Pilot Asing Wujud Jajahan Baru Masa Kini - PROSES REKRUTMEN DI GARUDA INDONESIA

Jakarta – Masih ingatkah kasus batalnya sejumlah jadwal penerbangan Garuda pada akhir tahun lalu, yang konon disebabkan karena terjadinya mogok kerja pilot Garuda akibat persoalan internal manajemen? Kali ini potensi kekisruhan ditubuh manajemen Garuda mulai terlihat kembali, namun persoalannya sekarang tertuju pada kebijakan manajemen perekrutan pilot asing dan penerapan pilot kontrak yang dinilainya sebagai tindakan diskriminasi.

NERACA

Pengamat kebijakan publik, Ichsanuddin Noorsy, mengatakan langkah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang saat ini banyak merekrut pilot asing dengan pemberian gaji yang lebih besar menunjukkan mental Indonesia yang biasa terjajah.

"Ini kan menunjukan mental terjajah bangsa Indonesia. Apa yang dilakukan Garuda sebenarnya hanya mencontoh yang sudah banyak dilakukan oleh perusahaan lain di Indonesia," ujarnya kepada Neraca di Jakarta, Minggu (17/7).

Menurut dia, langkah Garuda merekrut pilot asing menuai kritik dan keprihatinan yang sangat terhadap kebanggaan maskapai penerbangan nasional ini. Pasalnya, kemajuan Garuda dipastikan sulit berkembang jika manajemen yang dipercayakan kembali tidak becus mengurusi menangani rekrutmen pilot.

Ichsanuddin mengatakan, penggunaan pilot asing merupakan perilaku yang tidak menghargai potensi anak bangsa sendiri ketimbang menggunakan pekerja asing. Alasannya orang asing masih dianggap memiliki kemampuan lebih baik.

Kemudian kelemahan lainnya, pemerintah juga tidak bisa campur tangan akan persoalan ini karena merupakan kebijakan pihak perusahaan. Sementara Ketua Asosiasi Pilot Pesawat Garuda Indonesia Stephanus Gerardus pernah mengatakan, pilot asing masuk ke Garuda sejak Juni 2010 dan alasan manajemen Garuda, keberadaan pilot asing hanya dipertahankan selama satu tahun. Namun fakta yang ada di lapangan, hingga sekarang pilot asing masih dipergunakan.

Sesuai undang-undang ketenagakerjaan, kata Stephanus, Garuda seharusnya lebih mengutamakan tenaga kerja dari dalam negeri. Menurut dia, keberadaan pilot asing telah menimbulkan dan keresahan karena adanya kesenjangan gaji yang tinggi dengan pilot lokal.

”Seharusnya keberadaan pilot asing juga diikuti dengan penyetaraan gaji bagi pilot lokal dan karena itu, pihaknya meminta ada solusi yang sama-sama menguntungkan yang tidak menyakiti salah satu pihak,"tegasnya.

Patut diketahui, saat ini jumlah pilot yang dimiliki Garuda sekitar 830 orang. Sedangkan pilot asing yang dikontrak berjumlah sekitar 40 hingga 60 orang. Semestinya penggunaan pilot asing bisa dihindari, karena sudah terlalu banyak dan hal yang dikhawatirkan timbulnya kecemburuan,apalagi ditambah dengan perbedaan gaji yang lumayan jauh.

Sementara KetuaForum Transportasi Udara Suharto AbdulMajid menyatakan, persoalan eksodusnyapara pilotGarudasebenarnya sudah lama terjadi,bahkan sejak15 tahun silam. "Ini kan sebenarnya masalah kesejahteraan bercampur nasionalisme. Pilot normal mungkin gajinya Rp10 juta-Rp 15 juta, tapi kalau dia bekerja untuk maskapai asing bisa dua kali lipat sekitar Rp30-40 juta," ungkap Suharto.

Kurang Menjanjikan

Menurut dia, di satu sisi, renumerasi pilot juga kurang menjanjikan sehingga para pilot lari keluar negeri. Namun di lain pihak, kebutuhan pilot nasional meningkat pesat sejak medio 2000. "Pilot asing wajar jika minta gaji besar, karena mereka direkrut. Karena Garuda yang butuh. Logikanya begitu. Tapi ini menjadi tidak wajar jika dikaitkan dengan kecemburuan yang melanda pilot-pilot lokal," terang Lektor Manajemen Transportasi Sekolah Tinggi Manajemen Transport (STMT) Trisakti tersebut.

Secara kultur, pilot asing yang direkrut Garuda akan pasang harga tinggi. Mereka tak mau dibayar dengan harga Indonesia. Makanya, lanjut Suharto, perlunya regulasi yang ketatdari Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Luar Negeri. Untuk pilot-pilot lokal, menurut dia, perlu lebih ditanamkan lebihjiwa nasionalisme pembinaan yang lebih baik.

