PGN Siap Optimalkan Infrastruktur Gas - Merger Dengan Pertagas

NERACA

Jakarta – Penggabungan antara PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Pertamina Gas (Pertagas) dinilai akan mengoptimalkan pengembangan infrastruktur gas dan pemanfaatannya. Selain itu, perseroan menyatakan siap mengakuisisi anak usaha Pertamina ini jika pemegang saham menyetujui aksi korporasi ini.

Menurut Sekretaris Perusahaan PT Perusahaan Gas Negara Tbk Heri Yusuf, akan lebih besar manfaat perseroan mengakuisisi Pertagas dibandingkan sebaliknya, “Prinsipnya, perseroan akan terus memaksimalkan setiap peluang untuk meningkatkan pemanfaatan gas bumi di Indonesia. Konsolidasi perusahaan gas milik negara merupakan salah satu opsi terbaik agar pengembangan gas bumi menjadi maksimal”, ujarnya di Jakarta, Senin (25/11).

Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo menilai, rencana penggabungan antara Pertagas dan PGAS dapat memberikan kepastian percepatan pembangunan pipa. Namun, pihaknya akan menyusun road map mengenai suplai dan peta konsumen diseluruh Indonesia hingga 2030.“Rencana penggabungan merupakan langkah yang bagus karena kepastian mempercepat pembangunan pipa. Kita sedang menyusun map sampai 2030, sehingga akan diketahui dimana prioritasnya”, ujarnya.

Namun, dia menjelaskan bahwa rencana penggabungan kedua perusahaan ini, harus mendapatkan kesepakatan bersama dari yang terlibat. Adapun, dalam penggabungan dua perusahaan tersebut yang didahulukan kepentingan negara.“Sehingga, dalam menyusun road map hingga 2030 diperlukan pengembangan yang seimbang. Sehingga, dipastikan kedua perusahaan ini tetap dapat berbisnis atau menjalankan pekerjaannya dengan baik”, katanya.

Pihak Pertamina sendiri telah mendukung wacana Menteri BUMN Dahlan Iskan mengenai penggabungan ini. Sebelumnya, Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan pihaknya telah menuntaskan kajian detail merjer antara PGAS dan Pertagas, selaku anak perusahaan.

Bahkan, kajian sudah diserahkan kepada pemegang saham (Menteri BUMN) pada akhir 2012 lalu. Menurut dia, Menteri BUMN memiliki kewenangan untuk memutuskan merger antara Pertagas dengan PGN. Jka disetujui pemegang saham, penggabungan ini menjadi langkah strategis karena anak perusahaan Pertamina ini akan makin meningkatkan bisnis Pertamina.

Selain itu, dia menilai penggabungan tersebut akan memperkuat industri gas nasional. Pertamina akan menerapkan skema pemakaian pipa bersama (open access) pada seluruh pipa gas yang dibangun baik sebelum ataupun setelah merger.“Hal ini sebagai wujud kepatuhan terhadap regulasi yang telah ada yang diyakini baik untuk kepentingan negara dan menguntungkan semua pihak, baik produsen gas di sektor hulu, transporter maupun konsumen”, ujarnya.

Hingga saat ini perseroan telah membangun 6.000 km pipa gas bumi di berbagai wilayah di Indonesia. Sebagai BUMN, perseroan memiliki pengalaman dan kemampuan dalam mendorong pemanfaatan gas bumi nasional.Perseroan juga telah membangun infrastruktur gas bumi lainnya seperti Floating Storage Regatification Unit (FSRU) dan Mobile Refueling Unit (MRU) untuk mendukung konversi BBM ke gas bumi bagi industri dan sektor transportasi. (nurul)

Related posts