Infrastruktur Halim Perdanakusumah Tak Siap

Infrastruktur Halim Perdanakusumah Tak Siap

Pemerintah berencana mengalihkan sebagian jadwal penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta (Soeta) ke Bandara Halim Perdanakusumah. Dilihat dari kapasitas yang ada, diperkirakan Halim hanya mampu menampung penumpang sebanyak 5-7% dari kapasitas di Cengkareng atau sekitar 7.300 orang saja. Menteri Perhubungan EE Mangindaan mengungkapkan, pengalihan sebagian jadwal penerbangan itu akan dilakukan mulai Januari 2014.

Namun, yang jadi masalah, dampak dari penambahan jadwal penerbangan di Halim. Saat ini, bandara Halim juga dipakai sebagai bandara VIP/VVIP, yaitu para tamu negara. Jika sewaktu-waktu akan ada tamu negara yang datang atau meninggalkan ke Jakarta, seluruh jadwal penerbangan komersial di sana harus ditutup setengah jam sebelum dan setelah keberangkatan atau kedatangan. Bandara Halim juga dipakai untuk latihan penerjunan TNI AU.

Jadi, dalam satu runway/landasan pacu di Bandara Halim Perdanakusumah, saat ini dipakai untuk tiga fungsi yang berbeda. Yaitu, kepentingan komersial, kepentingan pertahanan dan keamanan oleh TNI-AU serta, untuk para tamu VIP/VVIP. “Bagi TNI harus tetap diwadahi, karena penggunaan VVIP, presiden, penerbangan Panglima TNI, menteri-menteri, di sana semua. Di sana juga tempat latihan terjun, tentunya ini perlu ditata lagi,” kata Kepala Pusat Penerangan TNI Laksda TNI Iskandar Sitompul, Senin (27/11).

Iskandar mengungkapkan, pihak TNI sudah membicarakan masalah pengalihan jadwal penerbangan itu dengan pejabat Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Namun belum ada kata sepakat. Sebelumnya, Kementerian Perhubungan juga sudah mempunyai rencana membangun bandara di Kerawang. Namun rencana itu masih prematur. Bahkan, kata anggota Komisi V DPR Saleh Husin, hal itu belum menjadi pembicaraan resmi dengan Kementerian.

Masalah lain yang bakal menghantu Bandara Halim adalah arus lalu lintas dari dan ke sana. Saat ini, lalu lintas dari dan ke arah bandara Halim, baik jalur lambat maupun jalan tol, sama-sama sering macet parah. Termasuk misalnya DAMRI juga akan membuka rute baru ke sana untuk mengurangi kepadatan kendaraan pribadi. “Tanpa dipikirkan atau dipecahkan lebih dulu, jelas akan bermasalah, itu sama saja memindahkan kemacetan atau bahkan menambah macet,” kata Dirut DAMRI Agus Suherman Subrata.

Yang jelas, kata Saleh dari Fraksi Hanura mengingatkan jangan sampai hak-hak dari penumpang terabaikan, yaitu memdapatkan layanan yang baik dan kenyamanan berada di bandara, maupun memperoleh jadwal yang tepat waktu. “Hak masyarakat juga harus diperhatikan, gara-gara pengalihan jadwal, masyarakat makin menderita didera kemacetan,” kata dia. (saksono)

Related posts