Dirut PT Len Industri (Persero): Abraham Mose - Mendorong Kemajuan Teknologi Berdaya Saing

Dirut PT Len Industri (Persero): Abraham Mose

Mendorong Kemajuan Teknologi Berdaya Saing

Keyakinannya menciptakan lokomotif perekonomian melalui produk teknologi berdaya saing begitu kuat. Dialah Abraham Mose, Dirut PT Len Industri (Persero), pria cerdas dengan segudang mimpi menggalang potensi anak bangsa yang terus berupaya mengharumkan Len dalam kancah perbisnisan.

NERACA

Harapan segenap bangsa Indonesia untuk memiliki sebuahindustri kreatif berbasis teknologi dan inovasi yang terintegrasi, nampaknya akan segera terwujud, setelah PT Len Industri (Persero) menggagas ide brilian untuk membangun, “Len Technopark,” sebuah pusat perkembangan sains dan teknologi Indonesia.

Dan sosok dibalik ide brillian tersebut adalah Abraham Mose, Presiden Direktur PT Len Industri (Persero), salah satu BUMN yang berbasiskan teknologi dalam aktifitasnya, “Kami memang sedang merealisasikan sebuah wadah bagi para peneliti dan inovator anak negeri dalam berkarya cipta menghasilkan sejumlah produk berteknologi berdaya saing di pasar global,” ungkapnya.

Bram akrab ia disapa menyakini bila langkah membangun kawasan teknologi yang terintegritas, kelak menjadi kekuatan bisnis sebagai produsen teknologi manufacturing yang berdaya saing di Asia.

Kami yakin dengan konsep dan visi Len Industri dimasa mendatang, kita mampu mendorong kemajuan perekonomian dan pembangunan bangsa, terang Dirut Len Industri yang memiliki tagline; “Kemandirian Teknologi Berdaya Saing.”

Menuju Go International

Optimisme Bram mengantar Len menuju kancah internasional, juga dibuktikan dengan kinerja perusahaan yang gemilang, “Seluruh civitas merapatkan barisan menyiapkan diri untuk mewujudkan mimpi dengan penuh optimisme,” ujar CEO yang berhasil meraih penghargaan bergengsi, Annual Report Award (ARA) Tahun 2013, “Ini adalah momentum tepat untuk kebangkitan teknologi dan sains di tanah air,” ujar Bram menyambut tantangan dunia.

Len memang berhasil meraih predikat terbaik kategori BUMN Non Keuangan Non Listed dalam ajang ARA 2013, sebuahacara tahunan yang diikuti 234 perusahaan diseluruh indonesia, yang digelar oleh 7 instansi, yaitu; kementrian BUMN, Bank Indonesia(BI), Direktorat Jendral Pajak, Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia (BEJ), dan Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG).

Kiprah PT Len Industri (Persero) dibidang teknologi memang tak diragukan. Lima bisnis utama yang digeluti Len Industri adalah transportasi berbasis rel, energi terbarukan, navigasi dan telekomunikasi, pertahanan, serta teknologi informasi-komunikasi. Anak perusahaan Len meliputi PT Eltran Indonesia, PT Surya Energi Indotama, dan PT Len Railways System. Kiprahnya hingga ke mancanegara.

Di antara mitra kerj Len Industri antara lain Alstom (Perancis), Airspan (Inggris), Hitachi (Jepang), Kongsberg (Norwegia), Mitsubishi (Jepang), Rohde & Schwarz (Jerman), Siemens AG (Jerman), SIM-LM (Belanda), Ultra Electronics (Inggris), Westinghouse (Australia), dan ZTE Corp (China).

Sedangkan yang menjadi pelanggan Len di antaranya adalah Kementerian Perhubungan, Kereta Tanah Melayu Berhad (KTMB), Malaysia, BPPT/Kementerian Ristek, PT Indosat Tbk, Direktorat Jendral Pajak, Direktorat Jendral Bea Cukai, PT Surveyor Indonesia (Persero), PT Kereta Api (Persero), dan sejumlah perusahaan lainnya.

“Pengembangan usaha terus diupayakan melalui aliansi strategis dengan mitra asing dan sinergi antar BUMN, lembaga pemerintahan, dan akademisi.,” kata Bram. Langkah-langkah manajemen ini didukung oleh pengembangan sumber daya manusia berbasis kompetensi dan kontribusi (CBHRM), budaya kerja yang kondusif serta penerapan prinsip-prinsip GCG dan manajemen resiko yang semuanya diharapkan akan meningkatkan daya saing perusahaan.

Sepanjang 2013, tercatat sejumlah prestasi Len, antara lain;sebagai inisiator pengembangan solarcell untuk Ketahanan Negeri, BUMN penggagas proyek monorel, pemenang dalam ajang BUMN Inovation Award dan BUMN Terbaik dalam Inovasi Inversi Teknologi. Bahkan dalam program Kementerian Komunikasi dan Informatika, Len terbukti sukses mendukung pelaksanaan APEC 2013 lalu di Bali, dengan keandalan teknologi pemancar TV Digital. Bravo!!

Sebagai leader dibidang broadcasting, Len memang memiliki segudang pengalaman. Termasuk dalam membangun jaringan infrastruktur telekomunikasi, menciptakan elektronika pertahanan nasional, membangun sistem persinyalan kereta api diperbagai jalur kereta Jawa dan Sumatera, termasuk sistem elektronika daya untuk kereta api listrik, serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya.

