Pendapatan Bersih Astra Tembus Rp141,8 Triliun - Januari-September 2013

NERACA

Bandung - PT Astra International Tbk dan anak perusahaannya telah mengumumkan bahwa kinerja Perseroan dan anak perusahaan pada sembilan bulan pertama 2013 atau hingga September turun dibanding periode sama tahun lalu.

Pendapatan bersih hingga September 2013 mencapai Rp141,8 triliun, turun dibandingkan periode yang sama tahun 2012. Sedangkan laba bersih mencapai Rp13,5 triliun, juga turun 8% dari Rp14,7 triliun. Laba bersih per saham turun 8 persen menjadi Rp333 per saham.

"Meski volume penjualan dalam kondisi baik, pendapatan masih dipengaruhi oleh kompetisi pasar mobil, kenaikan biaya tenaga kerja, dan menurunnya harga komoditas," kata Chief of Corporate Communications PT Astra International Tbk Arief Istanto saat Workshop wartawan industri dan otomotif di Bandung, Jumat (29/11).

Dia menjelaskan pendapatan tersebut didapat dari anak perusahaan di beberapa bidang seperti otomotif, jasa keuangan, alat berat dan pertambangan, agribisnis dan infrastruktur dan logistik. Untuk otomotif, laba bersih divisi ini turun 5% menjadi Rp6,9 triliun, terdiri dari Rp3,2 triliun berasal dari Perseroan dan anak perusahaan serta Rp3,7 triliun dari perusahaan asosiasi dan jointly controlled entities.

"Sepanjang sembilan bulan pertama permintaan tetap tinggi, namun peningkatan persaingan akibat meningkatnyameningkatnya kapasitas produksi domestik serta tinggi biaya tenaga kerja," ujar Arief.

Sedangkan pada divisi keuangan mengalami kenaikan 17% menjadi Rp3,3 triliun. Divisi alat berat sendiri turun 23% menjadi Rp2,1 triliun. Agribisnis yakni PT. Astra Agro Lestari Tbk (AAL) mengalami penurunan sebesar 45% menjadi Rp726 miliar. Sedangkan pada divisi infrastruktur dan logistik turun sebesar 28% menjadi Rp339 miliar.

Naik 7%

Arief juga menjelaskan PT Astra International Tbk menyatakan bahwa total penjualan mobil nasional meningkat 11% menjadi 908 ribu unit. Di mana, penjualan mobil Grup Astra sendiri mengalami kenaikan 7% menjadi 479 ribu unit dengan penurunan pangsa pasar dari 55% menjadi 53%. "Toyota, Daihatsu, Isuzu, UD Trucks dan Peugeot, mobil Grup Astra naik 7%, termasuk LCGS Agya dan Aylia yang dijual pada bulan September," jelas dia.

Dia juga mengungkapkan, penjualan sepeda motor Honda keluaran Astra Honda Motor (AHM) meningkat 13% menjadi 3,5 juta unit dengan peningkatan pangsa pasar dari 58% menjadi 60%. Sementara itu, lanjut Arief, dengan meningkatnya kedua sektor penjualan automotif Astra, masih belum meningkatkan pendapatan serta laba bersih untuk Grup Astra.

"Volume penjualan otomotif dalam kondisi baik, pendapatan kita masih dipengaruhi ketatnya kompetisi pada pasar mobil, kenaikan biaya kerja, serta harga komoditas yang turun," tutur dia.

Kemudian Arief menjelaskan laba bersih divisi alat berat dan pertambangan turun 23% menjadi Rp2,1 triliun. PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki oleh perseroan, melaporkan penurunan pendapatan bersih sebesar 15%, sementara laba bersih turun 24% menjadi Rp3n4 triliun.

"Pendapatan bersih segmen usaha mesin kosntruksi turun 35%, dikarenakan turunnya penjualan alat berat Komatsu sebesar 39% menjadi 3.303 unit. Hal ini terjadi akibat menurunnya permintaan dari sektor tambang, terutama untuk unit-unit besar," jelas dia.

Dia pun memaparkan PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak usaha UT di bidang kontraktor penambangan batubara, melaporkan peningkatan pendapatan bersih sebesar 11%, dikarenakan meningkatnya produksi kontrak batubara sebesar 14% menjadi 78 juta ton dan kontrak pengerjaan pemindahan tanah (overburden removal) sebesar 1% menjadi 639 juta ton.

"Anak perusahaan UT ini melaporkan penurunan pendapatan bersih sebesar 50% yang disebabkan oleh menurunnya penjualan batubara sebesar 36% menjadi 2,9 juta ton. Penurunan harga batubara dan kenaikan bahan bakar memberikan dampak negatif pada laba bersih perusahaan," tambah Arief.

Dampak Kenaikan BI Rate

Sementara itu, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor Rachmat Samulo mengatakan meskipun nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan. Pelemahan tersebut terjadi, dikarenakan dolar AS terdepresiasi kuat akibat data-data makro ekonominya yang menunjukkan perbaikan. Kondisi pasar di Indonesia memang sulit, namun dia menegaskan tetap optimistis dalam penjualan Grup Astra.

"Kalau dilihat dari hitung-hitungan yang matematis itu memang sulit, BI Rate itu tidak terjadi bulan ini saja, tapi beberapa bulan lalu juga, kalau kita lihat market, kita tetap bertengger 100 ribu unit," kata dia.

Rahmat mengakui, terjadinya gejolak ekonomi di Indonesia seperti kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate yang beberapa waktu lalu telah dirilis oleh Bank Indonesia (BI). Di mana, masih ada aspek positif yang masih didapat oleh Group Astra seperti penjualan yang masih mencapai 100 ribu unit.

"Ada aspek positif lain di Indonesia, seperti kelas menengah kita, komposisi generasi kita, komposisi konsumsi rumah tangga 43% di balik faktor negatif tadi, itulah yang membuat kita bertengger 100 ribu unit. Tapi kita tetap optimistis tapi sulit untuk diprediksi," jelas dia.

Related posts