Agresif Ekspansi, Semen Indonesia Butuh Rp6 Triliun

NERACA

Jakarta- Untuk meluluskan ekspansinya di tahun depan, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mengaku telah menyiapkan dana hingga Rp 6 triliun. Pasalnya, selain pembangunan pabrik, perseroan juga akan mengembangkan usahanya di luar negeri seperti Myanmar dan Banglades.

Direktur Utama SMGR, Dwi Soetjipto mengatakan, pihaknya telah menyiapkan dana belanja modal sekitar Rp 4 triliun-Rp 5 triliun. Dari total dana tersebut, sekitar Rp 2 triliun - Rp 3 triliun akan digunakan untuk pembangunan pabrik baru yang ada di Rembang dan Padang. “Kemudian pembangunan dua pabrik penggilingan sekitar Rp 500 miliar-Rp 1 triliun, dan Rp500 miliar untuk distribusi dan transportasi.” katanya di Jakarta kemarin.

Namun, sambung dia, jika dihitung dengan ekspansi ke luar negeri, yaitu Myanmar dan Bangladesh maka total dana yang dibutuhkan sekitar Rp 6 triliun. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut, pihaknya akan mencari penambahan dana dari luar. “Kalau Rp 4 triliun kami dapat penuhi dari internal. Tapi kalau di atas Rp 5 triliun baru cari tambahan dari eksternal,” imbuhnya.

Diketahui, Semen Indonesia merupakan perusahaan semen plat merah yang terus meningkatkan dan mempertahankan daya saing di kancah ASEAN. Salah satunya dengan melakukan penyebaran dan pengembangan pabrik serta packing plant di negara yang dianggap strategis seperti Myanmar dan Vietnam. ”Ke depan Vietnam memiliki posisi strategis. Selain itu kita kembangkan juga ASEAN bagian barat memasuki proses ke Myanmar,” ujarnya.

Targetnya, pada tahun ini perseroan memproyeksikan mampu menghasilkan semen 27 juta ton. Adapun Siam Semen yang menjadi pesaingnya hanya mampu memproduksi 23 juta ton per tahun. Oleh karena itu pihaknya menilai, sejak 2013, Semen Indonesia menjadi yang terbesar di ASEAN. Strategi lain yang juga akan dilakukan perseroan untuk meningkatkan kinerjanya yaitu dengan meningkatkan penjualan di daerah Kalimantan Barat.

Market Share

Tercatat, penyaluran Semen Indonesia di Kalbar mencapai sebesar 10 hingga 15 ribu ton semen per bulan dengan market share mencapai 31%. Sementara kebutuhan semen di Kalbar sendiri sekitar 45 ribu ton per bulan. Selain itu, pertumbuhan penjualan semen di Kalimantan tercatat lebih tinggi di banding pertumbuhan semen di beberapa daerah.

Di wilayah Sumatera misalnya, hanya mengalami pertumbuhan 1,0%, Sulawesi 3,3%, Maluku dan Irian Jaya tumbuh minus 1,5%. Dengan begitu Semen Indonesia masih memimpin pasar semen dalam negeri dengan penguasaan pasar sebesar 43,8%. Kenaikan penjualan semen pada kuartal ketiga 2013 mencapai 15,6%, atau menjadi 18,50 juta ton dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp16 juta ton. Peningkatan penjualan perseroan menjadi 18,50 juta ton hingga September ini didukung dengan peningkatan market share domestik menjadi 43,8% dari tahun lalu sebesar 40,9%.

Sementara untuk penjualan ekspor meningkat secara signifikan sebesar 485% menjadi 268,93 ribu ton dibanding tahun 2012 sebesar 45,95 ribu ton. Alhasil, perseroan mencatakan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp3,9 triliun atau tumbuh 15,04% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,39 triliun. Kenaikan laba tersebut antara lain ditopang oleh pertumbuhan pendapatan sebesar 27,3% menjadi Rp17,39 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp13,66 triliun.

Selain meningkatnya market share, kata Dwi, kenaikan ini didukung beroperasinya dua pabrik semen perseroan. “Peningkatan penjualan semen yang melampaui pertumbuhan industri juga didukung beroperasinya Pabrik Tuban IV dan Tonasa V.” imbuhnya. (lia)

Related posts