Keamanan Operator Telepon Indonesia Dipertanyakan - Penyadapan Serat Optik, Satelit dan Telepon

Pemberitaan tentang penyadapan Presiden SBY oleh mata-mata Amerika Serikat dan Australia memang tidak henti-hentinya terus terdengar. Kasus penyadapan memang bukan suatu hal yang aneh dalam dunia intelijen. Namun yang membuatnya menjadi permasalahan adalah penyadapan ini disebarkan dan tersebar hingga beritanya diangkat oleh pemberitaan dunia. Diketahui pula bahwa penyadapan intelijen Amerika Serikat dan Australia kepada sejumlah petinggi Pemerintahan Indonesia disebut-sebut melalui bantuan Singapura.

Meski dalam intelijen dan mengungkap kasus korupsi juga lain-lain, penyadapan adalah hal yang biasa. Namun masalah penyadapan oleh intelijen Australia terhadap pesawat telepon yang digunakan oleh beberapa pejabat senior RI, termasuk pesawat telepon Presiden SBY dan Ibu Anie Yudhoyono telah mengakibatkan membekunya berbagai masalah politik dan ekonomi maupun pertahanan dan keamanan. Presiden SBY bahkan menarik pulang Duta Besar RI di Caberra.

Bagaimana penyadapan dapat terjadi dan mengapa alat komunikasi yang digunakan oleh berbagai pejabat tinggi negara RI ternyata rawan dan tidak mempunyai alat penangkal mungkin bisa menjadi pertanyaan yang besar. Pembocoran aksi penyadapan ini tidak dilakukan awalnya oleh pihak Australia, tetapi oleh Edward Snowden, seorang mantan rekanan Dewan Keamanan AS, yang kemudian mencari suaka di Rusia.

Dalam salah satu dokumen yang Snowden yang berjudul "3G Impact and Update"tercantum beberapa nama pejabat Indonesia lengkap dengan jenis ponsel yang mereka gunakan. Aksi penyadapan tersebut diperkirakan dilakukan tahun 2009. Susilo Bambang Yudhoyono, jenis ponsel Nokia E90-1, Kristiani Herawati (Ani Yudhoyono), jenis ponsel Nokia E90-1, Boediono (Wakil Presiden), jenis ponsel Blacberry Bold (9000), Jusuf Kalla (mantan Wakil Presiden), jenis ponsel Samsung SGH-Z370, Dino Pati Djalal (juru bicara presiden urusan luar negeri), jenis ponsel Blackberry Bold (9000).

Tidak hanya itu, Andi Mallarangeng (juru bicara presiden urusan dalam negeri), jenis ponsel Nokia E71-1, Hatta Rajasa (Menteri Sekretaris Negara), jenis ponsel Nokia E90-1, Sri Mulyani Indrawati (Menko Ekonomi), jenis ponsel Nokia E90-1, Widodo Adi Sucipto (Menko Polkam), jenis ponsel Nokia E66-1, Sofyan Djalil (Menteri Komunikasi dan Informatika), jenis ponsel Nokia E90-1 menjadi korban penyadapan oleh Australia. Dugaan bantuan Singapore pun sedang diusut tentang dugaan keterlibatan operator telekomunikasi milik pemerintah Singapura, Singapore Telecom (SingTel).

Pengamat komunikasi Heru Sutadi mengatakan, yang disebut secara jelas adalah Singtel oleh snowden. “Tapi tampaknya, Temasek group di mana selain SingTel mereka jadi ada STT (Singapore Technologies Telemedia) yang pernah memiliki indosat.” Ucap Heru Sutadi kepada Neraca.

Seperti diketahui, Singtel memiliki saham sebesar 35% saham PT Telkomsel. Hal ini pula yang akhirnya menimbulkan kekhawatiran sejauh mana keamanan operator Indonesia dari celah penyadapan.

“Kalau kita lihat modusnya, ada tiga hal yg terjadi: penyadapan lewat serat optik sea me we, penyadapan lewat satelit dan penyadapan telepon. Penyadapan lewat serat optik disebut snowden adalah keterlibatan Singtel Singapura dan Korea Selatan. Sementara satelit yang disadap adalah satelit Palapa di mana operator bisa terlibat, bisa juga tidak karena satelit beli di AS,” ujar Heru.

Sementara itu, untuk sadap telepon, Heru melihat ada backdoor yang terbuka lebar, yaitu alat sadap telepon dan juga cyber forensic hibah Australia kepada Kepolisian Indonesia.

Beberapa perkiraan pun akhirnya merebak bahwa berita penyadapan Australia terhadap pesawat telepon beberapa pejabat senior RI antara lain pesawat telepon Presiden SBY dan Ibu Anie Yudhoyono adalah upaya Edward Snowden membawa kepentingan Rusia, untuk mengadu domba Indonesia dengan Blok Barat (AS, Inggris, Kanada, Australia dan New Zealand). Karena, seperti diperkirakan, Edward Snowden adalah mantan agen KGB yang berhasil menyusup ke dalam Dewan Keamanan AS.

Related posts