Pertamina Akuisisi 2 Blok Migas Offshore

NERACA

Jakarta - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) bersama dengan PTTEP Netherlands Holding Cooperatie UA telah resmi mengambil alih pengelolaan blok migas lepas pantai Pangkah dan Natuna Sea A. Hal itu setelah tercapainya kesepakatan pembelian saham atau Share Purcase Agreement (SPA). “Telah terjadi kesepakatan pembelian saham antara dua perusahaan untuk menguasai anak usaha Hess sebesar 75% Participating Interest (PI) untuk Blok Pangkah dan 25% PI untuk Blok Natuna Sea A," ujar Vice President Corporate Communications Pertamina Ali Mundakir, Senin (2/12).

Ali menjelaskan akuisisi atas dua blok ini ditetapkan dengan kesepakatan pembagian persentase kepemilikan PI 50:50 dengan nilai transaksi sebesar US$1,3 miliar. Terkait dengan waktu penyelesaian, tambah dia, kedua perusahaan ini bersepakat untuk mengikuti ketentuan yang tertuang dalam nota perjanjian SPA.

Blok Pangkah merupakan kawasan penghasil minyak dan gas bumi yang terletak di bagian timur Laut Jawa. Blok ini memiliki kapasitas produksi sebesar 7 ribu barel per hari untuk minyak atau kondensat serta gas 33 juta kaki kubik per hari (Mmscfd). Cadangan minyak yang tersimpan di Blok Pangkah baik yang sudah terbukti maupun potensi diperkirakan mencapai 110 juta barel setara minyak.

Adapun Blok Natuna Sea A merupakan kawasan penghasil gas yang berlokasi di Laut Natuna Barat yang tidak terlalu jauh dari perbatasan Indonesia-Malaysia. Blok ini terbagi menjadi Lapangan Anoa dengan kapasitas produksi mencapai 145 MMscfd dan Lapangan Gajah Baru dengan kapasitas produksi minyak mencapai 2.350 barel per hari.

Blok ini menyimpan total cadangan terbukti dan potensi mencapai 209 juta barel setara minyak. Ali menerangkan, akusisi dua blok ini merupakan strategi Pertamina untuk menambah produksi dan cadangan untuk memenuhi pasokan migas nasional. “Lebih dari itu, akuisisi ini juga akan memperkuat posisi Pertamina sebagai tulang punggung ketahanan energi nasional Indonesia,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ali mengatakan, Pertamina melalui PHE ingin menjadi pemain dominan di sektor hulu migas domestik pada 2015. Pertamina menargetkan produksi mencapai 2,2 juta barel setara minyak per hari dari kawasan domestik dan luar negeri pada 2025.

Sebelumnya, Pertamina juga menuntaskan akuisisi kepemilikan blok minyak dan gas bumi di luar negeri. Pertamina lewat anak usahanya yaitu Pertamina Irak Eksplorasi dan Produksi telah menyelesaikan akuisisi 10% partisipasi (participating interest) Blok West Qurna 1 di Irak milik Exxonmobil Iraq Limited.

Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan mengatakan akuisisi itu merupakan upaya perusahaan dalam mewujudkan visinya yang ingin menjadikan Pertamina sebagai perusahaan energi kelas dunia. Ekspansi itu juga dilakukan untuk memperkuat ketahanan energi yang berkelanjutan di dalam negeri. “Aksi korporasi ini adalah langkah strategis untuk memperluas bisnis di luar negeri, khususnya di negara yang memiliki sumber migas yang melimpah seperti Irak,” katanya.

Selain menjual kepemilikan Blok West Qurna 1 ke Pertamina, ExxonMobil juga menjual 25% participating interest blok itu ke PetroChina Co. Dengan begitu, saat ini ExxonMobil yang tetap menjadi operator hanya memiliki 25% kepemilikan dari yang sebelumnya 60%. Sedangkan 25% kepemilikan lainnya dimiliki South Oil Company, dan 15% sisanya dimiliki Shell West Qurna BV.

Blok West Qurna I yang berlokasi di dekat Basra, Irak bagian selatan diketahui memiliki produksi sekitar 500.000 barel per hari. Dengan akuisisi 10% kepemilikannya, maka Pertamina akan memperoleh bagian 50.000 barel per hari. Akan tetapi, dalam beberapa waktu ke depan produksi West Qurna 1 diperkirakan bisa mencapai lebih dari 1 juta barel per hari. Apalagi, cadangan minyak West Qurna diketahui sekitar 9 miliar barel.

Namun demikian, Ketua Umum Hipmi Jaya Andhika Anindyaguna menuturkan, akuisisi tersebut masih jauh untuk bisa dikatakan berhasil bila tidak dibarengi dengan peningkatan kemampuan untuk mengolah minyak mentah yang dihasilkan oleh sumur-sumur yang berhasil diakuisisi tersebut. “Yang harus dipikirkan juga bagaimana mengolah minyak mentah kita. Keekonominannya harus di-upgrade. Meskipun Pertamina memiliki ladang di luar negeri harusnya bisa diolah di dalam negeri, sehingga manfaatnya bisa dirasakan di dalam negeri juga,” tutur dia.

Related posts