Kinerja Asuransi Bintang Tak Terganggu - Dampak Fluktuasinya IHSG

NERACA

Jakarta – Fluktuatifnya indeks saham di pasar modal saat ini, diakui PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI) tidak terlalu dirasakan karena perseroan hanya menginvestasikan 1% dari modalnya di pasar modal. Perseroan saat ini memang hanya menginvestasikan 1% dari modalnya sebesar Rp160 miliar ke pasar modal dalam instrumen saham, reksa dana ataupun obligasi.

Hal ini diungkap oleh Direktur Keuangan ASBI Jenry Cardo Manurung di Jakarta akhir pekan kemarin, “Hanya sekitar Rp1,6 miliar hingga Rp2 miliar saja dana kita yang diinvestasikan ke pasar modal. Jadi, adanya penurunan Indeks ataupun saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) belakangan ini tidak berdampak signifikan terhadap dana nasabah kami,”katanya.

Dia menyebutkan, tahun lalu, perseroan menginvestasikan di pasar modal hingga Rp7 miliar tetapi pada tahun ini hanya sekitar Rp2 miliar saja. Selebihnya, perseroan menyimpan di deposito karena dinilai lebih aman dan tidak terkena dampak seperti fluktuatifnya ekonomi.“Kami memang sangat berhati-hari dalam menempatkan dana investasi sesuai arahan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebab, dana yang dikelola oleh perusahaan merupakan uang masyarakat”, ujarnya.

Komposisi alokasi dana perseroan adalah pasar modal saat ini hanya sekitar 1%, deposito 70%, obligasi 21%, properti 7,5% dan sisanya ke sektor lainnya. “Kalau dalam PMK kami tidak ada batasan untuk alokasi dana ke pasar modal. Tapi kami memang membatasi, karena kami sadar investasi di pasar modal itu memiliki risiko tinggi. Kedepan kami tetap akan perbanyak di deposito ketimbang pasar modal, karena lebih aman”, jelasnya.

Sementara itu, perseroan mencatat beban klaim cukup tinggi di tahun ini, dimana klaim netto mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 60,73% atau mencapai Rp17,21 miliar per September 2013 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Presiden Direktur perseroan Zafar D Idham menjelaskan, hal ini terjadi sehubungan dengan adanya klaim-klaim besar yang timbul secara insidentil khususnya di jenis asuransi properti, marine cargo dan kendaraan. Beberapa klaim besar sebagai contoh adalah longsornya tambang batu bara yaitu PT Moris.“Adanya logsor ini mengakibatkan terbenamnya alat pengeruk batu bara dengan nilai klaim gross mencapai Rp13 miliar”, ujarnya.

Selain itu, beban klaim yang cukup tinggi karena ada klaim kendaraan PT Wangsa Mitra Fantasi sebesar Rp4,1 miliar dan satu klaim kendaraan bermotor dengan nilai klaim PT WRP pada tanggal 2 Januari 2013 yang sebesar US$537.938 dan Rp56,37 juta atau secara total rupiah sebesar Rp5,97 miliar.

Beban komisi netto yang mengalami penurunan, terutama disebabkan terjadi peningkatan kontribusi ujrah syariah yang dicatat sebagai komisi diterima. Perubahan platform Synergy dan retail business di sisi lain mengurangi besaran komisi dibandingkan dengan jalur distribusi lainnya.

Di sisi bisnis syariah ujrah yang diperoleh Perseroan (di sisi surplus underwriting dan terbaru merupakan beban ujrah), meningkat 35,71% dari Rp9,9 miliar di tahun 2012 menjadi Rp13,4 miliar di tahun ini. “Hal ini merupakan konsekuensi logis dari peningkatan kontribusi asuransi kendaraan bermotor dan kesehatan”, imbuhnya. (nurul)

Related posts