Harga IPO Bank Ina Tawarkan Rp 180 Per Saham

Perkuat modal guna masuk dalam kategori Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) II, PT Bank Ina Perdana (Bank Ina) menawarkan harga perdana saham di kisaran Rp180-Rp250 per saham. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (27/11).

Disebutkan, Bank Ina melepas saham ke publik sebanyak-banyaknya 790 juta saham atau setara dengan 33,33% dari modal yang di tempatkan dan disetor. Dengan begitu perseroan akan memperoleh dana dari Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offring/IPO) Rp142,20 miliar sampai Rp197,50 miliar.

Penetapan harga saham IPO Bank Ina di kisaran Rp180-Rp250 per saham, mencerminkan Price Book Velue (PVB) sebesar 1,6 kali sampai 1,8 kali. "Dana hasil IPO akan dipergunakan untuk ekspansi kredit perseroan dan secara bertahap ke depannya masuk ke dalam kategori Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) II," kata Dirut Bank Ina, Edy Kuntardjo.

Tercatat modal dasar Bank Ina per 30 Juni 2013 sebesar Rp400 miliar dengan total aset sebesar Rp1,40 triliun dan laba bersih sebesar Rp1,14 miliar. Selain itu, perseroan mengaku masih mengandalkan lembaga keuangan mikro untuk mengkucurkan kreditnya. Lembaga keuangan mikro yang dimaksud seperti koperasi, bank perkreditan rakyat (BPR), dan perusahaan ventura atau yang disebut wholesale banking.

Kata Edy Kuntardjo, per 30 September 2013, kredit yang dikucurkan perseroan sebesar Rp 1,3 triliun. "60% penyaluran kredit kami ke wholesale banking di sektor mikro dan kecil. Sisanya untuk kredit yang lain-lain," ujarnya.

Disamping itu, perseroan juga menjalin kerjasama dengan Mega Life Asuransi Jiwa, Kredit Plus Multi Finance, BPR Bank Klaten dan koperasi di Surabaya dan Bandung. Mitra Bank Ina tersebut yang mengucurkan kredit kepada konsumen."Kami menjalin mitra karena kami tidak punya infrastruktur. Di Koperasi Surabaya kredit kami Rp 13 miliar dan koperasi di Bandung kredit hingga Rp 15 miliar,”ungkapnya.

Namun, Eddy bilang ke depannya perseroan menginginkan porsi wholesale credit yang lebih kecil dibanding kredit konsumer dan kredit lainnya. Karena menurut dia selama ini kredit konsumer seperti kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan, dan kredit multiguna belum maksimal. (bani)

Related posts