Sampoerna Agro Targetkan Produksi Tumbuh 20% - Tanam 10 Ribu Hektar

NERACA

Jakarta- Untuk menyiasati fluktuasi harga komoditas, PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) menargetkan pertumbuhan volume produksi sebesar 10%-20% pada tahun depan. Salah satunya dengan menambah penanaman baru yang ditaksir bisa lebih dari 10.000 hektar. “Di tahun depan, menambah penanaman baru untuk tiga komoditas. Untuk sawit sekitar 5000-10.000 hektar, sagu 1.000-2.000 hektar, dan karet 2.000-3.000 hektar. Maka volume produksi diperkirakan bertumbuh 10%-20%.” kata Chief Executive Officer PT Sampoerna Agro Tbk, Michael Kesuma di Jakarta, Rabu (27/11).

Menurut dia, produksi TBS perseroan pada tahun lalu dapat mencapai 1,7 juta ton dengan peningkatan produksi yang terjadi secara signifikan di kuartal keempat. Oleh karena itu, meski per September produksi TBS perseroan hanya mencapai 804.341 ton, atau lebih rendah 29% dibanding tahun lalu, pihaknya optimis dan yakin selisih tersebut dapat mengecil di akhir tahun ini.

Pasalnya, penurunan volume tersebut disebabkan faktor cuaca yang ekstrem di Sumatera Selatan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hasilnya, hal tersebut juga berdampak pada pendapatan pokok perseroan yang tercatat mengalami penurunan dari Rp2,15 triliun pada kuartal ketiga 2012 menjadi Rp1,44 triliun pada kuartal ketiga 2013.

Selain faktor cuaca, sambung dia, pendapatan perseroan juga dipengaruhi oleh menurunnya harga jual rata-rata minyak mentah (crude palm oil/CPO) yang berkontribusi 83% terhadap total penjualan perseroan. Pihaknya mencatat, harga komoditas CPO rata-rata di periode ini sebesar RM2.332 per ton, masih 25% lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar RM3.095 per ton.

Meski demikian, perseroan berhasil mencatatkan peningkatan harga jual rata-rata CPO sebesar 5% dari Rp6.794 per kg di kuartal kedua 2013 menjadi Rp7.150 kuartal ketiga 2013. Namun apabila dibandingkan dengan sembilan bulan tahun 2012, pencapaian di sembilan bulan 2013 tercatat turun 16% menjadi Rp6.612 per kg. Akibatnya, kontribusi pendapatan dari CPO turun 36% menjadi Rp1.198,32 miliar pada sembilan bulan pertama 2013.

Dia memperkirakan, harga CPO pada tahun depan bisa lebih baik di tahun ini dengan proyeksi kondisi makro ekonomi global yang akan membaik. “Untuk volume kami yakin, tapi untuk harga hanya bisa diperkirakan. Kalau ikuti beberapa ahli kemungkinan bisa cukup baik dari harga karena CPO dipengaruhi dua faktor, makro ekonomi dan global. Kita pernah di harga terendah RM2000 dan harga tingginya RM2600 per ton.” jelasnya.

Sementara untuk mendukung kinerja di tahun depan, kata dia, perseroan menyiapkan anggaran belanja modal Rp1 triliun yang bersumber dari kas internal dan pinjaman perbankan. Dari total dana tersebut, perseroan akan menggunakan sekitar 80% untuk mendukung penanaman sawit, dan 20% untuk tanaman lainnya. “Tahun depan segitu juga. Tapi tergantung beberapa faktor di lapangan.” ujarnya.

Dalam pengembangan bisnisnya di tahun ini, manajemen perseroan pernah bilang akan membangun pabrik minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dengan kapasitas pengolahan 45 ton per jam TBS. Pabrik yang dibangun dengan investasi Rp 90 miliar ini diharapkan beroperasi pada awal atau pertengahan tahun 2014. Saat ini SGRO memiliki pabrik berkapasitas 455 ton per jam TBS. Alhasil, jika pabrik baru itu beroperasi, total kapasitas pabrik pengolahan CPO miliki SGRO mencapai 500 ton per jam. (lia)

Related posts