BPSDM KP: Lulusan Sekolah Perikanan Ciptakan Lapangan Kerja

NERACA

Malang – Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dr. Suseno Sukoyono, menjadi pembicara pada seminar nasional dengan tema “Peran Academic Business and Government dalam implementasi konsep Ekonomi Biru di bidang Perikanan dan Kelautan” di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Kamis (28/11).

Seminar ini dihadiri 300 perserta dari kalangan pengusaha, akademisi, praktisi, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Hasanuddin Makasar dan Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta. Selain Suseno, seminar ini menghadirkan keynote speaker lainnya, yaitu Guru Besar Institut Perikanan Bogor, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri.

Dalam paparannya, Suseno mengatakan, seminar nasional ini sangat strategis dalam mendukung penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) mengelola potensi sumberdaya kelautan dan perikanan Indonesia dengan pendekatan ekonomi biru.

Menurutnya, ekonomi biru merupakan pendekatan suatu komoditas perikanan yang menghasilkan multi revenue. Ia mencontohkan, ikan bandeng selain dagingnya dikonsumsi, duri dan tulangnya yang biasanya dibuang dapat dimanfaatkan menjadi kerupuk kalsium bernilai ekonomi. Kegiatan ini telah dilakukan pada berbagai satuan pendidikan KKP, yaitu Akademi Perikanan Sidoarjo, Sekolah Usaha Perikanan Menengah Pariaman, dan lain-lain.

Kegiatan belajar mengajar di satuan pendidikan lingkup KKP tersebut telah menghasilkan lulusan siap pakai. “Lulusan tersebut menciptakan lapangan pekerjaan dan menghasilkan berbagai produk olahan perikanan yang bahkan telah memenuhi pasar retail modern seperti Carrefour, Lottemart, dan lain-lain,” ujar Suseno dalam keterangan resminya kepada Neraca, kemarin.

Sementara itu, dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 yang membutuhkan 110 juta tenaga kerja terampil, ia merekomendasikan pendidikan dengan kurikulum yang adaptif dengan porsi kegiatan praktek mahasiswa lebih banyak dibandingkan teori. Ia juga menawarkan berbagai kerjasama dalam dan luar negeri yang telah dilakukan KKP dapat dimanfaatkan oleh peserta Seminar Nasional. Ia berpesan agar menggarisbawahi akan pentingnya peran SDM unggul. “Mengelola sumberdaya kelautan dan perikanan pada dasarnya adalah mengelola SDM,” ujarnya.

Tenaga Kerja Spesifik

Sebelumnya, tepatnya akhir pekan lalu, Suseno, mengatakan, sesuai dengan himbauan Bappenas, pihaknya mempersiapkan jumlah tenaga kerja spesifik untuk menghadapi MEA. “Maka kita merealisasikannya dengan menyelenggarakan seminar pendidikan mengenai kelautan dan perikanan. Dengan begitu kita berharap dapat tercipta insan pribumi yang mampu mengelola kelautan dan perikanan kita dengan kompeten,” kata dia.

Di samping itu, dia juga menjelaskan dalam persaingan tenaga kerja di sektor kelautan dan perikanan yang menjadi kompetitor utama Indonesia yaitu Thailand. Katanya negara tersebut juga sedang memberi perhatian pada peningkatan kualitas SDM nya. Sebab luasnya wilayah ASEAN yang didominasi oleh lautan memang menjadi salah satu daya tarik utama untuk dikelola. Hal itu dianggap dapat memberi nilai tambah yang positif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) bagi masing-masing negara.

“Pembudidaya ikan dan para pelaku ikan tangkap di Indonesia masih lebih unggul keahliaannya dibanding negara kawasan. Maka banyak perusahaan-perusahaan multilateral yang menggunakan jasa orang kita terutama Jepang. Tapi juga tidak boleh santai begitu saja. Sebab negara-negara lain pastinya juga terus meningkatkan kompetensi masyarakatnya,” tutur Suseno.

Dikatan Suseno, selama ini KKP telah mengupayakan persiapan itu secara konkret. Hal itu dilakukan melalui lembaga Sekolah Tinggi Perikanan (STP) yang berada di bawah naungannya meskipun masih dikelola secara swasta. “Selama ini STP sudah mampu mencapai prestasi yang gemilang. Karena sekiyar 70% tenaga kerja di instansi baik swasta maupun milik negara yang fokus pada bidang perikanan dan kelautan itu merupakan lulusan STP. Tapi prestasi itu tidak cukup untuk menghadapi MEA,” tandasnya.

Suseno berharap adanya dukungan dari seluruh stakeholder dalam negeri agar fokus pada persiapan itu. Sebab tidak dapat dipungkiri ketika MEA dimulai maka persaiangan bisnis antar negara akan semakin ketat. Meskipun sejauh ini tenaga kerja Indonesia sudah lebih unggul dari negara kawasan lainnya.

“Perlu juga diantispasi bahwa dengan adanya MEA arus tenag akerja luar negeri yang datang mengisi pasar kerja di Indonesia akan kian deras. Tenaga kerja luar negeri sangat mungkin mendominasi pasar tenaga kerja kita. Hal itu bisa terjadi apabila lulusan STP kita tidak kompeten,” terang Suseno.

Selain itu Suseno menegaskan jangan sampai lulusan tenaga kerja Indonesia khususnya lulusan STP hanya jadi penonton. Sedangkan dalam MEA Indonesia merupakan tuan rumah. Jika sampai hal itu terjadi maka sangat ironis.

“Namun dengan siapnya tenaga kerja kita maka negara-negara di di MEA dapat juga menanamkan investasinya tanpa hambatan. Dengan ramaianya investasi tentu dampakanya permintaan tenaga kerja juga akan meningkat. Dan sudah semestinya peluang-peluang itu diisi oleh tenaga kerja dalam negeri,” tukasnya.

Related posts