Dukung Pelestarian Hiu, KKP Terapkan Managemen Berkelanjutan - Pengelolaan Sumber Daya Laut

NERACA

Jakarta - Perairan Indonesia danugerahi memilik keragaman ikan, salah satunya adalah ikan hiu yang berbagai jenis. Kenyataan di beberapa daerah, ada nelayan menangkap hiu untuk meningkatkan pendapatan mereka. Tetapi di sisi lain, nelayan harus dilengkapi dengan tanggung jawab yang besar untuk mengelola sumber daya hiu secara berkelanjutan.

“Oleh karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkomitmen untuk mendukung pelestarian hiu dengan penerapan manajemen hiu yang berkelanjutan di Indonesia,” kata Sharif C. Sutardjo, Menteri KKP, pada pembukaan Seminar Indonesia Tatler Panda Ball "A Tribute to The Sea", di Jakarta, Jumat (29/11).

Dalam hal ini, Sharif menegaskan, dalam rangka meningkatkan pengelolaan hiu di Indonesia, KKP telah mengadopsi prinsip-prinsip Rencana Aksi Internasional (IPOA) Hiu dalam Rencana Aksi Nasional di Indonesia. Kegiatan utama rencana aksi nasional tersebut, berkaitan isu-isu penting tentang kelestarian hiu seperti taksonomi dan identifikasi spesies, akurasi data hasil tangkapan dan usaha perikanan.

“Termasuk membahas aspek sosial ekonomi, permintaan pasar yang tinggi untuk produk, memperbaharui informasi yang berkaitan dengan pemanfaatan hiu dan manajemennya,” jelasnya.

Menurut Sharif, Indonesia secara aktif melaksanakan konservasi dan pengelolaan hiu diadopsi Organisasi Wilayah Pengelolaan Perikanan (RFMOs), seperti organisasi perikanan Indian Ocean Tuna Commission (IOTC), Western Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC) dan Konvensi untuk Konservasi Southern Tuna sirip biru (CCSBT). Sebagai anggota dari RFMOs ini, Indonesia telah menerapkan kebijakan untuk kapal longline dalam bentuk pembatasan berat sirip hiu pada maksimum 5% dari berat badan hiu di kapal, dan larangan penangkapan atau wajib untuk melepaskan hidup hiu Thresher, Oceanic Whitetip hiu , dan ikan hiu paus.

“Saat ini, Indonesia mempersiapkan kebijakan nasional dalam Manajemen Konservasi Tindakan mengenai perlindungan hiu jenis Hammerhead yang tercantum dalam CITES Appendix 2 . Tindakan ini adalah komitmen KKP untuk melestarikan hiu martil yang telah diputuskan COP - CITES, di Bangkok 2013,” jelasnya.

Tindakan paling efektif untuk mencapai pengelolaan hiu berkelanjutan harus melibatkan negara-negara pengimpor, serta masyarakat internasional. Terutama berhubungan dengan permintaan pasar sirip hiu yang masih tinggi di pasar internasional. Untuk itu kebijakan penerbangan nasional Garuda Indonesia (GIA) yang telah menolak untuk mengangkut sirip hiu, bisa menjadi contoh bentuk kepedulian untuk melindungi perdagangan sirip hiu.

“KKP sangat mendukung program peningkatan kesadaran yang dilakukan di tingkat nasional, regional dan internasional seperti kegiatan yang kita hadiri saat ini. Saya percaya dengan menyelenggarakan diskusi rutin tentang topik ini, akan meningkatkan pemahaman bersama di antara kita terhadap pentingnya konservasi hiu sebagai bagian dari sumber daya laut dalam arti luas,” ujarnya.

Dijelaskan, penangkapan hiu di Indonesia diperkenalkan pada tahun 1970. Pada tahap awal, hiu diduga sebagai bycatch kapal tuna rawai. Usaha penangkapan hiu semakin tinggi setiap tahun dan hiu menjadi lebih populer ketika ada peningkatan signifikan harga sirip hiu di pasar ekspor sejak tahun 1980 sampai sekarang. Bahkan hiu menjadi spesies target nelayan di beberapa daerah di Indonesia. Terutama di desa-desa pesisir terpencil di Indonesia, hampir semua bagian tubuh hiu dimanfaatkan nelayan setempat. Namun yang utama adalah sirip hiu. Sirip ini diproses secara lokal dan dijual dalam bentuk kering untuk beberapa kota besar di Indonesia serta pasar ekspor seperti Hongkong, Singapura dan Jepang.

Sharif menambahkan, sektor perikanan memainkan peran penting dalam pembangunan Indonesia. Ikan merupakan sebagai sumber protein hewani yang penting bagi kesehatan. Ikan juga merupakan sumber pendapatan dan kesempatan kerja, pembangunan pedesaan serta merupakan sumber pendapatan devisa negara. Apalagi saat ini, permintaan pasar dan teknologi baru telah meningkatkan produksi perikanan yang menyebabkan stok ikan dianggap over eksploitasi. Untuk itu, meskipun sumber daya perikanan merupakan sumberdaya terbarukan, namun tetap harus dikelola dengan baik dan berkelanjutan.

Hanya Mitos

Banyak yang mengatakan bahwa sirip ikan hiu dapat membuat badan lebih sehat dan menjadi awet muda. Namun begitu, Direktur Eksekutif World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, Efransjah mengatakan bahwa masyarakat cenderung mengonsumsi produk ikan hiu karena "terjebak" oleh pemikiran yang sudah terbangun sejak dahulu.

"Sirip hiu yang biasanya dibikin untuk sup dianggap sangat menyehatkan, menjadi awet muda, dan dapat meningkatkan gairah serta kemampuan seksual pria itu hanya mitos saja," kata Efran.

Lebih jauh lagi dimenjelaskan bahwa, pengambilan sirip ikan hiu dengan memotong sirip dalam keadaan hidup-hidup, telah dilakukan terhadap 38 juta hiu tiap tahunnya dari 26 hingga 73 juta ikan hiu yang tertangkap dalam aktivitas perikanan dunia. Padahal hiu adalah ikan yang perkembangbiakannya lambat serta menghasilkan sedikit anakan sehingga rentan terhadap eksploitasi berlebihan. Dalam setahun hanya 6 samapi 12 ekor saja. “Parahnya perburuan hiu hanya diambilsiripnya dan dagingnya kebanyakan dibuang menjadi bangke,” ungkapnya.

Di Indonesia spisies ikan hiu paling banyak berada di laut daerah timur seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, Ambon, yang boleh dikatakan sebagai segitiga coral dimana banyak ikan berkumpulnya distu. “Oleh karena itu kami dari WWF ingin berkampanye dan mensosialisasikan kepada masyarakat agar tidak mengeksploitasi ikan hiu secara berlebihan dan sebisa mungkin melestarikan habitan ikan ini,” tutupnya.

Related posts