Menurut dia, persoalan gaji pilot Garuda dan nasionalisme para pilot tersebut harus berjalan seiring. Namun,hal berbeda diungkapkanpengamat dari Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit. "Sepengetahuan saya, pilot Garuda memiliki gaji profesional yang sama, karena keahliah dan sertifikasinya sama. Mungkin yang dimaksud adalah take home pay, karena adanya tambahan tunjangan untuk pilot asing misalnya untuk perumahan dan overseas paid leave," ungkapnya.

Mogok Kerja

Desakan agar manajemen Garuda memberikan jalan keluar dan saling menguntungkan, mendapatkan ancaman mogok kerja dari Asosiasi Pilot Garuda (APG), bila manajemen PT Garuda Indonesia (Persero) tidak mencari solusi terhadap adanya ketimpangan gaji antara pilot lokal dengan pilot asing. "Jajaran direktur dan komisaris harus menyelesaikan masalah ini selambat-lambatnya dua minggu," kata Said Damanik, pengacara Asosiasi Pilot Garuda.

Said menjelaskan, pilot asing yang berstatus kontrak, baik captain maupun first officer (fo) memperoleh fasilitas serta gaji dua kali lipat lebih besar dibandingkan pilot lokal. Perolehan fasilitas ini dianggap sangat diskriminatif.

Terjadinya ketimpangan gaji dipicu oleh harga kontrak pilot asing yang mengikuti standar internasional. Di sisi lain, harga kontrak pilot lokal tidak disesuaikan dengan standar tersebut. “Padahal, pendidikan dan pengalaman kami sama,"tuturnya.

Keberadaan pilot asing, kata dia, dipicu oleh ekspansi Garuda yang tidak dibarengi dengan penambahan sumber daya manusia. Oleh sebab itu, perusahaan memutuskan mengontrak pilot asing. Masalah ini sudah disampaikan kepada manajemen PT Garuda, namun tidak pernah mendapatkan solusi yang tepat.

Sebelumnya, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memutuskan mempekerjakan pilot dengan sistem kontrak, termasuk merekrut pilot asing yang telah siap untuk mengoperasikan pesawat-pesawat baru. Disaat yang sama, perseroan secara bertahap mengakhiri kontrak dengan pilot asing.

Dirut PT Garuda Indonesia Tbk Emirsyah Satar mengatakan, selain pemutusan kontrak dengan pilot asing, perseroan juga memperkenankan para pilot yang dikontrak untuk mengakhiri kontrak lebih cepat sebelum jatuh tempo. ”Untuk kontrak pilot asing akan mulai berakhir November 2011,”jelasnya

Menyinggung soal kesejahteraan pilot berstatus karyawan tetap dengan pilot asing yang dikontrak, kata Emir, hal ini tidak dapat diperbandingkan secara langsung mengingat pilot asing yang dikontrak pembayaraannya berupa paket termasuk production allowanced dan keuntungan lainnya.

Sedangkan untuk pilot yang berstatus karyawan tetap selain mendapatkan penghasilan tetap, perseroan juga memberikan berbagai benefit seperti asuransi kesehatan, uang masa kerja, uang pensiun, insentif dan keuntungan lainnya. iwan/vanya/munib/cahyo/bani

BERITA TERKAIT

BEI Gelar Roadshow Pasar Modal Ke Tiongkok - Bidik Lebih Banyak Investor Asing

NERACA Jakarta  - Meskipun penetrasi pasar modal di dalam negeri masih rendah, hal tersebut tidak membuat PT Bursa Efek Indonesia…

Mitra Keluarga Baru Serap Dana IPO 37%

PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) belum menyerap sepenuhnya dana hasil initial public offering (IPO). Sisa dana tersebut juga masih…

BI : Kredit Baru Masih Melambat

NERACA Jakarta - Bank Indonesia melalui survei perbankan melihat pertumbuhan kredit baru perbankan pada triwulan III 2017 masih melambat, terutama…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

MASYARAKAT DIMINTA HATI-HATI BERTRANSAKSI BITCOIN - BI: Bukan Alat Pembayaran Sah di RI

Jakarta-Bank Indonesia menegaskan Bitcoin bukan merupakan alat pembayaran yang sah untuk digunakan di Indonesia. Masyarakat diminta untuk tidak memakai Bitcoin…

Industri Pariwisata Butuh Revolusi Mental

NERACA Padang –Kekayaan alam pariwisata di Indonesia cukup menjanjikan, namun ironisnya belum dimanfaatkannya secara optimal dan ditambah hambatan yang ada…

INISIATIF PELAKU INDUSTRI ASURANSI NASIONAL - Perlunya Daftar Hitam Asuransi Cegah “Fraud”

Jakarta-Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) berencana menerbitkan daftar hitam nasabah untuk mengurangi kecurangan (fraud) dalam praktik usaha perasuransian. Ini mirip…