Bram pun menjelaskan sedikit tentang perusahaan yang dipimpinnya. Len didirikan pada 1965 dengan nama Lembaga Elektronika Nasional (LEN). Pada 1991, LEN bertransformasi menjadi sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sejak saat itu, Len bukan lagi merupakan kepanjangan dari Lembaga Elektronika Nasional (LEN), tetapi telah menjadi sebuah entitas bisnis profesional dengan nama PT Len Industri. Selama ini, Len telah mengembangkan bisnis dan produk-produk dalam bidang elektronika untuk industri dan prasarana, serta telah menunjukkan pengalaman dalam berbagai bidang. Misalnya, bidang broadcasting, selama lebih dari 30 tahun dengan karya ratusan Pemancar TV dan Radio yang telah terpasang di berbagai wilayah di Indonesia.

Jaringan infrastruktur telekomunikasi yang telah terentang baik di kota besar maupun daerah terpencil.

Bidang elektronika untuk pertahanan, baik darat, laut, maupun udara. Lainnya, sistem persinyalan kereta api di berbagai jalur kereta api di Pulau Jawa dan Sumatera, juga Sistem Elektronika Daya untuk kereta api listrik dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Sarjana Teknik Elektro dari Universitas Hasanuddin tahun 1985 ini, memang dikenal sebagai sosok pekerja keras dan pandai mengentaskan persoalan dengan pemikirannya yang tajam. Ia menilai bahwa tak sedikit anak bangsa yang memiliki kemampuan gemilang dibidang teknologi, bahkan mendapat apresiasi dari dunia internasional, “Penemuannya sangat gemilang namun apakah mampu memberi kontribusi bagi bangsa. Inilah yang kita arahkan,” ujarnya.

Pada prinsipnya, ujar Bram, kemandirian teknologi sangat penting untuk kita wujudkan, namun teknologi tanpa kemampuan menghasilkan produk yang bermanfaat dan berdaya saing, hanya akan menjadi tumpukan kertas hingga ke bulan,“Saya sering mengatakan, bahwa penemuan terbaik akan muncul saat waktu yang tepat,” ujar Bram.

Bangsa kita sangat besar dengan jumlah penduduk yang sangat berpotensi sebagai market. Ragam teknologi bisa kita kuasai, pahami hingga pada akhirnya kita mampu memenuhi kebutuhannya. “Kita tidak lagi menjadi bangsa konsumtif, bangsa yang hanya bisa membeli tanpa mampu menjual,” ujarnya melihat persaingan dunia teknologi dibanyak negara yang membidik Indonesia hanya sebagai pangsa pasar.

Saat ini, Len siap menyambut dan mendukung program pemerintah yang berbasis teknologi lainnya, hal ini seiring dengan harapan Len dalam memberi kontribusi yang maksimal bagi kemakmuran bangsa.

“Kami bukanlah yang terbesar dan terbaik dipelbagai bidang tapi yang kami yakini dengan pasti, bila kami akan selalu melakukan inovasi menghasilkan produk yang mampu berdaya saing dan bekerja dengan segenap tenaga demi memberikan manfaat bagi bangsa dan negara,” ujarnya kental dengan kebulatan tekad.

Prinsip GCB

Pola manajemen yang dia kembangkan di Len Industri adalah prinsip Good Corporate Governance secara konsisten dan berkesinambungan. Penerapan Good Corporate Governance, tidaklah semata-mata untuk memenuhi kepatuhan terhadap peraturan, akan tetapi bersungguh-sungguh menerapkannya untuk mewujudkan perusahaan yang besar dan terpercaya dan menjadikan Len sebagai perusahaan bertaraf dunia (world class company).

“Transparancy, accountability, responsibility, independency dan fairness merupakan prinsip yang dipegang teguh. Len sangat menyadari akan pentingnya hubungan kerja yang harmonis di antara organ-organ tata kelola perusahaan dalam meningkatkan kualitas penerapan GCG,” kata pria ini. Transparency (Keterbukaan Informasi) dimaknai sebagai keterbukaan informasi, baik dalam proses pengambilan keputusan maupun dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan.Keterbukaan informasi menjadikan para stakeholder dapat menilai kinerja berikut dan mengetahui risiko yang mungkin terjadi dalam melakukan transaksi dengan perusahaan.

Accountability (Akuntabilitas), adalah merupakan kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.permasalahan yang sering ditemukan adalah kurang efektifnya fungsi pengawasan Dewan Komisaris. Atau bahkan sebaliknya, Komisaris mengambil alih peran berikut wewenang yang seharusnya dijalankan Direksi. Oleh karena itu diperlukan kejelasan mengenai tugas serta fungsi organ perusahaan agar tercipta suatu mekanisme checks and balances kewenangan dan peran dalam mengelola perusahaan.

Asas ketiga yang dianut adalah responsibility (Pertanggungjawaban). Menurut Bram, kesesuaian (kepatuhan) yang dimaksud adalah terhadap pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang berlaku.Diharapkan dapat membuat perusahaan menyadari bahwa dalam kegiatan operasionalnya seringkali menghasilkan eksternalitas negatif yang harus ditanggung oleh masyarakat.

Menurut Bram, prinsip berikutnya adalah Independency (Kemandirian). Kemandirian merupakan keadaan di mana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan tekanan dari pihak manapun. Terakhir, prinsip Fairness (Kesetaraan dan Kewajaran). “Perlakuan yang adil adalah kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang berlaku.

Esensi dari Good Corporate Governance adalah peningkatan kinerja perusahaan melalui pemantauan kinerja manajemen, adanya akuntabilitas manajemen terhadap pemangku kepentingan lainnya, berdasarkan kerangka aturan dan peraturan yang berlaku.

Seluruh elemen perusahaan, penting untuk memahami dengan baik dan terlibat dalam penerapan Good Corporate Governance (GCG), mengingat risiko dan tantangan yang dihadapi oleh perusahaan semakin meningkat. Penerapan prinsip GCG secara konsisten di Len akan memperkuat daya saing, sehingga dapat terus tumbuh secara berkelanjutan. (Sahlan)

Related posts