Kemenperin Gandeng Tiga Perusahaan Swasta - Kembangkan Mobil Murah Angkutan Pedesaan

NERACA

Jakarta - Rencana pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mengenai program pengembangan mobil murah untuk angkutan pedesaan nampaknya masih terus berjalan. Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengungkapkan, meski PT INKA dilarang memproduksi selain Kereta Api oleh Menteri BUMN, dia mengaku tengah menggaet tiga perusahaan swasta lokal untuk pengembangan mobil murah pedesaan tersebut.

"Saya mencoba dengan swasta, mudah mudahan ini secara komersial bisa berhasil. Itu kita coba dengan Tawon, Viar, dan Gea tapi kan harus ada kapital yang besar," ungkap MS Hidayat di Jakarta, Selasa (26/11).

Menurut Hidayat, pencarian investor merupakan salah satu hal yang tidak gampang dilakukan mengingat dari segi komersial hal itu akan sangat terbatas di beberapa wilayah saja. "Platform sudah jadi, karena ini salah satu program pemerintah, maka saya membutuh kan investor," ujar Hidayat.

Demi kelancaran perogram tersebut Hidayat mengungkapkan telah siap memberikan insentif-insentif kepada siapa yang bersedia mengembangkan mobil murah untuk pedesaan tersebut.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menyebut, untuk pengembangan program ini perlu pelaku usaha tangguh dan sumber daya manusia handal supaya dapat men-transfer desain dan merancang ini menjadi produk mobil komersial.

Sebab pengembangan mobil murah dan ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan angkutan pedesaan masih memerlukan dukungan penguasaan teknologi, finansial dan jaringan purna jual.

Namun, praktik di lapangan pembangkan angkutan umum murah pedesaan tampaknya bakal semakin berat, menyusul perusahaan yang memegang prototype angkutan pedesaan ini pesimistis menatap pengembangan mobil nasional ini ke depannya.

Dewa Yuniardi, Ketua bidang Marketing dan Komunikasi Asia Nusa yang membawahi PT Tawon Mobil Industri mengatakan pihaknya sebenarnya sudah memproduksi angkutan pedesaan ini namun dalam jumlah yang terbatas.

"Kami tidak memproduksi dalam jumlah besar karena tidak bisa menjual mobil ini secara kredit karena tak mendapat jaminan perbankan, sehingga kami hanya menjual mobil ini secara tunai," ujar Dewa.

Ia memaparkan bahwa kemampuan produksi Tawon cukup memadai yakni dapat memproduksi 200-300 unit mobil setiap bulannya, tapi hal itu tidak dilakukan karena khawatir hasil produksi tidak dapat diserap pasar dan menumpuk digudang.

Lebih jauh, Dewa mengatakan sudah mengusulkan kepada pemerintah agar menjamin fasilitas kredit para konsumen yang meminati produk ini, namun belum memperoleh respon positif sejauh ini. Hingga kini, angkutan pedesaan milik Tawon sudah terjual sekitar 30 unit seluruh Indonesia.

Ia pun kini pesimis bahwa produk yang menjadi harapan mobil nasional (mobnas) ini dapat bersaing di tengah ingar-bingar produk Low Cost Green Car (LCGC) atau mobil murah yang diluncurkan pemerintah belum lama ini. "Kalau sudah begini, kami pun mencoba realistis memandang program ini," ujarnya.

Sementara itu, Agus Purnomo, Direktur Utama PT Industri Kereta Api (INKA) menyatakan bahwa perusahaan pelat merah ini sedang fokus dalam bisnis inti mereka. "Kami sedang fokus dalam bisnis sarana perkeretaapian dan tidak lagi menggarap mobil murah," kata Agus.

Asal tahu saja, INKA merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menjadi salah satu dari empat perusahaan pengembang prototype angkutan pedesaan.

Related posts