Exploitasi Energi Masih Kaji Jual Batubara Ke PLN - Dampak Penurunan Harga Batubara

NERACA

Jakarta – Masih terus terkoreksinya harga komoditas dan termasuk harga batubara, menjadi alasan PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) mengkaji untuk menjual listrik ke PT PLN (Persero), “Kami sudah melakukan penjajakan ke pihak PLN,”kata Presiden Komisaris CNKO Adri Cahyadi dalam siaran persnya di Jakarta, (26/11).

Dia menjelaskan, proses penjajakan dengan PLN diharapkan segera selesai dalam waktu dekat. Jika proses tersebut selesai, maka perseroan akan menyempurnakan infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang diperkirakan akan memakan waktu sekitar dua tahun. Disebutkan, estimasi nilai investasinya masih sama dengan kebutuhan peningkatan kapasitas PLTU pada umumnya, sekitar US$ 2 juta per 1 megawatt (mw).

Menurut Adri, jika rencana korporasi ini bisa segera terealisasi maka mulai lima tahun ke depan CNKO memiliki porsi pendapatan yang seimbang, 50:50, antara pendapatan dari penjualan batu bara dan penjualan listrik ke PLN, “Ini juga sekaligus salah satu cara untuk menghadapi volatilitas harga batu bara," jelasnya.

Selain itu, perseroan menegaskan bakal memperoleh tambahan pendapatan seiring dengan peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dari yang sebelumnya 2x7 megawatt (mw) menjadi 2x65 mw di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Kata Adri Cahyadi, saat ini perseroan tengah mendatangkan mesin tambahan yang nantinya bakal digunakan untuk menambah kapasitas listrik di PLTU tersebut dan diharapkan PLTU tersebut di tahun 2015 akan mulai beroperasi.

Kendati mendapatkan pendapatan bagi perusahaan, namun dirinya tidak menampik di tengah kondisi harga batu bara yang sedang kurang kondusif seperti ini harus mencari jalan keluar antara lain adalah dengan melakukan diversifikasi usaha melalui PLTU, “Produksi batu bara kami juga memiliki kalori rendah, sekitar 4.200 kcal, yang cocok digunakan untuk PLTU dengan sumber pembakaran batu bara," paparnya.

Ditambah, belum ada pasar baru yang potensial selain China dan India yang bisa dijadikan sasaran baru industri batu bara sehingga pilihan terbaik berikutnya adalah dengan memenuhi kebutuhan energi listrik di dalam negeri. "Jadi, potensi di pasar batu bara memang masih terbuka lebar," tandasnya.

Sebagai informasi, tahun ini PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1,6 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan sebelumnya sebesar Rp15,79 miliar. Disamping itu, untuk mendanai modal kerja perseroan juga berencana menerbitkan obligasi global dengan nilai emisi sekitar US$500 juta-US$1 miliar.

Perseroan optimis terhadap daya serap investor atas penerbitan obligasi. Dijelaskan, ada dua alasan mengapa perseroan berencana menerbitkan obligasi global karena daya serap investor masih besar. Kemudian pengurangan stimulus ekonomi (quantitative easing) Amerika Serikat di kuartal ketiga 2013, juga dinilai tidak mempengaruhi daya serap investor, khususnya terhadap obligasi yang akan diterbitkan perseroan.

Alasan lain terbitkan obligasi adalah, terkait barang modal untuk pembangunan pembangkit listrik yang didapatkan dari impor dan menggunakan denominasi Dolar AS. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, kenaikan inflasi domestik serta naiknya suku bunga acuan perbankan Bank Indonesia (BI rate) dinilai bukanlah alasan yang menyebabkan perseroan lebih memilih menerbitkan obligasi di pasar global ketimbang di pasar domestik.

Rencananya obligasi global ini akan diterbitkan di bursa efek salah satu negara di kawasan Asia Tenggara dan tidak tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kabarnya, dana hasil penerbitan obligasi ini akan digunakan untuk pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 2x300 MW senilai US$1,2 miliar yang akan dilakukan secara konsorsium dengan mitra bisnis perseroan asal China, Quadiant. (bani)

Related posts