Rupiah Semakin Loyo - MELESAT DEKATI Rp 12.000/US$

Jakarta - Ada banyak faktor yang menyebabkan nilai rupiah makin terkulai. Salah satunya adalah defisit neraca perdagangan Indonesia yang tinggi. Sementara pengamat, akademisi dan pengusaha menilai instrumen BI Rate bukan obat mujarab untuk atasi defisit tersebut, melainkan perlu meningkatkan daya saing industri nasional untuk mendorong ekspor.

NERACA

Menurut data Bank Indonesia (BI), kurs tengah rupiah terhadap dolar AS kemarin mencapai batas psikologis mendekati Rp 12.000 yaitu Rp 11.930, lebih rendah dibandingkan posisi rupiah pada awal tahun ini (2 Januari) Rp 9.685 per US$, atau terdepresiasi 23,18% dalam sebelas bulan pertama 2013. Sementara rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis sudah melewati Rp 12.000 per dolar AS.

Pengamat ekonomi Universitas Atmajaya A. Prasetyantoko mengatakan, posisi nilai tukar rupiah atas US$ memang semakin melemah, dan hampir menembus angka Rp12.000 disebabkan banyaknya sentimen negatif dari pasar domestik. Salah satunya, beban utang luar negeri yang jatuh tempo. “Faktornya domestic market. Pembayaran utang jatuh tempo luar negeri itu yang dirilis BI jadi sentimen rupiah,” ujarnya kepada Neraca, Kamis (28/11).

Menurut dia, dari Januari hingga September 2014, utang jatuh tempo Indonesia mencapai US$25,7 miliar atau sekitar Rp 294 triliun. Selain itu, neraca perdagangan yang akan dirilis juga masih belum terlalu baik. Pasalnya, hingga kini Indonesia belum dapat memperbaiki struktur industri untuk dapat meningkatkan ekspor.

BI pun untuk saat ini, kata dia, membiarkan hal tersebut karena tidak ada urgensi untuk menahan itu. “Karena cadangan devisa kita semakin terbatas, dan tidak ada ekspor yang cukup besar juga dalam waktu dekat.” ujarnya.

Seperti diketahui dalam 5 bulan terakhir suku bunga BI Rate melesat tinggi hingga 175 basis poin yaitu dari 5,75% (Juni) menjadi 7,5% , sementara total defisit transaksi berjalan (current account) selama Januari-September 2013 mencapai US$24,276 miliar, hampir sama dengan posisi selama 2012 yaitu US$24,416 miliar.

Oleh karena itu, menurut dia, kenaikan BI Rate sangat tidak menyelesaikan masalah. Hal ini terbukti dari semakin melemahnya nilai tukar rupiah saat ini. Sebaliknya, dengan kenaikan suku bunga acuan itu justru semakin menekan industri dan ekonomi Indonesia. “Masalah sebenarnya tidak di moneter, tapi di industri. Jadi yang seharusnya dilakukan yaitu meningkatkan daya saing industri untuk mendorong ekspor.” imbuhnya.

Rektor Institute Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie, Prof Dr Anthony Budiawan memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan menembus angka Rp12.000. Pelemahan nilai tukar rupiah dikarenakan tidak berhasilnya kebijakan BI Rate belum lama ini seharusnya diharapkan mampu menahan penurunan kurs rupiah.

Menurut dia, kenaikan BI Rate ini pasti memukul perekonomian Indonesia dimana pertumbuhan investasi akan menurun dan pertumbuhan konsumsi juga akan menurun. Pertumbuhan investasi menurun dikarenakan kenaikan suku bunga pinjaman perbankan akibat dari kenaikan BI Rate sehingga para investor masih berpikir-pikir untuk menanamkan inevstasinya di Indonesia.

“Oleh karena itu, pelemahan rupiah bukan karena BI Rate terlalu rendah melainkan apakah BI mempunyai stok dolar yang cukup untuk memenuhi permintaan dollar yang meningkat,” ujarnya.

Peran Asing?

Ekonom UI Prof Dr Adler H Manurung menilai kebijakan BI yang menaikkan suku bunga acuan hingga 175 basis poin dalam enam bulan terakhir belum mampu meredam depresiasi rupiah maupun inflasi.

"Peningkatan BI Rate yang dilakukan bertahap dari 5,75 persen pada Mei 2013 hingga ke level 7,5 persen sejak pertengahan November 2013, belum menunjukkan efektivitasnya dalam meredam depresiasi rupiah," kata Adler dalam sebuah seminar di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, hingga akhir tahun ini, nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada di level Rp11.000-Rp12.000. Untuk berada di batas bawah, menurutnya perlu ada kebijakan efektif dari Bank Indonesia. "Level rupiah kita tidak mungkin lari di bawah Rp11.000, harus ada kebijakan yang ampuh supaya di bawah itu," ujarnya.

