Belum Dapat Izin, IPO Blue Bird Bakal Molor - Danai Belanja Modal Lewat Perbankan

NERACA

Jakarta – Batalnya PT Blue Bird Group untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini tidak menjadi persoalan. Pasalnya, perusahaan taksi ini tidak mengutamakan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) untuk mencari modal.

Deputi Direktur PT Blue Bird Group, Sigit P Djokosoetono menyatakan, hingga saat ini perseroan masih mempertimbangkan apakah akan mencari dana melalui mekanisme IPO atau tidak. Dirinya menuturkan, aksi korporasi IPO bukanlah prioritas dalam mencari dana, “IPO bukan menjadi prioritas kami, karena IPO merupakan salah satu alternatif pendanaan kami,”katanya di Jakarta, Senin (2/120.

Meskipun demikian, lanjutnya, perseroan hingga saat ini masih menunggu keputusan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait usulan IPO yang diajukan dan akan mengikuti setiap peraturan yang diberikan OJK. Asal tahu saja, kabarnya sampai saat ini pengajuan IPO perseroan masih terus berproses di OJK.

Kata Sigit, saat ini perusahaan masih memiliki fasilitas pinjaman dari perbankan. Sehingga, IPO hanya merupakan salah satu pendanaan baru yang dimiliki Blue Bird. Selain itu, karena masih dalam proses di OJK dan dalam 1 bulan tahun 2013 akan berakhir, dirinya memperkirakan perseroan baru akan melantai di bursa pada tahun depan.

Sebagai informasi, rencananya Blue Bird akan menggunakan dana hasil IPO untu penambahan armada, perawatan, serta pembangunan pool taksi. “Belum bisa kita katakan target dananya berapa, karena masih diproses. Kita utamakan pengembangan armada, karena selain IPO kita masih bisa mengembangkan usaha melalui kredit,”tandasnya.

Lebih lanjut dia menyebutkan, kebutuhan dana untuk pengembangan setiap tahunnya meningkat. Sepanjang tahun ini, Blue Bird mengalokasikan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1,5 triliun. Sementara tahun depan, perseroan menganggarkan belanja modal lebih dari Rp 1,5 triliun. Dimana sumber pendanaanya berasal dari kredit perbankan dan kas internal

Sebelumnya, Direktur Utama Danareksa Sekuritas Marchiano Herman pernah bilang, proses izin IPO Blue Bird baru mencapai 50% dan saham yang akan dilepas ke publik masih dalam kajian. Dia mengatakan, berbagai berkas Blue Bird untuk menjadi perusahaan terbuka sedang dalam kajian OJK, untuk mendapatkan izin pra efektif.

Sementara itu, Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen mengatakan, Blue Bird berencana melepas 20% sampai 25% sahamnya ke publik dan bisa akan listing di BEI pada tahun ini. Blue Bird sendiri telah menunjuk penjamin pelaksana efek yaitu PT Danareksa Sekuritas, PT Credit Suisse Securities Indonesia dan PT UBS Securities Indonesia. Blue Bird Group berencana menggelar IPO dengan menargetkan dapat meraih dana segar senilai US$450 juta atau setara Rp4,95 triliun.

Sayangnya, hingga saat ini OJK belum mengeluarkan keputusan terkait rencana Blue Bird untuk IPO. OJK juga belum memberikan izin pra efektif IPO kepada perusahan taksi ini. (nurul)

Related posts