Perkembangan TIK Sulit Dikejar Perguruan Tinggi - Program CSR Perusahaan TIK Solusinya

Pemerintah bersama dengan perusahaan TIK yang berinvestasi di Indonesia bersinergi memberikan pelatihan kepada 1000 mahasiswa Indonesia. Upaya tersebut dilakukan demi menjawab keterlambatan kurikulum dan program studi PT di Indonesia dalam mengikuti perkembangan TIK yang pesat dan cepat berubah

NERACA

“The machine invades me all day” (Sharon Atkins).

Jika menilik fakta bahwa telekomunikasi telah berkembang dengan pesatnya, pernyataan yang diungkapkan oleh Sharon tersebut bukanlah hal tabu dan aneh lagi. Dalam hal ini, manusia dituntut untuk selalu haus akan ilmu pengetahuan, khususnya dibidang Teknologi Informasi dan Telekomunikasi (TIK). Ya, belajar dan taklukan teknologi menjadi pilihan yang tersisa atau tertinggal sama sekali.

Pada dasarnya perkembangan teknologi merupakan suatu hal yang tidak terelakkan. Bagaimana tidak? Kebutuhan dan keinginan manusia yang tidak pernah terpuaskan telah mendorong perkembangan TIK melesat jauh dari apa yang pernah dibayangkan oleh manusia. Sayangnya, perkembangan TIK yang pesat dan cepat berubah ini tidak mampu dikejar oleh Perguruan Tinggi (PT) yang ada di Indonesia.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Informatika, Aizirman Djusan menuturkan, walaupun 250 program studi di perguruan tinggi di Indonesia telah meluluskan 300 ribu tenaga TIK per tahun secara kuantitatif cukup, namun secara kualitatif kurang.

"Perkembangan TIK beberapa tahun terakhir ini sulit dikejar oleh perguruan tinggi. Pasalnya perkembangan TIK sangat pesat dan cepat berubah, sementara untuk mengubah dan menambah kurikulum dan program studi guna mengikuti perkembangan tersebut lamban,” kata Aizirman yang mengikuti program "Telecom Seeds for the Future" di Kantor Pusat Huawei di Shenzhen, China belum lama ini.

Agar lulusan dan mahasiswa tidak tertinggal oleh perkembangan terbaru TIK sebelum memasuki dunia kerja, Kementerian Komunikasi dan Informatika bersinergi dengan perusahaan penyedia solusi komunikasi, Huawei dengan memberi beasiswa pelatihan bagi mahasiswa melalui program Corporate Social Responsibility (CSR)-nya. Kerja sama pemerintah dengan perusahaan yang kini pendapatannya sudah 11 ribu kali modalnya ini dijadwalkan berlangsung selama tiga tahun.

“CSR Huawei difokuskan pada peningkatan kualitas SDM TIK untuk mengiringi perkembangan TIK yang sangat pesat satu dekade terakhir ini, dalam bentuk beasiswa universitas, pelatihan bagi tenaga kerja maupun program pengalaman kerja bagi mahasiswa,” ujar Kepala CSR Huawei Technologies, Holy Ranaivozanany, menambahkan.

Sebanyak 1.000 mahasiswa dilatih secara bertahap. Mahasiswa dari 11 perguruan tinggi negeri (PTN) ini dilatih di Balai Pelatihan dan Pengembangan TIK di Jababeka, Cikarang dan Pusat TIK Nasional yang dibangun di kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Ciputat. Selanjutnya, para mahasiswa terbaik akan diundang untuk mengunjungi kantor pusat Huawei di Shenzhen, China.

Ke-11 PTN itu, yakni Universitas Indonesia, Institute Teknologi Bandung, Institut Teknologi Surabaya, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Negeri Padang untuk bidang teknologi informasi, dan Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas, Universitas Airlangga, dan Universitas Hasanudin untuk bidang teknologi komunikasi. Saat ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sedang menggodok modul-modul yang akan diberikan serta mempersiapkan instruktur yang akan mengajarkan modul-modul tersebut.

Di Indonesia program CSR Huawei, antara lain dengan bekerja sama dengan ITB membangun training center TIK dengan dana sebesar US$1 juta pada 2011 dan memberi pelatihan TIK kepada 15 mahasiswa ITB dan Telkom University di kampus Huawei di China pada November 2013.

Sementara itu, Direktur Kerja sama Ekonomi Asia Kemenko Perekonomian, Bobby Siagian mengatakan bahwa pihaknya bertugas mengawal komitmen jangka panjang dari MoU yang sudah ditandatangani kementeriannya bersama Kementerian Komersial China di bidang infrastruktur telekomunikasi dan kerja sama investasi lainnya pada bulan Oktober lalu.

"Saya harap perusahaan-perusahaan TIK lainnya yang berinvestasi di Indonesia mengikuti jejak Huawei yang memiliki fokus program pada pengembangan SDM TIK. Produk peralatan TIK Huawei memang digunakan 50-60% operator telepon di Indonesia," kata dia.

Related posts