Garap Tol, Astra Telan Dana Rp 2,8 Triliun - Danai Lewat Obligasi

NERACA

Jakarta –Bisnis PT Astra Internasional Tbk (ASII) terus menggurita dan tahun depan, Astra mulai menggarap proyek-proyek infrastruktur, terutama dalam pengembangan infrastruktur jalan tol pada 2014.

Kata Wakil Direktur ASII, Paulus Bambang, alasan pihaknya mengembangkan bisnis jalan tol rersebut dikarenakan banyaknya peluang bisnis yang dapat diberikan pada segmentasi jalan tol, “Proyek yang kita garap sekarang baru satu, yaitu ruas Mojokerto-Kertosono dan kami telah anggarkan dana Rp2,8 triliun,”ujarnya di Jakarta, Kamis (28/11).

Menurutnya, aksi korporasi Astra lainnya yaitu pengambilalihan dan pengembangan pelabuhan di Provinsi Kalimantan Timur yang memakan dana Rp600 miliar. Sementara untuk pendanaan otomotif untuk tahun depan sendiri mencapai Rp50 triliun. Sebesar 30 sampai 40% dari obligasi dan sisanya brasal dari bilateral dan sindikasi. Untuk obligasi, Astra Internasional berencana menerbitkan obligasi senilai Rp20 triliun untuk mengembangkan bisnisnya. Nilai obligasi tersebut merupakan bagian dari total pendanaan yang akan dikeluarkan perseroan untuk mmembiayai produksi motor dan mobil yaitu sekitar 25%-30%.

Menurut Direktur PT Astra International Tbk Gunawan Geniusahardja, berdasarkan data Gaikindo bahwa tahun depan industri otomotif tidak akan terlalu terpengaruh dengan kenaikkan upah minimum pekerja (UMP), serta tidak akan terlalu banyak perubahan di sektor otomotif yang artinya industri otomotif masih akan stabil. Sehingga perseroan tidak takut mengeluarkan dana hingga Rp60 triliun.“Tahun ini sampai dengan September 2013 kami sudah membukukan pendanaan pembiayaan untuk otomotif sebesar Rp50 triliun. Jika menurut Gaikindo tahun depan pasar mendukung mungkin kami akan siapkan Rp60 triliun pada tahun depan”, katanya.

Nantinya, perseroan akan memperoleh dana untuk pendanaan otomotif ini berasal dari beberapa sumber pendanaan yaitu obligasi, billateral loan dan sindikasi perbankan. Sekitar 30-40% pendanaan akan berasal dari penerbitan obligasi.“Jadi ada kesempatan tahun depan kita akan terbitkan obligasi untuk memenuhi pendanaan tersebut”, katanya.

Perseroan sebelumnya menargetkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp17,8 triliun pada 2014 mendatang. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan capex tahun ini yaitu Rp15 triliun. Capex ini merupakan kombinasi termasuk asosiasi dengan joinventure sehingga mencapai Rp17,8 triliun untuk perusahaan terkonsolidasi maupun asosiasi. Sementara itu, mengenai turunnya target capex pada 2013 adalah akibat depresiasi rupiah. Sehingga dalam penggunaannya untuk membangun pabrik ke 4 menjadi tertunda dan harus dinegosiasi ulang karena menggunakan mata uang asing.

Terkait pelemahan rupiah, dia menjelaskan bahwa posisi rupiah yang telah mendekati lebvel Rp12.000 per dolar akan bedampak pada industri otomotif khususnya roda 4. Sehingga jika rupiah terus mengalami pelemahan, dia menyatakan akan ada penyesuaian harga. Walaupun ada pelemahan rupiah, pada 2014 nanti perseroan menargetkan penjualan mobil murah hingga 120 ribu unit. Sejak diluncurkan September lalu, penjualan dua mobil murahnya yaitu Daihatsu Agya dan Toyota Ayla sudah mencapai sekitar 9 ribu unit. (nurul)

Related posts