Pengungsi Gunung Sinabung Butuh Bantuan CSR

Aktivitas Gunung Sinabung berdasarkan pantuan visual dan instrumental masih fluktuatif. Sementara itu, puluhan ribu pengungsi Gunung Sinabung masih membutuhkan perhatian, baik dari pemerintah maupun swasta melalui CSR mereka.

NERACA

Potensi erupsi susulan masih tinggi. Sabtu, 23 November 2013 lalu, pukul 21.40 Gunung Sinabung kembali meletus. Kali ini disertai batu sebesar krikil yg menghujani Desa Sukanalu & Sigarang garang. Masyarakat mengungsi menuju ke Desa Naman dan desa-desa terdekat yang tidak terkena hujan batu.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugrohomenuturkan, potensi erupsi Gunung Sinabung dinilai masih sangat tinggi yang ditandai dengan munculnya lava pijar, awan panas, dan erupsi freatik-eksplosif.

“Karakteristik letusan mirip dengan Gunung Merapi. Kita belum banyak paham watak kegunungapian Gunung Sinabung setelah gunung tersebut mati selama 400 tahun. Data erupsi gunung baru ada sejak Oktober 2010 hingga sekarang. Sehingga bagaimana potensi magmatik gunung belum dapat dikenali dengan baik dan detil," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis di Jakarta belum lama ini.

Hingga 25 November lalu, tercatat pengungsi berjumlah 17.713 jiwa atau 5.304 KK yang tersebar di 31 titik pos pengungsian. Pengungsi ini berasal dari 17 desa di dalam radius 5 km dan 4 desa arah bukaan kawah yang rawan lontaran material gunung.

17 Desa dan 2 Dusun di dalam radius 5 km adalah Desa Guru Kinayan, Desa Sukameriah, Desa Berastepu, Desa Bekerah, Desa Gamber, Desa Simacem, Desa Perbaji, Desa Mardinding, Desa Kuta Gugung, Desa Kuta Rakyat, Desa Sigarang-garang, Desa Sukanalu, Desa Temberun, Desa Kuta Mbaru, Desa Kuta Tonggal, Desa Tiga Nderket, Desa Slandi, dan Dusun Sibintun serta Dusun Lau Kawar. Sedangkan desa yang berada di luar radius 5 km tetapi berada di arah bukaan kawah yang rawan lontaran material gunung adalah Desa Kuto Tengah, Kebayakan, Naman, dan Kutambelin

Meski sudah seminggu sejak terjadinya letusan Gunung Sinabung di Kabanjahe Kabupaten Tanah Karo Sumatera Utara, namun dampak letusan gunung tersebut masih mempengaruhi aktivitas warga, tanaman pertanian warga banyak yang rusak, rumah-rumah penuh debu dan udara yang tercemar membuat saluran pernafasan terganggu.

Melihat hal itu, dengan melibatkan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) penerima bea siswa, Tanoto Foundation dan Asian Agri menyerahkan bantuan bahan makanan ke posko pengugsi Gunung Sinabung di Los Desa Naman, Kecamatan Namanteran Kabupaten Karo. Dilibatkannya tim mahasiswa penerima beasiswa Tanoto Foundation, adalah untuk meningkatkan rasa solidaritas kepada sesama.

Head of CSR Asian Agri, Rafmen mengatakan, bantuan diberikan sebagai rasa peduli dengan situasi yang dihadapi komunitas sekitar Gunung Sinabung. "Kita berharap kondisi ini dapat kembali normal secepatnya,” ujar dia.

Untuk bantuan bahan makanan yang diberikan yakni beras sebanyak 1 ton, mie instan 100 kotak, gula pasir 100 kg, teh bubuk 20 pak, biskuit 50 kartun, susu kaleng 3 karton, selimut 100 buah, ikan asin 20 kg dan 200 paket makanan ringan untuk anak-anak yang berada di posko bencana.

" Untuk bantuan ini kami tujukan ke Los Desa Namanteran yang ditempati warga dari Desa Bekerah dan Desa Simacem. Sebelumnya kita sudah memberikan bantuan pertama pada September 2013 lalu, dan ini kita lakukan karena erupsi Gunung Sinabung masih terjadi sehingga ada sekitar 6 ribuan jiwa mengungsi di posko-posko pengungsian," jelas Rafmen.

Dalam penyerahan bantuan dan pemberian bingkisan yang dilakukan beberapa kali ini, kegiatan diselingi dengan berbagai permainan untuk menghibur anak-anak pengungsi yang dipandu para mahasiswa.

Anggota Board of Trustee Tanoto Foundation, Anderson Tanoto, menjelaskan, pihaknya menyediakan bahan makanan dan bantuan hiburan untuk anak-anak yang merupakan psikoterapi agar pengungsi khususnya anak-anak terhindar dari trauma akibat letusan Gung Sinabung.

"Kami turut prihatin atas musibah yang terjadi dan menghimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti arahan pemerintah berada di wilayah pengungsian.Kami juga memberi hiburan kepada anak-anak pengungsi yang dilakukan mahasiwa penerima beasiswa dari Tanoto Foundation sebagai rasa kepedulian sosial terhadap sesama," imbuh dia.

Selain Tanoto Foundation dan Asian Agri, Aksi Cepat Tanggap (ACT) setiap harinya juga mendistribusikan 260 paket bantuan di dua titik pengungsian. Paket bantuan tersebut merupakan amanah dari PGN (Perusahaan Gas Negara) sebagai bentuk kepeduliannya kepada warga yang menjadi korban bencana letusan merapi.

Related posts