Gempuran Impor Bikin Produk Lokal Makin Keok

NERACA

Jakarta - Pengamat Industri dari Universitas Trisakti, Tulus Tambunan mengungkapkan gempuran produk asing membuat merek lokal atau produk lokal bertekuk lutut dan terancam tergerus sehingga hilang di pasaran karena kalah bersaing. Pasalnya hingga saat ini pasar di dalam negeri terus dibanjiri produk asing.

"Ada beberapa faktor yang membuat merek lokal kalah bersaing, biaya produksi dan energi terbilang cukup mahal sehingga membuat harga produk lokal lebih sedikit mahal lalu, banyaknya pasar tradisional yang hilang dan pada waktu bersamaan pasar modern, baik berupa minimarket hingga hipermarket, berkembang pesat di berbagai daerah. Kehadiran pasar modern bahkan mencapai kota-kota kecamatan," jelas Tulus saat dihubungi Neraca, Senin(2/12).

Lebih lanjut Tulus menjelaskan, pada umumnya produk lokal umumnya mempunyai modal yang sangat terbatas, apalagi dibandingkan dengan merek multinasional. Padahal, sejumlah supermarket mensyaratkan ada biaya khusus bagi sebuah merek masuk ke retail mereka. Kualitas produk dan promosi sering menjadi kendala bagi sejumlah produk dalam negeri untuk bersaing. Apalagi jika produk-produk tersebut diproduksi dengan modal terbatas.

"Sejumlah supermarket bekerja sama dengan merek multinasional dan menyiapkan tempat khusus bagi mereka. Tidak heran lambat laun produk lokal mulai hilang dari pasaran. Sejumlah kelompok industri telah dikuasai merek asing global dan multinasional. Seperti kebutuhan rumah tangga asing menguasai 54,5%, perlengkapan pribadi 52,6%," jelasnya.

Produk-produk asing ini dengan mudah didapatkan masyarakat di pasar modern. Bahkan mereka telah bekerja sama dengan pengelola supermarket untuk membuat booth sendiri di dalam pasar. Kelompok industri yang berbasis teknologi hampir semuanya dikuasai asing, seperti automotif (84,6%), elektronika (94,7%), dan komputer (100%). Sektor lain yang dikuasai merek asing adalah perlengkapan kantor (81,8%), dan olahraga (66,7%).

Sementara itu merek nasional menguasai perbankan (96,6%), makanan dan minuman (66,7%), bahan bangunan (100%), obat-obatan (68,4%), dan beberapa sektor lain.menyebutkan, untuk sektor makanan dan minuman, merek nasional masih mengusai. Ada sejumlah merek besar yang bermain di sektor ini seperti Mayor dan Orang Tua. Begitu juga dengan obat-obatan yang menguasai lebih dari separuh pangsa pasar. "Dipasar obat-obatan kita masih mempunyai Kalbe Farma, sebuah brand nasional," tegas Handi.

Brand nasional juga masih menguasai di sektor rokok. Di industri tembakau, merek nasional menguasai 77,8%. Rokok asal Indonesia masih mengusai pasar nasional. Bahkan, di sejumlah daerah memliki merek lokal yang familiar dimasyarakat setempat. Rokok di Indonesia masih mempunyai prospek bagus.

Tulus menyayangkan, beberapa tahun lalu brand Sampoerna dijual kepihak asing. Saat itu harganya "hanya" sekitar Rp45 triliun. Padahal saat ini nilai perusahaan tersebut sudah lebih dari Rp200 triliun. Menurut Handi, merek nasional mempunyai peran penting dalam perekonomian sebuah negara. Sehingga, sudah selayaknya merek nasional minimal berjaya di negara sendiri. Sebab, akan membatu perekonomian.

Dia mencontohkan, Amerika Serikat (AS) mempunyai utang yang sangat besar. Namun, negara itu mempunyai merek-merek besar seperti Windows dan Apple. Secara langsung atau tidak, merek-merek raksasa itu mempunyai kontribusi pada perekonomian negeri adidaya itu. Kualitas produk dan promosi sering menjadi kendala bagi sejumlah produk dalam negeri untuk bersaing. Apalagi jika produk-produk tersebut diproduksi dengan modal terbatas.

Daya Saing

Di sisi lain, Ketua Komisi VI DPR Airlangga Hartarto menuturkan, pemerintah harus memuat aturan yang mendukung peningkatan daya saing produk nasional. Hal ini penting, agar produk lokal tidak makin tergerus oleh produk asing yang terus masuk ke pasar nasional.Karena itu, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk setiap produk lokal menjadi keharusan, agar produk lokal mampu bersaing dengan produk asing. "Kita harus mendorong SNI lebih banyak lagi. Karena dengan produk yang memilik standar internasional, produk lokal bisa lebih terserap," ujar Airlangga.

Kondisi industri yang terjadi saat ini, kata dia, investor asing yang masuk kerap membawa industri pendukung sebagai supplier ke Indonesia. Produk industri lokal tidak menjadi pilihan karena dinilai tidak memiliki kualitas sebaik supplier negara asal.

"Ketika ekspansi ke sini, industri alat berat membawa supliernya. Kondisi ini tidak membuka kesempatan untuk industri dalam negeri. Seharusnya industri komponen dari lokal didorong untuk bisa menyuplai,” imbuhnya.

Dia mencontohkan hal ini terjadi pada industri otomotif. Baja untuk komponen kendaraan, masih diimpor dari Jepang sebagai negara asal produk. "Karena (produk lokal) standarnya dianggap tidak sebaik produk Jepang. Ini harus diatur dalam standarisasi SNI. Sehingga tidak ada lagi yang mengatakan industri otomotif Indonesia tidak bisa menggunakan besi Krakatau Steel," tuturnya.

Industri lokal makin tenggelam, dengan adanya perjanjian free trade misalnya dengan China. Karena produk-produk China yang masuk tidak dikenai bea masuk. China mengejar produksi barang sesuai standar yang dibutuhkan industri yang masuk ke Indonesia dan melempar produknya ke Indonesia.

Related posts