Lindungi Rumah Dengan Biopori - Menjaga dan Melestarikan Lingkungan

Mendesain sebuah rumah memang bukanlah suatu hal yang mudah, banyak hal yang harus dipikirkan sebelum pembangunan tersebut mulai dilakukan. Mendesain hunian berwawasan lingkungan kini menjadi salah satu hal yang penting. Dengan mendesain hunian berwawasan lingkungan, kita tidak merusak lingkungan yang ada di sekitar hunian kita, dengan begitu pula kita ikut melestarikan dan menjaga likungan demi keberlangsungan anak cucu kita.

Tidak hanya menjaga keberlangsungan lingkungan untuk anak cucu kita saja, mendesain hunian dengan berwawasan lingkungan pun membuat kita memiliki hunian yang sehat, hunian yang sehat bisa diaplikasikan salah satunya dengan membuat lubang resapan biopori di sekitar hunian kita. Selain praktis, lubang tersebut dapat membuat tanaman disekitarnya menjadi lebih subur dan tidak mudah mati dan yang terpenting menjauhkan kita dari kemungkinan banjir.

Biopori sendiri adalah sebuah lubang resapan air yang kita buat sendiri pada lingkungan sekitar hunian kita, umumnya pada halaman rumah kita. Membuat biopori sebenarnya memiliki banyak manfaat yang Anda dapatkan jika mengaplikasikan hal tersebut, yakni mempunyai ketersediaan air tanah yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Pencipta teknologi biopori sendiri ialah Ir Kamir R Brata yang merupakan Dosen Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor.

Lubang biopori tersebut memang umumnya untuk mencegah banjir karena meningkatkan daya resapan air. Fungsi lainnya adalah mengubah sampah organik menjadi kompos dan memanfaatkan fauna tanah dan akar tanaman agar membuat lingkungan sekitr menjadi lebih subur. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membuat lubang tersebut di dalam rumah. Pertama, persiapkan alat-alat untuk membuat biopori seperti bor tanah dan bahan-bahan untuk pengisi lubanya.

Selanjutnya kita dapat menenentukan letak atau lokasi mana yang ingin buat lubang resapan biopori tersebut. Umumnya pembuatan letak lubang biopori dibuat di halaman rumah seperti saluran pembuangan air hujan atau di dasar alur yang dibuat di sekeliling batang pohon atau pada batas taman dan sisi luarcarport. Tempatnya sudah ditentukan, kita tinggal membuat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10-30 cm.

Desain juga kedalamannya kurang lebih 100 cm atau tidak sampai melampaui muka air tanah. Jika air tanahnya ternyata dangkal, sebaiknya jarak yang disarankan antarlubang yaitu antara 50-100 cm. Setelah lubang biopori selesai dikerjakan, hal lain yang harus kita lakukan adalah memperkuat mulut lubang tersebut dengan semen. Kira-kira selebar 2-3 cm dengan ketebalan 2 cm di sekeliling mulut lubang.

Setelah letak sudah ada, lubangnya sudah jadi, selanjutnya beralih pada isi yang akan ditaruh pada lubang tersebut. Kita bisa mengisi lubang biopori dengan sampah organik, bisa meliputi sampah-sampah di dapur, sisa tanaman, dedaunan atau pangkasan rumput yang bisa menampung kira-kira 7-8 liter sampah organik. Bila lubang yang dibuat berdiameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm, maka setiap lubang dapat menampung 7-8 liter sampah organik.

Idealnya, sampah organik mampu bertahan selama 2 hingga 3 hari. Jadi, sesudah sampah menyusut dan terjadi pelapukan, Kita bisa mengisi kembali lubang tersebut dengan sampah organik lainnya. Di lubang tersebut biasanya juga terdapat bakteri yang berfungsi untuk mengurai sampah organik. Selain itu, jika sudah terjadi proses pelapukan, maka kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan.Lubang biopori memang memiliki banyak sekali manfaat, namun yang terpenting adalah jangan lupa untuk merawat lubang biopori tersebut agar keseimbangan lingkungan.

BERITA TERKAIT

Politik dan Ekonomi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Drama politik ekonomi semakin dipertontonkan para elite politik…

SDM Jadi Perhatian Pemerintah - Alokasi Anggaran untuk Pendidikan dan Kesehatan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah akan memperhatikan secara serius kualitas sumber…

Tiga Tantangan Lingkungan Jelang 2030

Tiga Tantangan Lingkungan Jelang 2030 NERACA Jakarta - Akademisi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Emil Salim mengatakan bahwa menjelang…

BERITA LAINNYA DI HUNIAN

BUMN Diusulkan Bantu Milenial Miliki Rumah

BUMN Diusulkan Bantu Milenial Miliki Rumah NERACA Jakarta - Pengamat properti, Ali Tranghanda menyampaikan usulan agar BUMN dapat membantu generasi…

Perusahaan Properti Karawang Kembangkan Hunian Ala Jepang

Perusahaan Properti Karawang Kembangkan Hunian Ala Jepang NERACA Karawang - Perusahaan properti di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, berinovasi mengembangkan hunian…

Adhi Commuter Properti Garap Pasar LRT

Adhi Commuter Properti Garap Pasar LRT NERACA Jakarta - PT Adhi Commuter Properti (ACP) anak perusahaan PT Adhi Karya (Persero)…