Menanti Data BPS, IHSG Bergerak Konsolidasi

NERACA

Jakarta – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir pekan kemarin, berhasil ditutup rebound 22,511 poin (0,53%) ke level 4.256,436. Sementara Indeks LQ45 menguat 2,506 poin (0,36%) ke level 704,885. Menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, memberikan sentimen positif terhadap indeks BEI. Kondisi ini direspon aksi beli pelaku pasar yang berhasil mendorong indeks harga saham gabungan (IHSG) naik cukup tinggi.

Kata analis PT Anugerah Sekurindo, Indah Bertoni Rio, penguatan rupiah mendorong sebagian saham-saham di Bursa domestik kembali menguat sehinga indeks BEI kembali berada di area positif, “Setelah mengalami tekanan dalam beberapa hari, pelaku pasar mulai masuk ke pasar dengan membeli secara selektif saham-saham tertentu,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia juga memperkirakan, penguatan indeks BEI pada akhir pekan kemarin hanya bersifat sementara, hal itu dikarenakan beberapa pelaku pasar melakukan transaksi secara selektif. Menurutnya, menjelang dipublikasikannya indikator data ekonomi Indonesia, indeks BEI masih akan terus berfluktuasi.

Lanjutnya, penguatan indeks BEI akhir pejan kemarin juga di picu aksi beli investor asing. Tercatat pelaku pasar asing membukukan beli bersih (foreign net buy) senilai Rp121,825 miliar pada akhir pekan kemarin. Berikutnya, indeks BEI Senin awal pekan, diproyeksikan akan bergerak konsolidasi menunggu sentimen positif dari data inflasi bulanan yang akan di rilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Pada perdagangan Jum’at akhir pekan, saham-saham berbasis agrikultur memimpin penguatan. Tujuh sektor berhasil menguat di menit-menit terakhir. Tiga sektor masih melemah di zona merah. Aksi beli dilakukan investor asing dan domestik. Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi hanya sebanyak 79.945 kali pada volume 3,265 miliar lembar saham senilai Rp 3,178 triliun. Sebanyak 161 saham naik, sisanya 86 saham turun, dan 90 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia bergerak variatif menutup perdagangan akhir pekan. Penguatan tertinggi dipegang oleh bursa saham Hong Kong. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 5.650 ke Rp 28.700, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 550 ke Rp 37.000, J Resources (PSAB) naik Rp 400 ke Rp 2.500, dan Bank Mayapada (MAYA) naik Rp 310 ke Rp 1.800.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Prima (LPIN) turun Rp 300 ke Rp 3.850, Charoen Pokphand (CPIN) turun Rp 125 ke Rp 3.400, United Tractor (UNTR) turun Rp 100 ke Rp 18.250, dan Matahari (LPPF) turun Rp 100 ke Rp 11.550.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup terkoreksi tipis 1,560 poin (0,04%) ke level 4.232,365. Sementara Indeks LQ45 berkurang 1,218 poin (0,17%) ke level 701,161. Saham-saham komoditas dan finansial masih jadi incaran invetsor. Tapi aksi jual juga terjadi di saham-saham lapis dua sehingga menahan laju penguatan IHSG.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi hanya sebanyak 42.019 kali pada volume 1,797 miliar lembar saham senilai Rp 1,404 triliun. Sebanyak 117 saham naik, sisanya 74 saham turun, dan 90 saham stagnan. Pergerakan bursa-bursa di Asia masih sama seperti diawal perdagangan. Beberapa mampu menguat, seperti bursa China dan Hong Kong. Jepang yang mengalami deflasi saja bursanya bisa kena koreksi gara-gara tak ada katalis positif.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 650 ke Rp 28.800, J Resources (PSAB) naik Rp 250 ke Rp 2.350, Astra Agro (AALI) naik Rp 150 ke Rp 22.300, dan Bank Mega (MEGA) naik Rp 110 ke Rp 2.000. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Matahari (LPPF) turun Rp 300 ke Rp 11.350, Indocement (INTP) turun Rp 100 ke Rp 18.850, Indofood CBP (ICBP) turun Rp 100 ke Rp 9.800, dan Hero Supermarket (HERO) turun Rp 100 ke Rp 2.550.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 12,35 poin atau 0,29% menjadi 4.221,57. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 3,23 poin (0,47%) ke level 699,06. Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah mengatakan, sentimen nilai tukar rupiah dan tapering off AS, masih menjadi kekhawatiran pelaku pasar saham domestik, “Pelemahan rupiah disebabkan oleh sejumlah faktor yakni membaiknya serangkaian data AS, neraca perdagangan dan pembayaran Indonesia yang belum menunjukan perbaikan signifikan, dan kebutuhan terhadap dolar AS jelang akhir tahun,”tuturnya.

Sementara itu, lanjut dia, data inflasi yang diperkirakan stabil diharapkan menjadi katalis positif bagi IHSG. Bank Indonesia memprediksikan bahwa laju inflasi November pada kisaran 0,05% sampai 0,1% atau tidak terlampau jauh dari inflasi bulan Oktober yang sebesar 0,09%.

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Yualdo Yudoprawiro mengatakan bahwa IHSG berpeluang menguat pada akhir pekan seiring mulai stabilnya pergerakan nilai tukar rupiah. Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 39,22 poin (0,16%) ke level 23.828,31, indeks Nikkei-225 TURUN 3,64 poin (0,02%) ke level 15.723,48, dan Straits Times melemah 10,85 poin (0,34%) ke posisi 3.175,52. (bani)

Related posts