RI Sulit Lepas dari Ketergantungan Baja Impor

NERACA

Jakarta – Indonesia dinilai sulit lepas dari ketergantungan terhadap baja impor seperti dari China. Itu karena produsen nasional belum mampu memproduksi jenis baja yang banyak dipakai industri otomotif.

Direktur Jenderal Kerja Sama Industri Internasional Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Agus Tjahajana mengatakan hampir seluruh besi baja pada industri otomotif diimpor dari negara lain. "Banyak produk baja yang belum dibuat di Indonesia, misalnya baja untuk otomotif yang 100% masih impor. Ada bagian-bagian luar yang impor, kalau bagian dalam sudah ada yang lokal. Kalau misalnya 1 mobil bajanya 600 kg baja, kalau dikali 1 juta itu sudah berapa," ujar di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia menuturkan, produksi baja nasional saat ini baru sekitar 6-7 juta ton per tahun. Sementara kebutuhan baja nasional mencapai 9 juta ton per tahun. "Itulah kenapa impor kita masih banyak tetapi itu biasa saja dalam perdagangan," lanjut dia.

Namun, Agus yakin dengan semakin banyaknya investor yang ingin menanamkan modal membangun pabrik baja di Indonesia serta diproduksinya mobil murah dan ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) yang mempersyaratkan 80% komponen diproduksi dalam negeri, akan mendorong pertumbuhan industri baja nasional. "Dengan adanya pembangunan pabrik itu saya rasa bisa segera kita penuhi (kebutuhan baja nasional)," tandas dia.

Di tempat berbeda, PT Krakatau Steel Tbk (KS) akan menambah pasokan baja untuk industri otomotif di dalam negeri. Group Head Automotive and Heavy Equipment Sales KS Cahyo Antarikso mengatakan, perseroan sedang bekerja keras untuk meningkatkan kualitas produksi bajanya agar bisa memasok lebih banyak bagi otomotif. Saat ini, kontribusi pasokan baja dari KS untuk sektor otomotif baru sebesar 10 persen. "Kami akan tingkatkan 15 persen pada tahun ini dan 25 persen pada tahun depan," ungkap Cahyo.

Produsen baja ini akan menyediakan baja lembaran hangat dan dingin sebanyak 3.000 ton per bulan bagi Koperasi Industri Komponen Otomotif Indonesia (KIKO). KIKO merupakan salah satu koperasi yang memasok kebutuhan komponen otomotif. Sebagian komponennya dirakit untuk memproduksi konverter kit.

Menurut Cahyo, kebutuhan baja KIKO per bulan setaanyak 5.000 ton dengan 2.000 ton di antaranya hasil impor. "Kami masih menganalisis kebutuhan KIKO apa saja dan apa yang bisa kami sediakan," kata Cahyo.

Ketua KIKO M Kosasih mengatakan, peningkatan kontribusi pasokan dari KS akan membuat UKM otomotif menjadi lebih baik. Selama ini, pasokan material menjadi kendala utama bagi industri komponen. "Mudah-mudahan selanjutnya kebutuhan dari sekitar 72 UKM yang bergabung dalam KIKO ini bisa dipenuhi oleh KS," kata Kosasih.

Kosasih mengatakan, Kementerian Perindustrian serta Kementerian Koperasi dan UKM akan membantu anggotanya untuk mengurus proses Standar Nasional Indonesia (SNI). Tahun ini, KIKO menargetkan, ada sembilan dari 30 produk komponen otomotif buatannya yang sudah memiliki sertifikat SNI.

Kementerian Perindustrian, ujar Kosasih, berjanji akan membebaskan biaya untuk pembuatan SNI. KIKO bekerja sama dengan bengkel-bengkel milik Astra untuk memasarkan berbagai komponen otomotif yang diproduksi anggotanya.

Produsen otomotif berharap kebutuhan besi dan baja kendaraan dapat dipenuhi dari industri dalam negeri, sehingga dapat menggantikan sejumlah produk baja yang selama ini masih diimpor. "Selama ini industri baja nasional hanya mampu memenuhi 20 % kebutuhan besi dan baja produsen otomotif di Indonesia," kata Ketua II Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jhonny Darmawan.

Jhonny berharap, industri besi dan baja Krakatau Steel dapat meningkatkan produksi baja yang spesifikasinya sesuai kebutuhan industri otomotif nasional. Hal itu karena, hingga saat ini, sebagian kebutuhan untuk cold steel dan hot steel untuk industri otomotif masih harus didatangkan dari luar negerin (Impor).

Jhonny mengatakan, industri otomotif di Indonesia masih prospektif pada tahun 2013 yang berarti kebutuhan besi dan baja juga masih sangat besar. Gaikindo mencatat total penjualan mobil selama 10 bulan pertama tahun ini sebanyak 922.175 unit, naik 23,6 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 746.184 unit. Sebagian besar penjualan tersebut didominasi mobil-mobil bermerek Jepang. Gaikindo juga menyebutkan total ekspor mobil selama 10 bulan pertama tahun ini naik 43,3 persen dari 162.214 unit pada periode yang sama tahun lalu menjadi 232.385 unit.

Related posts