Waspadai Ancaman Wabah Penyakit Pada Sektor Perikanan - Jaga Kualitas

NERACA

Jakarta - Ancaman penyakit ikan masih menjadi momok yang menakutkan bagi para petambak maupun pengusaha perikanan budidaya di dunia. Pasalnya dari penyakit itu, berakibat fatal bagi keberlanjutan petambak dan usaha perikanan budidaya. Karena penyakit ini bisa mengancurkan dalam kurun waktu yang relatif singkat. Ancaman ini pun mampu menghancurkan usaha budidaya di suatu wilayah bahkan sebagian besar wilayah negara. Dan penyakit ini biasanya masuk melintasi batas negara (trans-boundary fish diseases) yang terbawa ikan atau produk perikanan yang diperdagangkan antar negara.

“Salah satu kunci keberhasilan perikanan Indonesia di mata dunia kedepan adalah menjaga kualitas perikanan yang baik. Dan untuk menjaga kualitas itu tentu saja dengan ada penanggulangan terhadap penyakit yang mengancam masuk pada perikanan nasional,” kata Sharif C. Sutardjo, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), pada Seminar Nasional Penyakit Ikan Karantina, yang mengangkat tema “Ancaman Penyakit Udang dan Ikan Terhadap Keberhasilan Industrialisasi Perikanan Serta Peningkatan Daya Saing”, di Jakarta, Selasa (26/11).

Menyadari akan bahaya ancaman penyakit ikan, KKP terus melakukan sinergitas dalam pencegahan dan pengendalian penyakit ikan karantina. Diantaranya melalui Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM), Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) dan Ditjen Perikanan Budidaya (DJPB), terus melakukan pemantauan terhadap penyebaran penyakit ikan di seluruh kawasan budidaya. “Selian itu juga KKP melakukan koordinasi dalam melakukan pemberantasan penyakit dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/Kabupaten/Kota, serta para pelaku usaha baik pembudidaya ikan maupun eksportir dan importir ikan di setiap daerah,” terangnya.

Upaya lain yang dilakukan KKP dalam rangka pencegahan ancaman penyakit ikan juga dengan upaya membentuk networking atau membangun jaringan agar mampu mengetahui perkembangan penyakit. Karena diera global ini dengan networking permasalahan bisa dengan mudah teratasi. Dan networking ini dapat memperkuat dan mencegah masuknya ikan di Indonesia. Mencegah masuknya ikan dari dalam maupun luar, maupun wilayah area lain. “Pada acara seminar ini juga sekaligus me-launching website yang dibuat oleh BKIPM sebagai wadah alur informasi tentang perkembangan penyakit ikan,” ucapnya.

Lebih jauh lagi Sharif menjelaskan, adanya penyakit ikan menjadi ancaman serius bagi perikanan nasional dan munculnya penyakit baru (emerging disease) pada budidaya udang yang dikenal dengan nama Early Moratality Syndrome (EMS) atau Acute Hepatopancreatic Necrosis Syndrome (AHPNS). Penyakit jenis ini mampu menyebabkan kematian fatal (100%) udang umur 20 - 30 hari, adapun penyakit ini pertama kali muncul di negara China 2009 kemudian menyebar ke Vietnam pada 2010, Malaysia 2011, Thailand 2012 dan terakhir diketahui telah menyerang usaha budidaya udang di Meksiko pada Mei 2013.

“Atas kemunculan dan penyebaran penyakit itu, dan ancaman bahaya yang ditimbulkan dari penyakit tersebut dan Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 26/KEPMEN-KP/2013 telah menetapkan penyakit EMS/AHPNS sebagai Hama dan Penyakit Ikan Karantina yang diwaspadai untuk tidak masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia melakukan pencegahan dengan melakukan tindakan penolakan terhadap udang yang berasal dari negara-negara yang telah terinfeksi penyakit tersebut,” jelasnya.

Secara materi dampak dari serangan penyakit EMS/AHPNS, sangat luar biasa. Di Vietnam serangan penyakit EMS/AHPNS ini menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp 1 triliun. Di Thailand, untuk membasmi penyakit ini, pemerintah Thailand bersama petani tambak, bahkan harus mengeringkan 90% tambak yang ada di Thailand. Di Malaysia, terjadi penurunan produksi udang akibat serangan EMS sekitar 30.000 ton pada tahun 2011 atau sekitar 42% dari produksi normalnya. Wabah EMS/AHPNS juga telah menyebabkan penurunan ekspor udang ke USA dari negara-negara yang terkena wabah. "Pada tahun 2013 terjadi penurunan ekspor udang dari Thailand sebanyak 23,8% atau senilai US$ 39,4 juta, Vietnam 19,7% atau senilai US$ 15 juta, dan China 28,4% senilai US$ 12,3 juta," ujarnya.

Berkah Perikanan Indonesia

Disisi lain adanya ancaman penyakit yang mendera negara-negara lain, Indonesia yang komoditas ikannya ditetapkan tidak terjangkit oleh penyakit EMS mendapatkan berkah tersendiri. Karena menurunnya produksi udang dinegara lain membuat harga udang semakin mahal dan permintaan udang Indonesia untuk negara-negara lain meningkat.

“Kita bersyukur karena perikanan nasional kita bebas dari penyakit EMS sehingga kita dapat mengekspor udang ke Amerika, Japan, maupun Eropa . Dan ini merupakan berkah yang luar biasa buat perikanan Indonesia. Oleh karenanya kita tidak bisa lengah dan terus berhati-hati terhadap bahaya ancaman penyakit ikan. Karena jika sudah terserang penyakit dapat merugikan, dan untuk memulainya butuh investasi yang besar,” tegasnya.

Di Indonesia sendiri masuknya beberapa jenis ikan menjadi media penyebaran penyakit. Beberapa jenis penyakit berbahaya terbawa masuk ke Indonesia seperti Ichthyophtirius multifiliis, Lernaea cyprinacea, White Spot Syndrome Virus (WSSV), Viral Nervous Necrosis Virus (VNNV), Koi Herpes Virus (KHV), dan Taura Syndrome Virus (TSV), yang biasa disebut sebagai penyakit ikan eksotik.

"Bahkan, disinyalir penyakit Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) yang diketemukan menyerang udang Vanamei di Situbondo pada bulan Mei 2006 pantas diduga sebagai hasil konspirasi atau bentuk bioterorisme untuk menghancurkan Indonesia sebagai produsen udang utama dunia," katanya.

Selain itu juga serangan penyakit ikan juga pernah menghancurkan perikanan di Indonesia. Diantaranya, Virus ikan Koi yang lebih dikenal dengan Koi Herpes Virus yang meluluh lantakan usaha budidaya ikan mas dan koi di beberapa wilayah Indonesia yang menimbulkan kematian massal sampai 95% populasi dan kerugian ekonomi yang cukup besar. Seperti di Jawa Barat penyakit ini menimbulkan kerugian ekonomi sekitar Rp. 100 milyar pada tahun 2002. Diperkirakan sampai dengan tahun 2006 kerugian total berdasarkan kasus yang diketahui, mencapai Rp. 250 milyar. “Selain Indonesia penyakit KHV ini juga telah menyebabkan kerugian ekonomi yang fantastis di Israel pada tahun 2002 – 2003 yang mencapai US $ 4 juta per tahun,” tutupnya.

Related posts