Penggunaan BBM Bersubsidi Tepat Sasaran - Tujuan Program RFID

Untuk mengendalikan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM), terutama BBM bersubsidi, Pertamina bersama dengan BPH Migas mensosialisasikan program barunya yang bernama "Sistem Monitoring dan Pengendalian BBM (SMPBBM)".

NERACA

Pertamina menegaskan, program ini bertujuan agar penggunaan BBM bersubsidi tepat sasaran dan pada akhirnya memberi manfaat yang bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Program SMPBBM memanfaatkan teknologi RFID (Radio Frequency Identication) sebagai alat untuk mendata dan memantau penggunaan BBM. Alat tersebut akan terpasang pada seluruh kendaraan bermotor di Indonesia secara gratis.

Pertamina menambahkan, teknologi RFID memungkinkan program SMPBBM ini dapat berjalan secara komprehensif dengan aman, cepat, terpercaya, dan telah teruji efisiensi serta efektifitas penggunaannya. Waktu yang dibutuhkan untuk pemasangan RFID tag di kendaraan pun cukup singkat.

External Relations Marketing Operasional Regional (MOR) III PT Pertamina (Persero), Krisanti Gondokusumo mengatakan, pemasangan RFID termasuk dalam program Sistem Monitoring dan Pengendalian BBM (SMPBBM). Pemasangan berlaku gratis. SMPBBM yang akan segera dijalankan merupakan program pemerintah melalui PT Pertamina sebagaimana dijelaskan melalui peraturan BPH Migas No 6/2013.

Dia menjelaskan, pemasangkan perangkat IT pada kendaraan konsumen ini berlaku gratis. Konsumen tidak akan dipungut biaya apapun baik oleh Pertamina maupun SPBU.

Pemasangan gratis ini juga tanpa tenggat waktu. Pemilik kendaraan hanya mendaftar ke petugas Pertamina dengan menunjukkan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Setelah itu, petugas akan memasangkan alat tersebut berupa cincin atau ring berbahan fiber yang direkatkan pada tangki kendaraan.

Namun, pemasangan dilakukan pada lokasi SPBU tertentu yang ditunjuk Pertamina. Masyarakat dapat melakukan pemasangan di sekitar 60 titik yang telah tersedia. "Kami siap mensukseskan program SMPBBM," katanya.

Lebih lanjut dituturkannya, aksi pemasangan alat kontrol ini baru dilakukan di wilayah DKI Jakarta. Setelah itu, akan dilanjutkan ke wilayah lainnya di Indonesia. "Jabar dan lainnya sepertinya akan dilakukan pada tahun depan," ucap Krisanti.

Seperti diketahui, pemasangan RFID sempat molor dan terbentur berbagi kendala. Dalam sebuah uji coba, alat ini juga sering mati selama 10 menit.

Karena kondisi itu, Pertamina meminta kepada PT INTI selaku pemenang tender pengadaan sistem RFID melakukan berbagai perbaikan. Pertamina sendiri menargetkan seluruh Indonesia bisa mengimplemetasikan sistem ini pada 1 Juni 2014.

Tepat Sasaran

Sebagaimana kita tahu bahwa anggaran rumah tangga Indonesia selalu membengkak setiap tahunnya, yang salah satu penyebabnya adalah dikarenakan penggunaan BBM bersubsidi yang salah sasaran.

Bukan hanya kalangan menengah ke atas dengan mobil-mobil mewah di atas 1.800 cc yang masih saja menggunakan BBM Non Subsidi. Telinga kita juga mungkin mulai bosan mendengar berbagai penyelundupan BBM dengan berbagai akal manusia.

Antrian kendaraan yang ternyata adalah cara mereka mengumpulkan BBM untuk distock dan di jual kembali pada industri pertambangan, atau pabrik-pabrik ‘nakal’ lain yang tersebar berbagai kota maupun daerah bahkan ke negeri tetangga.

Pemasangan RFID Tag sebagai salah satu langkah untuk memonitor dan mengontrol jumlah BBM Bersubsidi yang disalurkan oleh pemerintah adalah satu ide yang harus kita dukung bersama.

Kita pasti tahu bahwa tanpa partisipasi, komitmen dan itikad baik dari seluruh warga negara/rakyatnya, maka sebuah negara tak kan pernah dapat berbenah. Tanpa kesadaran kita untuk mendukungnya, berbagai gagasan dan impian menuju Indonesia yang lebih baik bisa jadi hanya tinggal mimpi belaka.

Related posts