Dana Asing Diprediksi Tidak Keluar dari Negara Berkembang - Tapering Off The Fed

NERACA

Jakarta -Sekretaris Komite Ekonomi Nasional, Aviliani mengatakan, seandainya tapering off (pengurangan stimulus) oleh Bank Sentral AS atau The Fed dilakukan, maka dana asing diperkirakan tetap berada di emerging countries atau negara-negara berkembang.

Menurut Aviliani, pada saat ini telah terjadi perbedaan yang mendasar antara pertumbuhan perekonomian di negara-negara maju yang stagnan dengan pertumbuhan di negara-negara berkembang yang melesat. "Saat ini hanya menunjukkan sedikit saja dana asing yang keluar dari Indonesia meski rupiah menunjukkan tanda-tanda pelemahan terhadap dolar AS," ungkapnya di Jakarta, Senin (25/11).

Aviliani memperkirakan bahwa rentang rupiah akan berkisar antara Rp10.500-12.000 per dolar AS dan diperkirakan tetap demikian sampai adanya "tapering" atau tidak yang diprediksi bakal ada kepastian mengenai hal tersebut pada 2014 mendatang. Sebelumnya, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim menyatakan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara terdampak dari pengumuman akan dilakukannya tapering off.

"Negara lainnya yang terdampak oleh pengumuman potensi terjadinya `tapering` kebijakan QE (`quantitative easing`), khususnya negara Thailand, Malaysia, dan Indonesia," kata Yong Kim, pekan lalu. Menurut dia, selain dipengaruhi dampak tapering off, keluarnya arus modal dari negara-negara tersebut juga didasari kelemahan dasar seperti adanya permasalahan defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal yang relatif tinggi yang mesti dihadapi oleh mereka.

Dia juga menyatakan bahwa rata-rata telah terjadi kenaikan dalam tingkat suku bunga di negara-negara itu dalam merespon dampak dari pengumuman tapering off. Yong Jim berpendapat bahwa saat tapering off benar-benar terjadi, maka tingkat suku bunga diperkirakan akan terus naik dan mengakibatkan persoalan di negara-negara berkembang.

Sebelumnya, The Fed pada 30 Oktober 2013 memutuskan untuk mempertahankan program stimulusnya tak berubah seperti yang diharapkan, namun mengatakan bahwa kebijakan fiskal pemerintah AS menghambat perekonomian. [ardi]

Related posts