Industri Keuangan Syariah Akan Terus Tumbuh - Prediksi OJK

NERACA

Jakarta - Industri keuangan syariah nasional menurut Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Rahmat Waluyanto, saat ini sedang merangkak tumbuh. Dia menjelaskan hal ini terlihat jelas dari aset industri keuangan syariah yang semakin lama semakin banyak dan juga meluasnya produk yang digunakan oleh masyarakat.

“Saat ini sudah banyak diluncurkan asuransi dan reasuransi syariah, dana pensiun syariah, pegadaian syariah, modal ventura syariah dan lembaga mikro syariah yang menjadi produk alternatif investasi,” kata Rahmat di Jakarta, Senin (25/11).

Lebih lanjut Rahmat menjelaskan, ada beberapa faktor yang bisa untuk meningkatkan industri keuangan syariah, antara lain, pengaturan dan pengawasan yanag efektif. Selain itu, inovasi produk dan proses bisnis untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

“Selanjutnya, pemanfaatan teknologi informasi juga bisa menjadi pendukung, lalu dukungan sumber daya manusia (sdm) dan permodalan yang memadai. Terakhir pemahaman masyarakat mengenai keuangan syariah,” imbuh dia.

Selain itu, dia mengatakan, OJK telah menjalin kerjasama dengan pemerintah. “Kami juga telah meluncurkan cetak biru literasi keuangan yang disaksikan langsung oleh Presiden SBY,” tutur dia.

Sementara itu, untuk target pertumbuhan aset keuangan syariah tahun depan. OJK menargetkan aset akan ada dikisaran 40%. Kepala eksekutif pengawasan industri keuangan non bank (IKNB) OJK, Firdaus Djaelani mengatakan, perlu adanya kerjasama antar lembaga keuangan agar target tercapai.

“Selain itu agar terciptanya interkoneksi lembaga keuangan, ini dilakukan karena penetrasi keuangan syariah di Indonesia masih terbilang kecil,” kata Firdaus.

Menurut Firdaus, pondasi transaksi ini mengharuskan lembaga jasa keuangan syariah harus bisa mengenali siapa saja mitra yang akan bekerjasama. “Selain itu juga jenis usaha rekan kerjanya harus dikenali, karena hal tersebut memastikan terjadinya hubungan kerjasama yang dekat antar lembaga keuangan syariah dan menghindarkann terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” imbuh dia.

Dalam lima tahun terakhir, lembaga keuangan syariah telah tumbuh dengan signifikan. Pada 2007, aset perbankan syariah dan industri keuangan non bank syariah baru mencapai R38,4 triliun. Jumlah itu meningkat pada tahun lalu menjadi Rp247,2 triliun. Itu terdiri dari aset perbankan syariah Rp199,7 triliun dan IKNB syariah sebesar Rp47,5 triliun. "Artinya secara total aset lembaga keuangan syariah di Indonesia telah meningkat sebanyak 6,5 kali," jelas dia.

Namun, Anggota Komisi XI DPR RI Nusron Wahid mengatakan untuk membantu mengembangkan industri keuangan nasional, masih membutuhkan riset yang mendalam. Menurut dia, hal tersebut bisa menghilangkan anggapan bahwa hukum syariah yang identik dengan kuno dan ketinggalan zaman.

Menurut dia, produk baru yang dibuat seharusnya bisa diterima oleh seluruh kalangan masyarakat. Dia menilai, penetrasi industri keuangan syariah di Indonesia masih terbilang rendah, meskipun Indonesia juga dikenal sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim.

Nusron mencontohkan, nilai kapitalisasi pasar perbankan syariah dalam negeri hanya sebesar Rp2.763 triliun, menurut dia angka itu masih belum ideal, mengingat jumlah penduduk muslim Indonesia mencapai 151,79% dibanding jumlah muslim di Timur Tengah.

“Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat dengan adanya produk syariah, peran yang harus dilakukan DPR dalam membangun interkoneksi keuangan syariah adalah membuat regulasi, sosialisasi pembangunan interkoneksi, penjaminan dan pengawalan program," ungkap dia. [sylke]

Related posts