Jaya Agra Wattie Revisi Target Produksi

NERACA

Jakarta- Masih melemahnya harga komoditas dan belum pulihnya kondisi global disebut sebut menjadi alasan PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA) merevisi target kinerjanya di tahun ini. Untuk estimasi produksi minyak kelapa sawit (CPO) misalnya, perseroan merevisi sebesar 26% menjadi 38.087 ton dari target awal tahun sebesar 51.168 ton. Begitu juga dengan produksi kernel, dari sebelumnya yang diestimasikan mencapai 9.848 ton menjadi 7.230 ton.

Informasi ini disampaikan manajemen perseroan dalam keterangan resminya di Jakarta akhir pekan kemarin. Disebutkan, penurunan tersebut disebabkan produksi TBS kebun inti diestimasikan turun sebesar 22% dari 164.750 ton menjadi 128.687 ton akibat dampak musim kemarau panjang dua tahun lalu. Pembelian TBS pun diperkirakan turun dari pihak ketiga sebesar 30% dari 72.500 ton menjadi 50.750 ton karena turunnya pasokan dari pihak ketiga.

Sementara untuk estimasi produksi karet turun sebesar 47% dari 26.960 ton menjadi 14.306 ton. Hal ini ditengarai karena produksi karet inti diestimasikan juga akan mengalami penurunan sebesar 11% dari 8.305 ton di awal tahun 2013. Pasalnya, proses penyadapan getah karet diperkirakan tidak akan maksimal karena curah hujan yang tinggi.

Penurunan proyeksi ini juga disebabkan penurunan pembelian karet dari pihak ketiga sebesar 11.735 ton atau 63% dari 18.655 pada awal 2013. Proyeksi tersebut direvisi menjadi 6.920 ton disebabkan pabrik karet remah perseroan di Kalimantan Selatan baru mulai beroperasi pada pertengahan tahun ini. Padahal awalnya, perseroan memperkirakan dapat mengoperasikan pabrik tersebut pada kuartal pertama 2013.

Harga jual rata-rata karet pun direvisi sebesar 16% dari Rp31.683 menjadi Rp26.514. Hal ini sesuai dengan harga jual rata-rata perseroan sampai dengan November 2013. Begitu juga dengan asumsi jual rata-rata CPO dari Rp8.640 per kg menjadi Rp7.800, atau turun 10% sesuai dengan harga jual rata-rata perseroan sampai dengan November 2013.

Penurunan harga jual komoditas oleh perseroan ini dinilai sesuai dengan penurunan harga komoditas dunia. Mengingat belum pulihnya kondisi perekonomian Eropa. Oleh karena itu, selain merevisi proyeksi produksi, PT JA Wattie Tbk juga merevisi target penjualannya. Diproyeksikan, penjualan bersih perseroan pada tahun ini hanya sebesar Rp637,5 miliar atau 47% dari Rp1,3 triliun menjadi Rp725,3 miliar. Sehingga akan berpengaruh terhadap laba kotor perseroan yang ditaksir menurun sebesar Rp156 miliar atau 43%.

Dengan begitu laba bersih setelah pajak diproyeksikan sebesar Rp93,4 miliar atau 55%, dari Rp170 miliar menjadi Rp76,6 miliar. Revisi ini dilakukan juga karena kerugian selisih kurs yang diderita perseroan mencapai Rp17 miliar. Pasalnya, perseroan masih memiliki utang dalam mata uang asing mencapai US$9,3 juta sampai dengan akhir tahun 2013 ini, dengan perhitungan kurs rupiah terhadap dolar AS melemah sekitar Rp1.330 atau 14% dari awal tahun 2013. (lia)

Related posts