REI Menilai Perumahan Jadi Lokomotif Pertumbuhan Nasional

NERACA

Jakarta - Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso mengharapkan sektor perumahan dapat menjadi lokomotif pertumbuhan nasional yang terus melaju di Indonesia selama beberapa tahun terakhir.

"Kami berharap dukungan penuh pemerintah dan otoritas moneter untuk memajukan sektor perumahan agar dapat berkembang jauh lebih besar lagi dan tetap menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional," kata Setyo Maharso dalam acara Musyawarah Nasional REI 2013 di Jakarta, Senin (25/11).

Menurut dia, dalam sekitar dua atau tiga dekade terakhir, sektor perumahan memiliki peran yang semakin besar terhadap perekonomian suatu negara termasuk Indonesia. Bahkan, ujar dia, beberapa penelitian di dunia juga menyebutkan bahwa peranan sektor perumahan terhadap ekonomi suatu negara khususnya produk domestik bruto dinilai sangat signifikan.

"Pertanyaan yang muncul jika sektor perumahan berperan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, seberapa besar atau berapa persen pertumbuhan real estat akan dapat memicu pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

REI bekerjasama dengan Universias Indonesia mengeluarkan kajian yang menyatakan bahwa ditinjau dari pengeluaran konsumsi sektor bangunan, maka sektor perumahan Indonesia berkontribusi sekitar 26%-28%. "Pusat Penelitian Universitas Indonesia menyimpulkan bahwa peranan dan kontribusi sektor perumahan di Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi cukup tinggi," ucap Setyo.

Sebelumnya, REI menginginkan pembangunan sektor perumahan di Tanah Air dapat berkelanjutan sehingga bisa menguntungkan semua pemangku kepentingan di dalam sektor tersebut.

"Kami ingin agar bisa berkelanjutan sehingga pengembang bisa membangun, menjual, dan membangun kembali," kata dia.

Menurut Setyo, bila pembangunan perumahan tidak berkelanjutan maka pengembang hanya akan bisa membangun tetapi tidak dapat menjual. Untuk itu, ujar dia, pemerintah seharusnya berperan aktif agar semakin banyak masyarakat yang terbantu untuk dapat membeli rumah yang dibangun pengembang.

"Kalau kami membangun tetapi bila dijual tidak laku maka itu sama juga bohong," tambah dia. Setyo juga menginginkan agar tenor kredit perumahan terutama bagi MBR dapat diperpanjang hingga 25 tahun. [ant]

Related posts