentimen pasar masih negatif, “Posisi regional juga dapat berubah ke arah negatif sehingga bakal mengundang aksi jual kembali untuk IHSG," kata dia.

Berikutnya, pada perdagangan Selasa, indeks BEI diproyeksikan masih akan bergerak menguat meski mewaspadai potensi adanya kenaikan BI Rate yang bakal memicu sentimen negatif terhadap indeks saham sektor perbankan. Perdagangan kemarin, seluruh indeks sektoral di lantai bursa kompak menguat. Rata-rata penguatannya lebih dari satu persen bahkan ada yang sampai dua persen. Aksi beli ini dilakukan investor lokal dan asing.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 128.202 kali pada volume 5,314 miliar lembar saham senilai Rp 4,634 triliun. Sebanyak 198 saham naik, sisanya 74 saham turun, dan 74 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia mengakhiri perdagangan awal pekan dengan mixed. Bursa saham Jepang dari awal sudah melemah, dan diakhir pelemahan tersebut ditemani bursa China yang ikut terkoreksi menjelang penutupan perdagangan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.800 ke Rp 38.800, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 1.000 ke Rp 66.000, United Tractor (UNTR) naik Rp 500 ke Rp 18.750, dan Metropolitan Kentjana (MKPI) naik Rp 500 ke Rp 9.500. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Matahari (LPPF) turun Rp 550 ke Rp 11.000, Bank Mayapada (MAYA) turun Rp 250 ke Rp 1.550, XL Axiata (EXCL) turun Rp 150 ke Rp 4.850, dan Bank Tabungan Pensiunan (BTPN) turun Rp 125 ke Rp 4.025.

Penguatan indeks BEI juga terjadi pada perdagangan sesi I, dimana indeks ditutup menguat 52,643 poin (1,24%) ke level 4.309,079. Sementara Indeks LQ45 menanjak 11,873 poin (1,68%) ke level 716,758. Seluruh indeks sektoral di lantai bursa kompak menguat. Rata-rata penguatannya lebih dari satu persen bahkan ada yang sampai dua persen.

Secara perlahan indeks terus menanjak di teritori positif sampai ke posisi tertingginya kemarin di 4.315,367. Saham-saham lapis dua jadi incaran utama investor, saham unggulan juga tak mau ketinggalan. Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi hanya sebanyak 67.307 kali pada volume 2,983 miliar lembar saham senilai Rp 2,381 triliun. Sebanyak 162 saham naik, sisanya 50 saham turun, dan 86 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia masih bergerak mixed hingga sesi pertama, kali ini cenderung menguat. Bursa Jepang jadi satu-satunya yang melemah.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka menguat 12,64 poin atau 0,30% menjadi 4.269,08, sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 3,23 poin (0,46%) ke level 708,12. Pelaku pasar cenderung mengambil posisi beli saham menjelang diumumkannya data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia oleh Badan Pusat Statistik. Meski demikian, investor masih tetap mewaspada jika data ekonomi itu tidak sesuai dengan estimasi.

Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 203,96 poin (0,85%) ke level 24.085,25, indeks Nikkei-225 turun 21,65 poin (0,14%) ke level 15.639,48, dan Straits Times menguat 6,28 poin (0,19%) ke posisi 3.182,77. (bani)

Related posts