Masih Ada Peluang IHSG Bergerak Menguat

NERACA

Jakarta – Mengakiri perdagangan Selasa sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok 99,542 poin (2,30%) ke level 4.325,261. Sementara Indeks LQ45 ditutup terjun bebas 23,382 poin (3,23%) ke level 700,213. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar menghambat penguatan indeks BEI, ditambah aksi maraknya aksi jual yang dilakukan investor asing dan domestik makin membuat indeks jatuh lebih dalam.

Kata analis PT Anugerah Sekurindo Indah, Bertoni Rio mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar menjadi sentimen negatif terhadap indeks BEI, “Dalam situasi saat ini, 'mood' pelaku pasar cenderung melakukan jual sehingga IHSG kembali terkoreksi, aksi itu didorong dari sentimen pengurangan (tapering-off) stimulus keuangan the Fed,”ujarnya di Jakarta, Selasa (26/11).

Menurut dia, sentimen eksternal itu membuat dolar AS melonjak sehingga menekan mata uang Asia termasuk rupiah dan efeknya ke pasar saham. Pelaku pasar asing juga masih cenderung mengambil posisi lepas saham pada Selasa. Tercatat dalam data transaksi saham di BEI, pelaku pasar asing membukukan jual bersih (foreign net sell) senilai Rp54,541 miliar .

Bertoni menambahkan secara teknikal IHSG, Rabu berpeluang menuju level 4.200 poin, namun setelah itu diharapkan indeks BEI dapat berbalik arah. Hal senada juga disampaikan analis HD Capital, Yuganur Wijanarko, pelemahan nilai tukar rupiah diatas level Rp11.750 per dolar AS menyebabkan pelaku pasar kembali dalam aksi lepas saham sehingga IHSG BEI kembali terkoreksi cukup dalam, “Dalam kondisi pasar yang cenderung fluktuatif turun, pelaku pasar direkomendasikan untuk melakukan transaksi jangka pendek seraya memantau potensi penguatan secara teknkal terhadap beberapa saham,”ujarnya.

Pada perdagangan kemarin, saham-saham berkapitalisasi besar jadi sasaran aksi jual. Rata-rata koreksi yang terjadi di seluruh indeks sektoral cukup dalam, lebih dari dua bahkan ada yang sampai tiga persen. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 146.509 kali pada volume 7,109 miliar lembar saham senilai Rp 8,515 triliun. Sebanyak 58 saham naik, sisanya 209 saham turun, dan 69 saham stagnan.

Aksi ambil untung membuat bursa-bursa Asia terjebak di zona merah menutup perdagangan. Bursa saham Jepang melemah paling dalam gara-gara nilai tukar yen yang menguat terhadap dolar AS. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Matahari (LPPF) naik Rp 650 ke Rp 11.600, Indocement (INTP) naik Rp 650 ke Rp 18.900, Minna Padi (PADI) naik Rp 350 ke Rp 1.970, dan Mayora (MYOR) naik Rp 200 ke Rp 28.200.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Unilever (UNVR) turun Rp 1.800 ke Rp 26.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.500 ke Rp 29.100, United Tractor (UNTR) turun Rp 1.450 ke Rp 19.450, dan Asahimas (AMFG) turun Rp 1.300 ke Rp 6.250.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI masih dizona merah dan ditutup melemah 44,439 poin (1,03%) ke level 4.290,364. Sementara Indeks LQ45 jatuh 9,134 poin (1,26%) ke level 714,461. Aksi jual membuat sembilan indeks sektoral di lantai bursa 'kebakaran' sehingga IHSG tetap merah. Aksi jual ini banyak dilakukan oleh investor asing.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 67.413 kali pada volume 2,059 miliar lembar saham senilai Rp 2,406 triliun. Sebanyak 36 saham naik, sisanya 173 saham turun, dan 79 saham stagnan. Pergerakan bursa-bursa di Asia masih sama seperti diawal, bergerak variatif sebagian di zona merah dan sebagian lagi di zona hijau. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Astra Agro (AALI) naik Rp 450 ke Rp 22.450, Sarana Menara (TBIG) naik Rp 250 ke Rp 6.500, Indocement (INTP) naik Rp 200 ke Rp 18.450, dan Indosat (ISAT) naik Rp 150 ke Rp 3.800.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Unilever (UNVR) turun Rp 700 ke Rp 27.100, Asahimas (AMFG) turun Rp 500 ke Rp 7.050, United Tractor (UNTR) turun Rp 300 ke Rp 20.600, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 250 ke Rp 30.350.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 5,25 poin atau 0,12% menjadi 4.329,55. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,99 poin (0,14%) ke level 722,59,”Laju penguatan indeks BEI tertahan oleh masih melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada.

Dia menambahkan, minimnya sentimen positif dari bursa global juga mendorong beberapa pelaku pasar di dalam negeri mengambil posisi lepas saham. Kendati demikian, lanjut dia, peluang IHSG untuk bergerak naik masih ada meski terbatasi dengan adanya aksi jual. Laju IHSG pun masih akan mendatar dengan kecenderungan mencoba untuk bertahan di area positif.

Sementara itu, Tim Analis Teknikal Mandiri Sekuritas dalam kajiannya menambahkan bahwa dari dalam negeri, investor mengharapkan sentimen "window dressing" dapat memberikan pengaruh positif bagi pergerakan Indeks BEI.

Namun di sisi lain, paparnya, rencana The Fed untuk mengurangi stimulus pada Desember mendatang, bisa mempengaruhi aliran dana asing yang masuk ke pasar modal domestik. Bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 31,20 poin (0,13%) ke level 23.715,65, indeks Nikkei-225 turun 115,47 poin (0,75%) ke level 15.501,56, dan Straits Times melemah 4,92 poin (0,17%) ke posisi 3.175,26. (bani)

Related posts