Indofood Kurangi Porsi Penjualan Mie Instan 20%

NERACA

Jakarta – PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) berencana menyeimbangkan penjualan mi instan dengan produk lainnya sehingga memiliki porsi berimbang yaitu 50:50 pada 2014 mendatang.

Menurut Direktur PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Werianty Setiawan, kondisi ini akibat dominasi penjualan mi instan dibandingkan produk lain yang mencapai 70% dari tahun lalu dan pada periode kuartal ketiga tahun ini.“Karena didominasi mi instan, kami akan mengurangi porsi penjualan produk mi instan. Hal ini dilakukan agar perseroan dapat mengembangkan bisnis produk lainnya. Ke depannya akan seimabang yaitu 50% mie dan 50% non-noddle”, ujarnya di Jakarta (28/11).

Dia menambahkan, dengan adanya rencana itu perseroan akan masuk ke lini usaha lain selain mi instan seperti pada tahun 2008 lalu, perseroan masuk ke produk susu. Nantinnya setelah produk susu yang cukup berhasil dipasaran, pdia menyebutkan akan merambah bisnis non-noodle lainnya.“Industri mi instan tetap akan tumbuh, tapi tidak bisa diharapkan sebesar double digit. Karena memang kebutuhan akan mie instan selalu tinggi. Pada 9 bulan ini mi instan berkontribusi 68% dengan menjual 10 miliar bungkus mie instan”, jelasnya.

Sementara, terkait pelemahan rupiah terhadap solar AS, dia menyebutkan perseroan telah melakukan penyesuaian harga produk makanan. Sekitar 5 hingga 10% harga produk Indofood telah dinaikan, namun kenaikan tersebut disesuaikan dengan produk dan bahan bakunya.“Untuk penyesuain harga produk tahun depan, perseroan masih melihat situasi kondisi ekonomi serta rupiah. Kalau rupiah makin lemah, kami akan menaikan harga lagi untuk menyesuaikan kenaikan bahan baku. Tetapi, tidak akan melakukan pengurangan volume produk karena volume sudah kecil seperti mie instan”, jelasnya.

Sementara itu, terkait join venture dan akuisisi yang dilakukan perseroan, dia menyebutkan untuk aksi korporasi akuisisi yaitu minuman bersoda Pepsi dan air mineral kemasan dengan merek dagang Club.“Pepsi Cola sudah selesai kita akuisisi dan transaksinya pada September lalu dengan nilai akuisisi US$30 juta. Sementara untuk Club diprediksi selesai pada Kuartal pertama 2014”, katanya.

Dia menyebutkan bahwa untuk melakukan akuisisi, perseroan tidak mengalami kendala karena dana akuisisi diambil dari kas internal perseroan. Hanya saja untuk join venture, perseroan belum bisa memnyebutkan jumlahnya karena masih berdiskusi dengan rekan dalam aksi ini.

Hingga kuartal ketiga 2013, perseroan membukukan laba periode berjalan naik 12% menjadi Rp1,85 triliun dari sebelumnya Rp1,66 triliun. Adapun marjin laba bersih turun menjadi 9,8% dari sebelumnya 10,1%. Peningkatan beban upah dan utilitas disebut perseroan memberi dampak terhadap laba.

Penjulan bersih konsolidasi naik 15,6% menjadi Rp18,88 triliun dari Rp16,33 triliun didukung oleh kenaikan volume penjulan dan kenaikan harga jual rata-rata. Laba bruto meningkat 13,4% menjadi Rp4,91 dari Rp4,33 triliun pada periode sama tahun 2012. Laba usaha naik 7,1% menjadi Rp2,32 triliun dari Rp2,17 triliun. (nurul)

Related posts