Pendapatan Tower Bersama Capai Rp 2,74 Triliun

NERACA

Jakarta – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) berhasil membukukan total pendapatan mencapai Rp2,74 triliun hingga September 2013 atau meningkat 59% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Pada periode ini, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp1,95 triliun atau naik 72% dari periode yang sama tahun lalu. Sementara, EBITDA perseroan mencapai Rp1,6 triliun atau meningkat 74% jika dibandingkan dengan periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2012.

Sementara itu, per 30 September 2013, total pinjaman (debt) perseroan, jika bagian pinjaman dalam mata uang dolar AS yang telah dilindung nilai diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya, adalah sebesar Rp11.620 miliar dan total pinjaman senior (gross senior debt) sebesar Rp8.306 miliar.“Dengan saldo kas yang mencapai Rp1,675 triliun, maka total pinjaman bersih (net debt) menjadi Rp9,94 triliun dan total pinjaman senior bersih (net senior debt) perseroan menjadi Rp6,63 triliun,”kata CEO Perseroan Hardi Wijaya Liong.

Dicatatkan pula rasio pinjaman senior bersih (net senior debt) terhadap EBITDA triwulan ketiga yang disetahunkan adalah 2,96x, dan rasio pinjaman bersih (net debt) terhadap EBITDA triwulan ketiga yang disetahunkan adalah 4,44x, dimana rasio-rasio tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan rasio yang disyaratkan dalam perjanjian pinjaman Perseroan.

Hingga saat ini perseroan memiliki 16.017 penyewaan dan 9.830 site telekomunikasi per 30 September 2013. Site telekomunikasi milik Perseroan terdiri dari 8.446 menara telekomunikasi, 1.040 shelter-only, dan 344 jaringan DAS. Dengan total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 14.633, maka rasio kolokasi (tenancy ratio) Perseroan menjadi 1,73.“Saya senang untuk mengumumkan bahwa selama sembilan bulan yang telah berjalan tahun 2013 ini, kami berhasil menyelesaikan 1.391 site dan 2.309 penyewaan secara organik. Kami tetap berkomitmen kepada pelanggan kami untuk menyediakan pelayanan terbaik dan pemenuhan permintaan secara tepat waktu.”, ungkapnya.

Perseroan juga akan menyiapkan dana investasi sekitar Rp500-550 miliar untuk memuluskan rencananya membangun 500 tower. Sebelumnya, Direktur TBIG Helmy Yusman Santoso pernah bilang, untuk membangun 1 tower, perseroan harus mengeluarkan dana investasi sekitar Rp1-1,1 miliar.

Untuk mendapatkan dana belanja modal guna mendukung ekspansi bisnisnya, perseroan akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I TBIG Tahap I Tahun 2013 senilai Rp500 miliar. Sebagian atau sekitar 50% dari total dana yang diperoleh dari hasil emisi obligasi sekitar Rp 250 miliar akan dialokasikan untuk belanja modal atau pembangunan tower tersebut.

Sehingga, dana hasil Obligasi itu dapat membangun sebagian atau sejumlah 250 tower dari target sebanyak 500 tower. Selain itu, dana hasil emisi Obligasi juga akan digunakan untuk pembayaran sebagian kewajiban keuangan entitas anak Perseroan.

Dalam mencari pendanaan, perseroan tidak hanya mengandalkan penerbitan obligasi tetapi juga akan menggunakan kas internalnya dan pinjaman perbankan guna mencapai tujuannya membangun 500 tower hingga akhir tahun ini. (nurul)

Related posts