Saatnya, Memajukan Industri Kreatif Bangsa

NERACA

Industri kreatif diprediksi dapat menjadi kekuatan ekonomi baru di Indonesia. ekonomi kreatif memiliki keunggulan dari sektor lainnya. Sebagai industri yang memberikan nilai tambah, industri kreatif tidak berdampak buruk pada lingkungan.Selain itu, sumber daya kreatifitas tidak terbatas seperti sumber daya mineral.Dalam hal ini, pendidikan harus mendorong agar siswa menemukan talentanya dan bisa melakukan inovasi terhadap talenta tersebut.

Melihat besarnya potensi Indonesia untuk menjadi pepimpin di sektor industri kreatif dunia, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ingin melakukan tindakan nyata untuk mencapai tujuan tersebut dengan membuat wadah pergerakan bagi industri kreatif Indonesia bernama HiPro.

Sebagai debut pertamanya dalam kancah industri kreatif, HiPro mengadakan kegiatan diskusi terbuka antar pemangku kepentingan industri kreatif dengan tema “Media, Industri Kreatif, dan Nation Branding”.

Dalam diskusi terbuka ini, Ariful Y Hidayat, atau yang biasa disapa Erik Hidayat selaku penggagas HiPro memberikan keterangannya terkait kepedulian terhadap Industri kreatif Indonesia, “Indonesia memiliki potensi menjadi negara dengan industri kreatif yang diperhitungkan dunia. Dalam mencapai tujuan ini tentu saja HiPro tidak dapat berjalan sendiri. Dengan adanya kerjasama dari semua pemangku kepentingan industri kreatif Indonesia, saya optimis Industri Kreatif kita dapat dapat menjadi yang terdepan di kancah internasional.”

Tema acara ini dipilih mengingat media tidak hanya memiliki peran sentral dalam mewujudkan sosialisasi industri kreatif, namun dinilai mampu dalam membangun sebuah Nation Branding yang mengkomunikasikan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kreatif.

Dari acara ini diharapkan dapat menampung aspirasi berbagai pemangku kepentingan di bidang industri kreatif, yaitu dari pihak pemerintah, para pelaku industri kreatif, serta pihak media mengenai industri kreatif Indonesia saat ini.

Para pihak yang terlibat dalam diskusi ini antara lain Menparekraf Mari Elka Pangestu, pelaku industri kreatif dari berbagai bidang antara lain Riri Riza, Biyan Wanaatmaja, Yan Djuhana dan Mira Amahorseya, serta media-media yang tergabung dalam Serikat Perusahaan Pers (SPS).

Diskusi yang diadakan pada tanggal 18 November 2013 lalu ini merupakan awal dari rangkaian HIPFES, sebuah festival industri kreatif yang akan berlangsung pada bulan Maret 2014. ”Dengan tanggapan positif yang kami dapatkan dalam diskusi ini, kami optimis HIPFES 2014 akan menjadi tombak untuk industri kreatif Indonesia,” tambah Erik.

Related posts