Sentimen Rupiah Bikin Investor Ragu - Picu IHSG Makin Terkoreksi

NERACA

Jakarta – Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga tembus level Rp 12.000, menjadi sentimen negatif terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Bahkan masih terus terkoreksinya rupiah, membuat para analis pasar memproyeksikan indeks BEI hingga akhir tahun masih negatif dan kondisi ini membuat keraguan investor untuk berinvestasi di saham.

Menurut pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila Agus Irfani, pelemahan rupiah masih akan terus berlanjut hingga akhir tahun dan kondisi ini membuat investor ragu untuk menginvestasikan uangnya di jasa keuangan Indonesia, termasuk di saham,”Pelemahan rupiah akan berlanjut dan tekan IHSG, karena pelemahan rupiah menjadi indikator pelemahan ekonomi. Sehingga, dengan indikator ini membuat investor ragu untuk menginvestasikan uangnya di jasa keuangan Indonesia",ujarnya kepada Neraca di Jakarta, Minggu (1/12).

Dia menuturkan, pelemahan nilai tukar rupiah ke level Rp 12.000an ini dinilai sebagai sesuatu yang mendadak. Dirinya menyimpulkan, ada dua penyebab dibalik kondisi pelemahan rupiah ini, yaitu adanya spekulan yang bermain di pasar uang. Kedua, adanya kondisi fundamental yang semakin parah seperti defisit neraca perdagangan yang semakin parah karena tingginya impor.

Terkait kondisi saat ini, menurut dia obligasi dolar yang sudah dikeluarkan tidak akan berdampak karena ada stabilitas obligasinya seperti kupon bunga yang sudah ditetapkan. Namun, untuk obligasi yang akan dikeluarkan dalam dolar, dia mengatakan akan sulit menarik minta investor,”Obligasi dolar yang akan dikeluarkan bisa jadi daya beli berkurang, karena akan lebih mahal. Namun, saat ini membeli obligasi masih cukup bagus karena kedepannya rupiah masih akan melemah", katanya.

Dengan kondisi ini, dia menyatakan pihak otoritas bursa harus menciptakan agenda-agenda seperti investor summit untuk menarik banyak orang mengetahui pasar modal. Selain itu dia juga menyatakan, BEI bisa menggelitik perusahaan-perusahaan BUMN dan swasta yang berkapitalisasi besar untuk IPO.

Sementara analis PT Infovesta Utama Vilia Wati mengatakan, pergerakan pasar modal domestik menuju penghujung tahun ini tidak terlalu kondusif karena sentimen yang beredar cenderung negatif, “Sentimen yang berpengaruh terhadap pergerakan bursa saham hingga akhir tahun ini masih akan didominasi seputar masalah pelemahan nilai tukar rupiah,"ujarnya.

Selain sentimen pelemahan rupiah, kata Vilia, sentimen lainnya yang akan menahan laju IHSG adalah defisit neraca perdagangan domestik. Defisit neraca perdagangan RI pada Oktober 2013 tercatat sebesar US$ 657,2 juta. Defisit tersebut didorong angka impor yang naik 0,77%. Sementara scara akumulasi, defisit neraca perdagangan Januari-Oktober 2013 tercatat mencapai US$ 6,25 miliar.

Hingga penghujung 2013, dia memperkirakan bahwa rupiah masih cukup sulit untuk keluar dari tren pelemahannya. Itu karena meningkatnya permintaan dolar Amerika dari korporasi di sisa akhir tahun ini. Sementara sentimen yang dapat mendorong laju bursa hingga akhir tahun ini, menurut Vilia adalah isu windows dressing. "Yang mungkin dapat menopang laju bursa hanyalah isu windows dressing, dimana umumnya IHSG cenderung menguat di bulan Desember," ujar dia. (bani)

Related posts