Terkendala Soal Izin, Vale Batal Bangun Smelter - Nilai Investasi US$ 2 Miliar

NERACA

Jakarta – Lantaran terkendala soal perizinan karena belum disetujui oleh pemerintah daerah, akhirnya PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menunda rencana pembangunan smelter di wilayah Bahadopi, Sulawesi Tengah, “Kami belum dapat dilakukan, mengingat proses renegosiasi kontrak karya yang dipegang perusahaan belum ada persetujuan dari pemerintah,”kata Presiden Direktur Vale Indonesia, Nico Kanter di Jakarta, Selasa (26/11).

Dia menambahkan, apabila sudah mendapat persetujuan, perseroan akan segera memulai pembangunan proyek senilai US$ 2 miliar. Disebutkan, dalam renegosiasi kontrak karya ini, terdapat enam poin yang menjadi pokok renegosiasi kontrak, yaitu besaran royalty, luas wilayah, perpanjangan kontrak, kewajiban pengolahan dan pemurnian, kewajiban penggunaan barang dan jasa pertambangan dalam negeri.

Saat ini Vale Indonesia dan pemerintah hampir mencapai kesepakatan untuk seluruh poin yang diajukan pemerintah. "Setelah renegosiasi kontrak karya ini disetujui, maka proyek pembangunan smelter ini baru bisa dilaksanakan," ucapnya.

Proyek pembangunan smelter ini, lanjut Nico mengungkapkan nantinya akan menambah kapasitas produksi untuk smelter yang ada di Soroako, Sulawesi Selatan dan Bahadopi,”Kapasitas produksi dari kedua smelter ini akan mencapai 120 ribu ton dengan input 6 juta ton. Disamping itu, kami juga berencana membangun smelter baru di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dan sampai saat ini telah memasuki fase studi kelayakan,”tandasnya.

Tingkatkan Efisiensi

Disamping itu, perseroan juga menyampaikan rencana melakukan efisiensi produksi nikel. Hal tersebut guna menekan biaya produksi, saat harga komoditas nikel yang masih rendah. Kata Direktur Keuangan INCO Febriany, komponen terbesar dari biaya produksi adalah pengeluaran untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan pelumas, “Porsi tersebut menghabiskan sekitar 39 persen dari biaya produksi," ungkapnya.

Febriany menambahkan, efisiensi produksi perusahaan juga dilakukan dengan cara konversi dari penggunaan BBM ke batu bara. Selain itu juga mengurangi High Sulphur Fuel Oil (HSFO) ke batu bara. Asal tahu saja, selama ini komponen HSFO banyak didatangkan dari impor. Sedangkan keuntungan menggunakan batu bara dapat dibeli dari Kalimantan.

Lanjut Febriany mengungkapkan, penekanan biaya produksi sudah mulai terasa. Pasalnya INCO sudah menguji cobakan operasi mesin pengeringan nikel yang menggunakan batubara. Targetnya mesin pengering tersebut dapat beroperasi penuh di tahun depan, “Jika produksi tahun depan diasumsikan sama dengan produksi tahun ini maka total biaya produksi di tahun depan dapat ditekan sebesar 5%," tandasnya.

Selain itu, PT Vale Indonesia Tbk menyatakan akan menggenjot produksi nikel di tengah harga komoditas tersebut yang masih rendah. Produksi nikel dalam matte tahun ini diprediksi akan mencapai rekor tertinggi dalam sejarah perseroan, “Kapasitas produksi nikel sebesar 77.718 metrik ton atau tumbuh 10 persen dibanding tahun lalu sebesar 70.717 metrik ton," ungkap Febriany.

Menurut Febriany, kapasitas produksi tertinggi dapat diperoleh setelah perseroan berhasil mengoptimalkan produksi nikel dan mengonversi konsumsi high sulphur fuel oil (HSFO) ke batu bara. "Dengan jumlah produksi sebesar tersebar maka akan menjadi rekor perseroan selama memproduksi nikel," jelasnya.

Saat ini, kata Febriany kapasitas produksi nikel terus bertambah tiap kuartalnya. Pada kuartal I-2013, INCO memproduksi 18.514 metrik ton (MT), kuartal II 2013 19.218 MT, dan kuartal III 19.771 MT. "Jika ditotal produk nikel INCO hingga kuartal III 2013 perseroan berhasil memproduksi nikel sebanyak 57.503 metrik ton," tuturnya.

Kata Febriany, dari produksi tersebut perseroan berhasil meraup pendapatan sebesar US$ 721.071. "Kami yakin dapat mencapai kenaikan 10% dibanding tahun lalu karena tren produksi kami terus naik tiap kuartalnya,”tuturnya.

Sekedar informasi, total biaya produksi INCO di kuartal III-2013 sebesar US$ 596.044. Dari jumlah tersebut BBM dan pelumas mengambil porsi US$ 232.526. Kemudian bahan pembantu menghabiskan biaya US$ 101.316 dan biaya depresiasi, amortisasi dan deplesi sebesar US$ 82.066. (bani)

Related posts