Dilema Suku Bunga

Oleh : Firdaus Baderi

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Banyak pihak menyadari bahwa kenaikan suku bunga yang bersifat umum dapat memperlambat pertumbuhan semua sektor perekonomian. Padahal, idealnya tidak semua sektor perekonomian harus diperlambat karena tak semua sektor menggunakan bahan baku, barang modal, dan barang konsumsi impor yang bernilai tinggi.

Adalah wajar harus ditelusuri, sektor-sektor mana yang ketergantungan impornya tinggi. Terkait dengan itu, diperlukan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat ke sektor yang memang membuat defisit transaksi berjalan (current account) Indonesia memburuk.

Sehingga penyesuaian kenaikan suku bunga adalah hal yang wajar dalam menghadapi gejolak eksternal. Namun, jika dosisnya agak berlebihan, jangan-jangan pertumbuhan ekonomi akan jauh lebih melambat dan memperburuk tingkat pengangguran.

Patut diketahui, persoalan defisit neraca transaksi berjalan belakangan ini menjadi perhatian otoritas moneter, karena selama 2012 dan tahun ini memperlihatkan angka defisit yang signifikan. Menurut data BI, defisit current account tercatat US$24,418 miliar, sedangkan sejak Januari hingga September 2013 mencapai US$24,276 miliar, sehingga dipastikan pada akhir tahun ini masih cukup besar. Masalah defisit ini selalu menjadi kambing hitam atas bergejolaknya pasar finansial dan pasar valas negeri ini.

Tidak mengherankan jika defisit transaksi berjalan menjadi fokus utama yang angkanya harus ditekan sesegera mungkin hingga mencapai rasio current account terhadap produk domestik bruto (PDB) bisa turun ke level aman, yaitu maksimal 3%. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tampaknya sepakat memperbaiki angka defisit itu dengan konsekuensi angka pertumbuhan ekonomi harus diperlambat, dengan harapan impor akan turun tajam. Ini disebabkan harapan menaikkan hasil ekspor sangat kecil akibat harga komoditas ekspor primer yang belum menjanjikan dan masih lemahnya permintaan global.

Jadi, kita tidak perlu malu untuk mengakui defisit transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan Indonesia merupakan masalah lama dan bersifat struktural sehingga jangan berharap dapat selesai tuntas dalam 1-2 tahun ke depan.

Namun BI sepertinya bertindak lebih dulu untuk memperlambat pertumbuhan ekonomi, dengan menaikkan suku bunga BI Rate sebesar 1,75% dalam 5 bulan terakhir yaitu dari 5,75% (Mei) menjadi 7,5% (November). Selain itu, kebijakan makroprudensial BI juga memberikan sinyal pengetatan moneter, seperti kenaikan uang muka kredit kendaraan bermotor serta penurunan pembiayaan maksimal (rasioloan to value-LTV) untuk tipe tertentu kredit kepemilikan rumah dan apartemen (KPR) untuk memperkuat manajemen risiko perbankan.

Akibat ketatnya kondisi moneter saat ini, dan begitu dominannya kenaikan suku bunga yang menjadi andalan utama BI sebagai instrumen moneter akhirnya memunculkan pertanyaan: Apakah kebijakan ini efektif menurunkan rasio defisit current account/ PDB ke level aman sehingga mampu menstabilkan nilai rupiah? Atau sebaliknya justeru akan membawa perekonomian ke jurang resesi seperti 1998?

Apakah menaikkan suku bunga, yang akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi dengan harapan impor turun, akan menjamin rasio defisit current account terhadap PDB akan turun? Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak, karena harus kita lihat dampak kenaikan suku bunga tersebut.

Related posts