Adler juga menduga ada peran asing yang bermain dan berkontribusi terhadap pelemahan rupiah, khususnya dalam bentuk sertifikat Bank Indonesia (SBI). "Dugaan sementara saya SBI itu banyak dimiliki asing, karena data itu kita tidak punya. Dengan begitu, berarti BI harus bayar bunga kepada asing-asing dalam bentuk valas," ujarnya.

Anggota Komte Ekonomi Nasional (KEN) Prof Dr Didiek J Rachbini mengatakan, adanya pelemahan rupiah yang terjadi karena memang neraca perdagangan nasional yang selalu defisit, sektor industri, dan sektor riil yang menjadi biang keladi dari adanya keterpurukan ekonomi nasional secara keseluruhan.

“Kebijakan menaikkan BI Rate hanya sebagai pemadam saja, biang kerok dari pelemahan rupiah jelas sekali karena neraca perdagangan nasional yang selalu defisit, impor kita terlalu besar yang tidak mampu dibendung dengan ekspor nasional,” katanya kemarin.

Dan faktor utama kenapa neraca perdagangan kita selalu defisit, karena Indonesia terlalu open acces terhadap perdagangan liberal international. Adapun demikian dilihat dari kacamata kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah sekarang ini tidak mencoba untuk mengerem dan bangkit untuk dapat menekan impor, bahkan seolah-olah memberikan sinyal untuk terus dijadikan pasar dalam liberalisme perdagangan.

Kondisi krisis yang menerpa Indonesia tidak hanya sekali ini saja, tapi parahnya pemerintah sekarang tidak penah mau belajar dengan bagus, masih boros terhadap devisa negara, dari semua lini dan sektor diombral tidak membangun pondasi dan fundamental yang kuat sehingga semakin lama semakin rapuh secara perekonomia.

“Untuk memperbaiki krisis ekonomi nasional yang kian memburuk, rupiah yang terus melemah tidak bisa dilakukan secara instan, tapi dilakukan secara perlahan. Intinya mau belajar, dan mencoba dengan perlahan-lahan,” ujar Didiek.

Pengamat ekonomi UI Eugenia Mardanugraha menilai bahwa pelemahan rupiah terjadi karena beberapa hal yaitu ekonomi Amerika Serikat (AS) sudah mulai pulih sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukarnya, dan kedua adalah ekonomi Indonesia yang masih rapuh. “Ekonomi AS yang mulai menguat tetapi tidak diimbangi dengan ekonomi Indonesia,” katanya.

Dia sangat prihatin dengan salah satu pejabat BI yang menilai bahwa depresiasi rupiah dinilai masih wajar karena bisa menekan defisit transaksi berjalan, itu adalah pernyataan omong kosong. “Depresiasi tidak secara otomatis bisa meningkatkan ekspor dan mengurangi impor. Karena sebagian besar produk di Indonesia telah dikuasi oleh China. Sementara perusahaan-perusahaan di Indonesia telah dimiliki oleh asing,” tegasnya.

Menurut dia, cara yang paling mudah adalah dengan mengintervensi pasar lewat cadangan devisa. Akan tetapi, kata dia, cadangan devisi Indonesia jumlahnya terbatas. “Cadangan devisa Indonesia terlalu tipis sehingga tidak bisa mengintervensi terlalu banyak,” imbuhnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi memperkirakan nilai tukar rupiah sampai akhir tahun masih akan terus berfluktuasi dan melemah, ini terjadi karena seiring perbaikan ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat, yang lebih parah lagi fundamental ekonomi Indonesia tidak kuat.

"Beberapa paket kebijakan yang di buat oleh pemerintah juga tidak berjalan dengan baik di tambah dengan BI yang seenaknya menaikan suku bunga acuan yang membuat sektor rill tidak bergerak," ujarnya, Kamis.

Deputi Gubernur Senior BIMirza Adityaswara mengungkapkan, ini terjadi karena adanya permintaan dolar pada akhir bulan. “Sebenarnya ini adalah hal yang normal saja, yakni meningkatnya permintaan dollar pada akhir bulan untuk impor dan pembayaran dividen serta pembayaran utang,” kata dia, kemarin.

Selain itu, dia menjelaskan defisit neraca ekspor dan impor memang sudah terjadi penurunan. “Untuk defisit neraca ekspor impor memang sudah mengecil namun untuk benar-benar memulihkan masih perlu waktu,” ujarnya. Lebih lanjut dia juga mengatakan, ini juga merupakan masa penyesuaian yang dihadapi rupiah.

Sementara Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs mengatakan, terkait pelemahan rupiah dalam sepekan ini terjadi akibat sentimen eksternal, yakni pernyataan The Fed yang kemungkinan akan melakukan penarikan stimulus pada Desember tahun ini. Peter juga menjelaskan, hal ini terjadi bukan karena kebijakan BI Rate yang tidak efektif, melainkan tekanan terhadap neraca perdagangan yang terlalu besar. lia/sylke/iwan/mohar/agus/bari

Related posts